Karya: NANA LALONG
Ketika senja merapat, satu dua kendaraan bermotor memasuki pantai. Gebyar musik terdengar dari pub-pub. Orang-orang itu memarkir kendaraan. Ada yang lekas melipir masuk melalui pintu yang diberi hias lampu warna-warni.
Di ruang remang-remang itu, mereka tak sabar menunggu hiburan diselingi derai tawa, asap rokok, denting gelas, dan joget ria gadis-gadis cantik yang gantian berkaroke. Diam-diam ada paket ‘wisata malam’ di tepian kampung ini. Kampung pesisir.
Gadis-gadis pub mulai berdandan. Mereka beradu gegas seperti nelayan yang siap melaut. Sebentar lagi mereka menemani tamu-tamu menenggak alkohol. Menyanyikan lagu-lagu nostalgia diiring organ tunggal. Mendendangkan lagu-lagu girang berirama dangdut hingga jelang subuh.
Jika engkau datang lebih awal ke pantai ini, pesona senja akan membuatmu kagum. Ada yang sayang untuk dilewatkan pada pantai seindah ini.
Berbaur dengan pengunjung, gadis-gadis pub menyaksikan berlalunya senja di atas batu yang bertebaran di pantai. Batu-batu yang menginspirasi pemberian nama untuk pantai ini, Cepi Watu.
Gadis-gadis itu menikmati udara segar sepanjang bibir pantai. Betis-betis yang licin dan mengkal berkilau di atas pasir basah. Dengan CU (celana umpan) seolah mereka membiarkan kemolekan betis dan paha jenjangnya disepuh cahaya senja yang merah keemas-emasan. Angin senja yang berdesis lembut seperti ikut memanjakan betis-betis itu. Hm…
Akan ada lelaki yang suit-suitan menggoda. Namanya saja suit-suitan, tak perlu digubris. Seperti anjing menggonggong, kafilah berlalu. Gadis-gadis itu tak pernah mempan oleh suit-suitan. Memangnya burung apa?
Gelap akan turun pelahan hingga membungkus pantai itu dengan sempurna. Saat itulah gadis-gadis berbetis licin dan mengkal meninggalkan pantai. Deru musik seperti memberi pesan mendesak. Ada yang harus mereka mulai di saat orang lain mengakhiri. Ada yang harus mereka raih di saat orang lain usai menghitung raihannya sehari. Mereka bagai pelaut di tepian itu yang bergegas ketika senja menjelang dan malam segera datang.
Lantas, ada yang bangkit di tepian ini setelah bola mentari menghilang di cakrawala. Di sini orang tidak saja datang menikmati semburat cahaya senja yang keemas-emasan dan berkilau-kilauan. Mereka hadir juga untuk sebentar menunggu datangnya malam.
Senja bahkan diharapkan cepat berlalu oleh sebagian lelaki yang tiap kali datang. Gadis-gadis berbetis licin dan mengkal mengharapkan hal serupa. Sore itu mereka duduk di atas bebatuan sambil memandang ke barat. Mentari memancarkan sinar emas kemerah-merahan. Namun, gelap tak pernah benar-benar sempurna. Malam tak kunjung tiba.
Ada yang aneh pada senja kali ini. Belum ada pengunjung yang datang. Tak seperti biasanya. Tak ada lalu lalang pria yang menikmati kemuning senja sebelum masuk dalam cahaya remang-remang dan malam turun dengan sempurna menelan pucuk-pucuk kelapa, pepohonan, rumah-rumah warga, dan juga belang di hidung para lelaki.
***
Tiba-tiba ada yang lebih menarik dari cahaya senja yang keemas-emasan. Dan itu adalah pria yang menyesap secangkir kopi. Satu-satunya pria yang muncul sore itu.
Ketiga gadis kita penasaran sambil mengawasi gerak-gerik lelaki itu. Lelaki yang merayakan senja sambil menyesap kopi paling nikmat, seolah tidak ada lagi yang lebih nikmat.
Ketiga gadis kita melihat pada lelaki itu. Barangkali mereka rindu menyeduh kopi untuk kekasihnya yang entah dimana. Bukankah kopi ternikmat di jagat ini adalah kopi bikinan para kekasih? Yah, kopi bikinan pacar sendiri. Sekaligus gadis-gadis itu ingat pada jemarinya. Jemari yang tiap malam membuka botol bir dan menyuguhkannya untuk lelaki yang mengusir sepi dan menepis galau di tepian ini. Sesekali jemari itu mengusap wajah lelaki yang tak dikenal tetapi begitu haus belaian. Dasar jablai.
Ingin rasanya menyeduh kopi untuk lelaki itu. Menyesapnya dari tempurung yang sama sambil dua pasang mata memandang sunset. Namun lelaki itu hanya asyik dengan tempurung kopinya. Tak dihiraukannya tiga gadis kita. Tak ada suit-suitan. Ini lelaki yang lain dari laki-laki yang pernah dijumpai ketiga gadis kita di tepian itu. Lelaki itu bikin penasaran saja.
Lama mereka menatapnya hingga perut keroncongan. Isyarat lirih di antara desau ombak dan gaduh musik yang tak pernah jeda sejak dibuka beberapa menit lalu. Tak mudah mengabaikan isyarat selirih itu. Gadis-gadis itu lapar. Mereka segera meninggalkan pantai dengan hati berpaut pada lelaki itu.
Hmmm ada saatnya mereka bosan dengan laki-laki anonim yang datang saban malam. Lelaki yang tak pernah membangkitkan rasa rindu. Lelaki yang mereknya sama saja. Menenggak alkohol, rokok, menggoda cewek, dan pulang jelang subuh. Lelaki yang tak membuat penasaran karena tingkahnya enteng ditebak.
Gelegar musik terus memamerkan koleksi lagu terbaik. Goyang dumang didengarkan berkali-kali. Belum juga ada pengunjung. Lampu remang-remang terus saja berkedip. Belum ada wajah tamu yang betah ditingkah cahaya remang-remang. Di sini orang menjadi tidak tahan cahaya. Di luar, gelap belum benar-benar turun.
Penghuni pub mulai santap sambil menunggu datangnya malam. Sulit menyebut ini makan malam. Mereka membincang hari yang aneh. Hari ketika senja menggantung. Malam tak juga benar-benar sempurna. Siang seperti enggan berlalu. Sinar jingga keemas-emasan menggantung di langit dan berkilau memantul pada permukaan laut.
Bukankah ini sebuah keindahan yang langka? Mengapa mereka kecewa dengan bertahannya langit jingga dan cahaya senja yang keemas-emasan? Bukankah di tempat lain senja dijemput dengan rindu. Orang menyaksikan berlalunya dengan perasaan rawan dan enggan kehilangan.
Tahukah mereka lelaki bernama Sukad yang memotong senja sebesar kartu pos dan mengirimnya untuk kekasihnya, Alina? Atau pun negeri senja seperi diidam-idamkan itu? Oh, betapa menyenangkannya. Orang bisa duduk lama-lama di pantai. Di tepian ini orang malah kecewa. Betapa tidak adil, sebab di luar sana orang memburu senja dan mengabadikannya dengan kamera.
Tenanglah, yang lain coba menghibur, sebentar lagi tamu datang. Tetapi segera saja dibantah oleh gadis lainnya. Bagaimana tamu datang ketika senja menggantung dan gelap belum benar-benar turun? Bukankah tamu-tamu kita tak ingin wajahnya kelihatan oleh orang-orang di jalanan.
Mereka takut ketahuan datang kemari. Tentulah mereka pandai menyembunyikan belang di hidungnya. Gelap malam perlu untuk menerangi langkah mereka ke tempat ini. Pria-pria yang dituntun malam.
Gadis-gadis itu berbantah-bantahan. Ada yang tak tuntas dijelaskan pada malam yang terus menjelang di tepian itu. Tuan pemilik pup menata botol-botol minuman. Bir dipisahkan dari minuman black label dan red label. Pengunjung terus saja dinanti. Minuman-minuman ini harus laku.
Bagaimanapun caranya, gadis-gadis binaan itu perlu pandai mengempeskan dompet pengunjung dengan tawa renyah dan celoteh ringan. Lady escort adalah sebutan keren untuk mereka.
Makan malam usai. Koleksi lagu terbaik lebih dari separuh telah didengarkan. Belum ada satu dua pengunjung yang datang. Lady escort sudah duduk menanti di teras depan sambil mengakrabi gadget.
Tetapi, kali ini mereka rupanya lebih tertarik membincang hari yang aneh. Senja menggantung dan malam yang terus menjelang. Siang tak pernah benar-benar pergi. Malam tak datang dengan sempurna.
“Ini yang ketiga! Dulu juga pernah begini.” Begitu Maimuna memberi kesaksian. Segera saja Neng Ayu membenarkan “Ia, tahun lalu juga begitu lho. Ini yang ketiga. Mungkin sebelumnya juga pernah gitu tapi kita belum pada datang”
Tiba-tiba, pemilik pub nimbrung. Ia meninggalkan botol-botolnya dan mulai berkisah tentang lelaki sakti yang pernah hadir di tepian itu. Lelaki yang membikin ritual kopi. Begitu kayanya daerah ini akan hasil kopi turut melahirkan lelaki yang punya ritual kopi saban senja. Apapun harinya, setiap senja dirayakan lelaki itu dengan kopi yang direguk dari tempurung kelapa.
Entahlah, dia yang menyembunyikan malam ataukah malam tak mau datang ke tepian itu. Yang pasti lelaki itu pernah dituduh menyembunyikan malam. Itulah sebabnya malam tak benar-benar sempurna. Siang tak benar-benar lewat. Seluruh penjuru kota geger oleh berita itu.
“Untuk apa dia menyembunyikan malam? Untuk mainan anak-anak? Ah, kecuali anaknya kelelawar dan burung hantu serta segala binatang malam. Ia mencuri malam buat oleh-oleh kale…” gerutu Nona Paulina sambil membetulkan jepit yang disemat untuk menjinakkan rambut keritingnya.
Tuan pub berkisah, mereka pernah mengejar lelaki yang menyembunyikan malam. “Heiii, kamu yang menyembunyikan malam. Ayo keluarkan malam itu. Dimana kamu menyembunyikannya?” begitu Tuan pub menirukan suara Markus yang saat itu memimpin pengejaran.
Tuan pub begitu yakin, lelaki itu hadir kembali sore tadi dan membuat ritual kopi. Tuan pub lainnya nimbrung. Mereka datang dengan wajah kecewa. Keluhan sama: tamu belum juga datang. Tak seperti biasanya. Ini hari yang sepi. Bersama lady escort mereka mempergunjing lelaki yang menyembunyikan malam.
“Betulkah ada lelaki yang menyembunyikan malam?” Paulina mulai ragu. Segera saja Maria yang datang dari pub sebelah memastikan.
“Tidak mungkin” bantah Maria. “Memangnya dia Tuhan Allah kah?” gugat Maria yang membuat bungkam Paulina, Neng Ayu, dan Maimuna. Trio berbetis licin dan mengkal yang menjejaki pantai sore tadi. Sekali ini nama Allah disebut juga.
Maria dan bantahannya tak begitu menarik. Segera saja tatapan gadis berbetis licin dan mengkal itu beralih ke tuannya yang terus berkisah. Maria akhirnya ikut juga. Ada yang menarik dari kisah sang Tuan. Ia pernah ikut mengejar pria yang lari dengan tempurung di tangan berisi kopi. Lelaki itu dikejar masa karena tuduhan: menyembunyikan malam.
“Dimana ia sembunyikan malam itu Pi?” tanya Neng Ayu.
“Itulah soalnya, Yu. Ia akan menyesap kopi itu pelahan-lahan. Tak mudah rupanya menyembunyikan malam. Ia menghabiskan tempurung kopi berjam-jam. Di tegukan terakhir, saat ampas di dasar tempurung mulai kelihatan, ritual itu berhasil. Kita tak dapat lagi mencegahnya. Malam akan terus menjelang. Siang terasa enggan pergi. Malam tak kunjung datang.”
“Wuih, hebat banget. Gi mana sih cara membatalkan ritual kopi lelaki itu Pi, biar malam gak cancel kayak penerbangan gitu?” Neng Ayu makin penasaran. Baru kali ini didengarnya ada lelaki sakti yang bisa menyembunyikan malam.
Tuan pub yang sekalian dipanggil Papi itu tambah semangat berkisah. Sekali ini ia tampil seperti pastor yang sungguh didengarkan khotbahnya. Ia menyulut sebatang Sampoerna dan melanjutkan “Itulah soalnya. Di pantai ini, lelaki itu selalu menyendiri. Ia duduk dengan kobaran api di sampingnya. Pada api itu, ia tahtakan tiga batu membentuk tungku. Ia letakkan periuk tanah yang legam di atas tungku.
Racikan kopi untuk ritual direbusnya hingga mendidih. Saat kopi matang, ia akan membiarkan uap mengepul. Ia merapalkan mantera. Ia memandang seluas samudera. Matanya akan menyapu pandang kesana kemari sambil mulut komat-kamit. Ia mulai meneguk dari tempurungnya.
Tegukan terakhir diupayakannya terjadi saat tak ada orang lain yang menyaksikan. Kita pun tak pernah tahu akhirnya dimana ia menyembunyikan malam. Yang kita tahu hanyalah senja menggantung setelah di pantai itu datang lelaki yang membuat ritual kopi. Ia berhasil menyembunyikan malam di tegukan terakhir. Malam tak jadi datang. Siang tak benar-benar pergi. Itulah senja yang menggantung.”
Bertahannya cahaya senja tentu sungguh indah dan langka. Tetapi apalah arti keindahan jika secara ekonomi merugikan? Papi ingat akan kerugian yang tiap kali terjadi karena ulah lelaki itu. Minuman tak laku. Tamu tak jadi datang. Gadis-gadis itu akan pergi tidur dengan dandanan yang belum acak dan kosmetik yang tak luntur. Mereka membincang malam sepi pengunjung.
Kota itu rupanya tak murah hati mengirim pemuda-pemudanya ke tepian ini. Bukankah panen kakao, kopi, pisang dan kopra sedang limpah-limpahnya? Pemuda tanah ini sedang tidak kere bukan? Mereka bertanya-tanya sebelum melupakan kekecewaan dalam tidur yang entah bagaimana kita menyebutnya. Kita jadi enggan menyebut tidur malam. Sialan, lelaki itu benar-benar mengacaukan semuanya.
Keesokannya saat jalan-jalan di pantai, gadis-gadis itu menyesalkan malam yang tak jadi datang. Ada janji-janji yang tak terpenuhi. Mereka cemas akan malam berikutnya yang juga barangkali tak jadi datang. Kapan botol-botol itu laku? Lipstik dan segala kosmetik untuk mempercantik diri habis sia-sia.
Ada yang lupa disihir lelaki yang menyembunyikan malam. Ia tak mampu menghentikan detak jam yang menunjuk gerak waktu. Di tepian itu orang menyaksikan waktu yang bergerak maju sementara di luar senja menggantung begitu rupa. Malam tak benar-benar turun. Siang tak pernah benar-benar pergi.
Betapa hebat kopi yang diteguknya. Hitam legam kopi bahkan bisa melarutkan malam dalam gelas tempurung. Ia menyesap malam pelahan-lahan ke dalam perutnya. Dengannya orang tak bisa lagi mencegah. Lelaki itu menyembunyikan malam dalam perutnya. Usai tegukan terakhir, ritual itu sukses. Malam terus menjelang. Siang enggan pergi. Senja menggantung begitu rupa.
“Tak ada cara terampuh mengembalikan malam dari lelaki itu. Perutnya disabet, isinya dibiarkan terburai, dengan itu segalanya akan kembali normal!” begitu usul tuan pub yang satu dengan nada berang. Ia mengatakan itu sambil mengacungkan pistolnya. Ia satu-satunya Tuan Pub yang punya pistol di tepian itu. Yang lain masih saja diam ketika ia melanjutkan.
“Kita perlu mengembalikan malam dari perut lelaki itu. Malam telah lebur dalam ampas kopi yang menempel pada lambungnya. Malam akan ditemukan di antara isi perut yang terburai dan darah yang membeceki pasir gersang. Lelaki itu perlu dibunuh demi mengembalikan malam yang lebur dengan ampas kopi dan ia sembunyikan di perutnya.”
***
Di senja berikutnya mereka begitu yakin, incaran sedang mendekat. Lelaki yang menyembunyikan malam datang lagi. Pemilik pub tak ingin rugi untuk sekian kalinya. Lelaki yang berkepentingan dengan malam sudah siap dengan aneka rupa senjata tajam. Para lady escort menyembunyikan diri. Mereka tak tega melihat lelaki itu terkulai dan dicincang di atas pasir. Perutnya disabet, usus dan lambung dibiarkan terburai demi mengembalikan malam. Ngeri membayangkannya.
Api sudah menyala di samping lelaki itu seperti pernah dilihat tiga gadis itu pada suatu senja. Aih, Maria yang mengintip dari celah dinding jadi tak tenang. Tak tahan ia membayangkan orang sebangsanya dicincang. Diam-diam ia keluar lewat pintu belakang. Jagoan pemilik pistol bersama tuan-tuan pub lainnya menyusun strategi di ruang depan. Setiap titik ingin mereka kuasai untuk melumpuhkan gerak lelaki yang menyembunyikan malam. Mereka akan menyebar ke berbagai titik. Kali ini target tak mungkin lolos.
Maria, dengan langkah gentar, jantung berdegup kencang, mendekat ke lelaki itu. Lelaki itu tetap saja tunduk dan tak menghiraukan. Wajahnya samar di balik caping yang yang selalu ia kenakan. Maria terkejut bukan kepalang ketika lelaki itu mendekat dan tiba-tiba memeluknya.
“De weta daku. Kawe hau aku selama ho’o.”
Maria menatap wajah lelaki itu setelah melepas pelukan. Lelaki itu ditatapnya penuh curiga. Bagaimana mungkin lelaki ini memanggilku weta sementara yang lain membaptisku inewai da’at, batin Maria. Dalam sepersekian detik Maria akhirnya mengenal wajah itu, suara itu. Wajah dan suara mantan pacarnya.
Engkau masih memanggilku weta? Maria membatin sambil membayang sesumbar ibu-ibu di pasar yang menyebut Maria dan kawan-kawannya, inewai da’at.
Berkelebat juga di kepalanya wajah Paulina, gadis sebangsanya. Adakah lelaki senekat Polus menyembunyikan malam buat Paulina?
Sadar dalam situasi genting, dilupakannya Paulina. Maria memaksa Polus segera berlari ke arah timur. “Mereka akan membunuhmu nana. Lari…tinggalkan tempat ini,” desak Maria. Mereka melipir pergi dari tepian itu sebelum regu penangkap beraksi.
Agak jauh, mendekat ke dermaga, Maria terengah-engah bertanya, “Nana e, sejak kapan kamu bisa menyembunyikan malam?” Polus tak lekas menjawab.
Ditatapnya wajah Polus lekat-lekat. Tatapan Maria belum beralih ketika letupan pistol terdengar dari arah pub. Maria panik bukan kepalang dan bertanya. Itu polisi?
Seperti anak ayam yang berlindung di balik sayap ketika rajawali menyergap, Maria mendekap di dada Polus yang sekokoh tiang Dermaga Borong.
Polus membisikkan jawaban dengan secuil enggan melepas dekapan “Sejak engkau raib dari pelukanku, Maria!”
Maria memeluknya lebih erat. Erat sekali! Seerat temali yang melilit pohon dan ranting-ranting kakao di Tana Rata.***
Nana Lalong adalah nama pena untuk seorang mahasiswa asal Manggarai yang sedang studi di Jakarta.


