Tampil dalam Festival di Kupang, Band Rock Feast Usung Pesan ‘Usut Tuntas Kematian Vian Ruma’ 

Polres Nagekeo mengklaim akan melakukan gelar perkara pada akhir bulan ini

Floresa.co – Penampilan grup musik rock Feast menjadi salah satu momen paling kuat dalam gelaran Haifest 2025 di Lanud El Tari Kupang pada 24 Oktober. 

Di tengah sorotan lampu dan sorak penonton, band itu menyisipkan pesan “Usut Tuntas Kematian Vian Ruma.”  

Pesan itu tampak jelas pada dua layar yang mengapit panggung utama. 

Selain Feast, beberapa penonton juga datang dengan poster yang menyuarakan isu iklim, penolakan geotermal, juga tuntutan mengusut tuntas kasus kematian Vian. 

Feast tampil pada hari kedua Haifest (Harusnya Ini Festival) yang mengusung tema “Resepsi Patah Hati.” Pagelaran ini digagas oleh Bikin Hajatan dan tim HaiKreator. 

Dalam acara yang berlangsung selama tiga hari pada 23-25 Oktober itu, Haifest menghadirkan 12 musisi nasional, seperti Hindia, Kunto Aji, Hivi, The Changcuters, hingga Juicy Luicy. Mereka manggung bersama 41 talenta lokal dari NTT.

Rikardus Mbusa, adik kandung Vian, mengaku mendapatkan penggalan video saat pesan itu muncul di panggung.

Hal ini, “membantu untuk mengawal proses pengungkapan kasus kematian Vian,” katanya kepada Floresa.

“Kami keluarga mengucapkan terima kasih. Masih banyak pihak yang mendukung dan dengan caranya masing-masing. Semoga kasus ini bisa terbuka secara terang benderang,” tambahnya.

Rudolfus Oktafianus Ruma atau Vian Ruma, pemuda aktivis di Nagekeo yang ditemukan meninggal pada 5 September. Polisi sedang mengusut pemicunya di tengah mencuatnya dugaan ia dibunuh. (Foto: Facebook Efrem Segha)

Polres Nagekeo Janji Paparkan Hasil Penyelidikan

Vian, pemuda berusia 30 tahun, ditemukan tewas pada 5 September di sebuah gubuk bambu dekat Pantai Sikusama, Desa Tonggo, Kecamatan Nangaroro. 

Jasadnya ditemukan terikat tali dengan posisi menggantung. Namun, kakinya yang masih menempel di lantai gubuk memicu kecurigaan keluarga bahwa ia diduga dibunuh, bukan bunuh diri.

Kasus kematian Vian memicu perhatian luas publik, yang dikaitkan dengan aktivitasnya sebagai aktivis lingkungan, di samping pekerjaan utamanya sebagai guru.

Penjelasan resmi polisi soal pemicu kematiannya masih menanti keterangan Polres Nagekeo.

Rikardus Mbusa berkata, ia mendapat telepon dari Kasat Reskrim Polres Nagekeo, Iptu Fajar E. Cahyono pada 25 Oktober sekitar pukul 12.00 Wita. 

Fajar, katanya, memberitahu bahwa “akhir Oktober ini akan diadakan gelar perkara.”

Rikardus menjelaskan, sejauh ini sudah ada tiga kali informasi yang disampaikan oleh Polres Nagekeo kepada keluarga “untuk bersiap-siap mendengarkan hasil penyelidikan.”  Ia berharap janji itu kini ditepati. 

“Semoga informasi (gelar perkara) kali ini benar terjadi karena sudah beberapa kali ditunda terus,” katanya.

Polres Nagekeo pertama kali menjanjikan akan menyampaikan hasil penyelidikan pada 8 Oktober. Namun, rencana itu tiba-tiba dibatalkan, mengklaim masih berkoordinasi terkait lokasi dan waktu yang tepat. 

Dikonfirmasi Floresa pada 25 Oktober, Iptu Fajar berkata informasi soal rencana gelar perkara pada akhir bulan ini “benar.”

“Kami juga masih berkoordinasi dengan para saksi dan ahli,” katanya.

Fajar menjelaskan bahwa tanggal pastinya belum bisa ditentukan kendati saat ini sudah masuk akhir bulan.

Namun, proses penyelidikan “sudah selesai,” dengan 28 saksi yang sudah diperiksa.

Dari jumlah itu, katanya, 25 orang dari warga, teman dan keluarga Vian, sedangkan tiga lainnya ahli psikologi, bahasa serta informasi dan teknologi. 

“Kita lagi berkoordinasi dan secepatnya akan dikonfirmasi kepada keluarga, juga publik,” kata Fajar.

Dugaan Kesimpulan Bunuh Diri

Sebelum Polres Nagekeo menyampaikan rencana gelar perkara pada 8 Oktober, salah seorang polisi yang terlibat dalam penyelidikan kasus ini memberitahu Floresa bahwa bukti-bukti yang mereka kumpulkan mengarah pada “bunuh diri.” 

Polisi itu meminta Floresa tidak mencantumkan namanya, mengklaim hal itu akan disampaikan secara resmi dan dia tidak berhak memberikan informasi tersebut kepada media.

Dia menjelaskan, “memang ini kesimpulan yang terlalu awal,” tetapi dari beberapa keterangan, juga soal “percakapan bersama teman atau pacarnya, dia sepertinya sedang berada dalam dilema.”

Percakapan itu merujuk pada hasil pemeriksaan forensik pada isi ponsel Vian di Polda NTT.

Selain isi percakapan, ia berkata, polisi belum menemukan indikasi bahwa ada “tindakan lain yang mempengaruhi kematian Vian.” 

Ia mengklaim soal tali sepatu yang ditemukan di leher Vian ataupun kakinya yang menapak di lantai gubuk, “masih bisa dijelaskan.”

“Tali sepatu masih memungkinkan untuk digunakan mengakhiri hidup. Apalagi, di lokasi TKP sepasang sepatunya ditemukan. Tali yang ada di kedua sepatu itu sudah tidak ada,” katanya. 

Selain itu, ungkapnya, polisi memiliki bukti foto bahwa kaki Vian “tidak betul-betul menapak, namun jinjit.”

“Ini bisa terjadi, mengingat jenazah sudah beberapa hari berada di pondok, pasti ada perubahan posisi,” kata polisi itu.

Dia menjelaskan, pada waktu yang tepat, semua bukti itu akan disampaikan dan apapun hasilnya, “baik keluarga maupun publik bisa menerima, juga mendukung hasil kinerja polisi.”

Keluarga Vian sempat menyampaikan surat terbuka kepada Kapolres Nagekeo, AKBP Rachmat Muchamad Salihi.

Mereka menyatakan keyakinan bahwa kerabat mereka itu bukan bunuh diri, tapi korban pembunuhan.

Ada enam kejanggalan yang dipaparkan keluarga dalam surat itu. Beberapa di antaranya soal kaki Vian yang tidak menapaki lantai dan penggunaan tali sepatu untuk gantung diri. Mereka menyebutnya janggal jika Vian bunuh diri dengan cara demikian.

Editor: Ryan Dagur

Dukung kami untuk terus melayani kepentingan publik, sambil tetap mempertahankan independensi. Klik di sini untuk salurkan dukungan!
Atau pindai kode QR di samping

BACA JUGA