Keluarga Ungkap Enam Kejanggalan Kematian Vian Ruma, Yakin Ia Korban Pembunuhan

Mereka juga mempertanyakan transparansi penyelidikan oleh Polres Nagekeo

Floresa.co – Keluarga besar Almarhum Vian Ruma menyampaikan surat terbuka kepada Kapolres Nagekeo, AKBP Rachmat Muchamad Salihi yang menyatakan keyakinan bahwa kerabat mereka itu bukan bunuh diri, tapi korban pembunuhan.

Surat itu muncul di tengah rencana Polres Nagekeo menyampaikan hasil penyelidikan yang diduga akan mengarah pada kesimpulan bahwa Vian bunuh diri.

Isi surat terbuka itu dimulai dengan ucapan terima kasih kepada Kapolres dan jajarannya yang berkunjung ke kediaman Vian pada 29 September.

Namun, sehubungan dengan perkembangan penyelidikan dan permintaan autopsi, keluarga “merasa perlu menyampaikan beberapa hal mendasar yang menjadi keprihatinan mendalam” mereka.

“Kami meyakini bahwa kematian Almarhum Vian Ruma—cucu, anak, dan saudara kami—bukan disebabkan oleh bunuh diri,” tulis keluarga dalam surat terbuka tersebut yang salinannya diperoleh Floresa.

Vian, 30 tahun, yang berprofesi sebagai guru dan dikenal sebagai aktivis lingkungan ditemukan tewas pada 5 September di sebuah gubuk bambu dekat Pantai Sikusama, Desa Tonggo, Kecamatan Nangaroro. 

Ia diketahui menghilang semenjak 2 September saat ia menyampaikan rencana untuk ke Maunori, menghadiri pertemuan Orang Muda Katolik.

Keluarganya menyatakan, keyakinan mereka bahwa Vian bukan bunuh diri mengacu “pada serangkaian kejanggalan signifikan yang kami temukan, baik di lokasi kejadian (TKP) maupun pada kondisi jenazah.”

Dalam surat itu, mereka memaparkan enam poin kejanggalan.

Pertama, kondisi jenazah Vian yang “tidak menunjukkan ciri khas korban gantung diri, seperti lidah menjulur.”

“Sebaliknya, ditemukan banyak belatung di bagian kepala, yang mengindikasikan adanya luka terbuka sebelum kematian,” tulis keluarga.

Kedua, soal sarana bunuh diri dengan tali sepatu yang “terkesan janggal dan mengindikasikan tindakan yang tidak terencana, kontras dengan teori bunuh diri yang umumnya didahului depresi atau persiapan.”

Ketiga, keluarga menyoroti logika di TKP soal “jarak antara simpul tali, posisi tubuh dan lantai pijak (bale-bale) secara logis sangat sulit diterima sebagai skenario gantung diri yang berhasil.”

“Terlebih lagi, tidak adanya kursi atau sarana lain untuk memanjat menimbulkan pertanyaan besar mengenai bagaimana almarhum mengikat tali tersebut,” tulis mereka.

Keempat adalah perihal kondisi TKP berupa bale-bale “yang rapi tidak menunjukkan tanda-tanda perlawanan atau kejang saat seseorang meregang nyawa.
“Padahal, kaki almarhum dapat menyentuh lantai tersebut.”

Kelima, keluarga menyoroti keberadaan sepeda motor Vian di belakang pondok, “yang harus melewati akses jalan yang ekstrem, menimbulkan keraguan serius bahwa almarhum membawanya seorang diri.”

Keenam, menurut keluarga, terdapat kesaksian dan bukti foto yang menunjukkan Vian berada di lokasi lain, yaitu menara Kekakodo, pada siang/sore hari sebelum dia dilaporkan menghilang. 

“Ada pula saksi yang berkomunikasi dengan almarhum yang menyatakan akan segera tiba di Maunori. Hal ini menunjukkan almarhum telah melewati TKP dan tidak memiliki niat untuk berhenti di sana.”

Karena itu, tulis keluarga, “berdasarkan temuan-temuan tersebut, kami menduga kuat bahwa almarhum adalah korban pembunuhan dan skenario gantung diri hanyalah upaya pelaku untuk menghilangkan jejak.” 

Mereka pun mempertanyakan keseriusan dan profesionalisme polisi dalam menangani kasus ini. 

“Hingga kini, kami belum menerima informasi transparan mengenai tindakan-tindakan krusial yang seharusnya sudah dilakukan seperti hasil visum et repertum; pengambilan sidik jari di TKP, sepeda motor, tas, dan tubuh almarhum; dan penelusuran jejak digital pada ponsel almarhum.”

Jejak digital pada ponsel, tulis keluarga “kami yakini memegang kunci untuk mengungkap titik koordinat pergerakan dan komunikasi terakhirnya.”

Terkait dengan permintaan autopsi yang belum mereka sepakati, keluarga menyatakan kekhawatiran bahwa langkah tersebut bakal “menyederhanakan masalah dan menyimpulkan kematian almarhum sebagai bunuh diri, tanpa didahului penyelidikan fundamental lainnya.”

Keluarga menyatakan, mereka tidak menolak autopsi, namun menuntut transparansi dan akuntabilitas penuh atas setiap langkah penyelidikan.

“Sebelum kami menyetujui pelaksanaan autopsi, kami meminta kejelasan penuh,” tulis mereka.

Surat tersebut juga menyinggung adanya dugaan upaya intervensi dari polisi sehari setelah pemakaman Vian. Dugaan itu soal permintaan menandatangani surat pernyataan yang berisi tiga poin, yaitu menolak autopsi, menolak proses hukum dan menerima kematian sebagai takdir.

“Upaya ini sangat kami sesalkan dan justru mempertebal kecurigaan kami,” tulis keluarga.

Apa Kata Polisi?

Merespons surat itu, Kasat Reskrim Polres Nagekeo, Iptu Fajar E. Cahyono menyebutnya sebagai “hak keluarga dan kepolisian menghargai sikap itu.”

Namun, katanya kepada Floresa, sebaiknya surat pernyataan keluarga dibuat secara tertulis dan langsung diserahkan kepada Kapolres. 

Sementara perihal poin-poin keberatan keluarga yang mengungkap  kejanggalan kematian Vian, Fajar menyebutnya “sebatas asumsi, tetapi kepolisian akan tetap mendalami.”

Fajar berkata, proses penyelidikan masih terus berjalan dan ada penambahan, juga pendalaman saksi.

“Keluarga langsung saja berkomunikasi dengan pihak kepolisian supaya tidak ada salah komunikasi atau persepsi,” katanya.

“Dalam waktu dekat, akan ada pertemuan bersama keluarga. Kami masih memastikan waktu serta lokasinya. Kami berharap publik, terutama keluarga, bisa bersabar dan tetap menjaga komunikasi dengan polisi,” katanya.

Fajar sempat menjanjikan kepada keluarga untuk menggelar pertemuan itu pada 8 Oktober, namun ditunda tanpa waktu yang pasti.

Senada dengan Fajar, Kapolsek Nangaroro, Iptu Juliardi Sinambela menyebut surat terbuka tersebut sebagai “hak dan kebebasan keluarga.”

“Namun, sebaiknya dibuat tertulis dan langsung diserahkan kepada Kapolres sehingga ada klarifikasi langsung dari pihak penyelidik,” katanya kepada Floresa.

Ia mengklaim penyelidik telah membangun komunikasi baik dengan keluarga dan menerima “semua informasi yang disampaikan keluarga.”

“Namun, tentunya informasi itu harus bisa dipertanggungjawabkan,” katanya. 

Ia menambahkan, poin-poin kejanggalan pada kondisi jenazah saat ditemukan dan soal barang bukti yang disinggung keluarga “sudah bagus dan semua itu sudah didalami polisi.”

Dugaan Kesimpulan Polisi

Surat terbuka keluarga itu muncul di tengah kabar bahwa Polres Nagekeo akan menyimpulkan bahwa Vian bunuh diri berdasarkan hasil penyelidikan dan pemeriksaan ponselnya.

Floresa mendapat informasi itu dari seorang anggota Polres Nagekeo yang terlibat dalam penyelidikan. 

Polisi itu meminta Floresa tidak mencantumkan namanya, mengklaim hal itu akan disampaikan secara resmi dan dia tidak berhak memberikan informasi tersebut kepada media.

Dia menjelaskan, “memang ini kesimpulan yang terlalu awal,” tetapi dari beberapa keterangan, juga soal “percakapan bersama teman atau pacarnya, dia sepertinya sedang berada dalam dilema.”

Percakapan itu merujuk pada hasil pemeriksaan forensik pada isi ponsel Vian di Polda NTT. 

Selain isi percakapan, ia berkata, polisi belum menemukan indikasi bahwa ada “tindakan lain yang mempengaruhi kematian Vian.” 

Ia mengklaim soal tali sepatu yang ditemukan di leher Vian ataupun kaki Vian yang menapak di lantai gubuk, “masih bisa dijelaskan.”

“Tali sepatu masih memungkinkan untuk digunakan mengakhiri hidup. Apalagi, di lokasi TKP sepasang sepatunya ditemukan. Tali yang ada di kedua sepatu itu sudah tidak ada,” katanya. 

Selain itu, ungkapnya, polisi memiliki bukti foto bahwa kaki Vian “tidak betul-betul menapak, namun jinjit.”

“Ini bisa terjadi, mengingat jenazah sudah beberapa hari berada di pondok, pasti ada perubahan posisi,” kata polisi itu.

Dia menjelaskan, pada waktu yang tepat semua bukti itu akan disampaikan dan apapun hasilnya, “baik keluarga maupun publik bisa menerima, juga mendukung hasil kinerja polisi.” 

Kasat Reskrim Iptu Fajar tidak menjelaskan soal kesimpulan bahwa Vian bunuh diri itu dalam wawancara dengan Floresa di kantornya pada 7 Oktober.

Ia hanya berkata bahwa dalam pertemuan yang akan digelar dengan keluarga Vian, kepolisian akan menyiapkan beberapa ahli yang akan turut “memberikan pendapat.”

Para ahli itu di antaranya ahli bahasa, ahli psikologi, juga ahli informasi dan teknologi. 

Editor: Ryan Dagur

Dukung Kami

Ada cerita yang terlalu berisiko untuk diberitakan, korban yang terlalu lemah untuk didengar, dan mereka yang terlalu berkuasa untuk disentuh.
Floresa memilih memberi perhatian pada semua itu. Kami tidak bergantung pada iklan korporasi atau kepentingan politik. Independensi kami dibiayai oleh pembaca yang percaya bahwa kebenaran harus diungkap tanpa kompromi.
Dukung kami untuk terus bertahan. Caranya bisa cek di sini

BACA JUGA