Pasca Tragedi Cunca Wulang, Aparat Manggarai Barat Tutup Sementara Destinasi Wisata Sano Limbung

Fasilitas vital Sano Limbung, berupa tangga kayu—yang menjadi satu-satunya akses wisatawan untuk menikmati panorama danau— rusak parah

Floresa.co – Aparat keamanan di Manggarai Barat menutup sementara Sano Limbung, salah satu destinasi wisata di Kecamatan Boleng, sebagai respons atas tragedi di Air Terjun Cunca Wulang yang menewaskan turis asing karena kecelakaan.

Penutupan sementara destinasi di Desa Golo Lujang itu terjadi setelah petugas kecamatan bersama Polsubsektor Boleng – yang bernaung di bawah Polsek Komodo – dan Pos TNI Boleng menggelar inspeksi di kawasan itu pada 28 Mei pukul 16.00 Wita.

‎Dalam inspeksi itu, mereka menemukan fasilitas vital berupa tangga kayu—yang menjadi satu-satunya akses wisatawan untuk menikmati panorama danau— rusak parah. 

Sebagian besar anak tangga berbahan kayu tersebut telah lapuk dan sangat berisiko runtuh jika terus dilalui pengunjung.

Dalam keterangan di situs resmi Polres Manggarai Barat disebutkan bahwa petugas gabungan telah memasang tali pembatas di jalur masuk untuk mencegah wisatawan nekat menerobos.

“Sano Limbung adalah aset wisata lokal yang indah, namun aspek keselamatan harus tetap menjadi panglima. Penutupan ini bersifat sementara sembari menunggu pihak pengelola melakukan perbaikan fasilitas secara menyeluruh agar layak dan aman digunakan kembali,” kata Kapolsek Komodo, AKP Eka Darma Yuda.

Eka berkata, keputusan tersebut merupakan bagian dari langkah preventif sekaligus bagian dari evaluasi terhadap kasus dua wisatawan asal Austria yang tewas setelah terjatuh dari jembatan gantung berbahan kayu di Cunca Wulang, Kecamatan Mbeliling pada 24 Mei.

Jurgen (54) dan Astrid (56) tewas usai terjatuh dari ketinggian sekitar 10 meter dan menghantam sungai berbatu di bawahnya.

Hasil pemeriksaan sementara kepolisian mengungkap gambaran yang mengkhawatirkan: jembatan dalam kondisi rusak dengan papan yang goyang dan terangkat, konstruksi yang rapuh, dan lubang akibat patahan selebar sekitar 1,20 meter.

Hal yang tidak ditemukan sama sekali adalah prosedur standar operasional atau SOP tertulis untuk pengecekan rutin, rambu peringatan khusus bagi pengunjung, asuransi wisata, maupun pelatihan keselamatan bagi petugas dan pemandu lokal.

“Kami tidak ingin mengambil risiko sekecil apa pun. Kondisi tangga kayu ini sudah sangat membahayakan jiwa pengunjung,” kata Eka tentang infrastruktur di Sano Limbung.

“Belajar dari evaluasi peristiwa di Cunca Wulang, tindakan preventif seperti ini wajib kita lakukan sebelum terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,” tambahnya.

Editor: Herry Kabut

Dukung Kami

Ada cerita yang terlalu berisiko untuk diberitakan, korban yang terlalu lemah untuk didengar, dan mereka yang terlalu berkuasa untuk disentuh.
Floresa memilih memberi perhatian pada semua itu. Kami tidak bergantung pada iklan korporasi atau kepentingan politik. Independensi kami dibiayai oleh pembaca yang percaya bahwa kebenaran harus diungkap tanpa kompromi.
Dukung kami untuk terus bertahan. Caranya bisa cek di sini

BACA JUGA