Misa Inkulturasi, Upaya Memperkuat Persaudaraan Warga Manggarai di Jabodetabek

Persoalan pengunduran diri Uskup Paskalis Bruno Syukur juga menjadi bahan diskusi usai Misa

Floresa.co – Dengan mengenakan berbagi ornamen dan pakaian adat, warga asal Manggarai, Flores yang tinggal di wilayah Jakarta, Bogor, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek) berkumpul di Bumi Perkemahan Bangkong pada 24 Januari 2026.

Di tempat yang berlokasi di Pabuaran, Kecamatan Kemang, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat itu, mereka mengikuti Misa Inkulturasi Bahasa Manggarai yang diinisiasi Keluarga Manggarai Depok-Bogor Raya (DEBORA).

Seusai Misa, acara dilanjutkan dengan tombo lonto leok atau kisah-kasih saling berbagi antara orang tua DEBORA dengan perwakilan orang tua Manggarai Jabodetabek. Beberapa di antaranya adalah Don Bosco Selamun, Alex Jemadu, Gaudens Suhardi, dan Inosentius Samsul. Mereka adalah beberapa figur senior asal Manggarai yang kini bekerja di Jakarta dalam berbagai bidang.

Mgr. Paskalis Bruno Syukur, OFM, yang baru saja undur diri dari Uskup Bogor memimpin Misa itu yang dihadiri jumlah 397 orang, dengan konselebran Pastor Efendy Marut, OFM dan Pastor Stefan Nampung, OFM. 

Upacara penyambutan tamu dengan tata cara adat Manggarai. (Dokumentasi DEBORA)

Upaya Mempererat Persaudaraan

Agustinus Bandur, ketua panitia berkata lewat acara itu DEBORA hendak mempererat persatuan dan persaudaraan serta melestarikan nilai-nilai budaya Manggarai.

Acara itu, katanya, berusaha mengamalkan ungkapan dalam filosofi budaya Manggarai kopé olés todo kongkol: Nai ca anggit tuka ca léléng, muku ca pu’u néka woléng curup, téu ca ambo néka woléng lako. Ungkapan itu menekankan pentingnya persatuan dan persaudaraan.

“Perayaan ini perekat utama kebersamaan untuk mencapai tujuan-tujuan bersama,” kata Gusti, yang juga dosen di Program Doktor, Research in Management, BINUS University Jakarta.

Dalam homilinya, Uskup Paskalis menekankan bahwa “budaya Manggarai yang kita hidupi dan kita terima telah menolong kita untuk mengembangkan diri sebagai manusia, manusia yang berkualitas, manusia yang beradab, manusia yang berdiri di atas dasar kearifan lokal yang kita miliki.”

“Itu yang memperkuat kita hidup di tanah perantauan  ini. Di tanah rantau ini kita bukan berjalan tanpa suatu pegangan dan pegangan itu ada dalam budaya kita dan kita hidupkan dalam bentuk Misa Inkulturasi Bahasa Manggarai ini,” katanya.

Sementara dalam sesi lonto leok, Don Bosco Selamun, jurnalis senior yang kini menjadi Presiden Direktur Nusantara TV memberi catatan soal pentingnya menjadi yang terbaik atau “be the best di posisi kita, di tempat kita masing-masing.”

“Kalau be the best sama dengan kata Injil, jadi garam, jadi terang di tempat profesi kita masing-masing. Itu ajaran Gereja kita dan paling tidak untuk orang seperti saya, terbawa, saya harus melakukan sesuatu yang terbaik di profesi itu,” katanya.

Ia memberi penekanan tentang pentingnya menjadi “orang yang memberi perbedaan, menjadi pembeda, dalam arti yang baik bukan yang aneh, di dalam pekerjaan apapun.”

“Jangan pernah berpikir bahwa kita tidak bisa,” katanya.

Sementara Gaudens Suhardi, yang kini menjadi Direktur Utama Media Indonesia mengaku tertarik dengan tema Misa itu karena menunjukkan kedalaman filosofi orang Manggarai, khususnya dalam kaitan dengan pemahaman tentang demokrasi.

“Inti demokrasi itu bantang cama (kesepakatan bersama), tidak ada yang lebih tinggi dan lebih rendah,” katanya.

Inosentius Samsul, yang kini menjadi Kepala Badan Keahlian DPR RI, juga menekankan pentingnya kebersamaan.

“Kalau mau berkembang ke depan, kita sama-sama. Kita jangan merasa diri paling berjasa. Kalau diibaratkan sebuah pohon, akar, dahan, ranting dan daunnya bekerja. Itulah filosofi persatuan yang perlu kita kembangkan,” katanya.

“Satu hal yang penting juga adalah perkumpulan perlu inklusif. Jalin relasi yang baik dengan sesama umat, RT/RW dan tentu di tempat kerja,” tambahnya.

Sementara Alex Jemadu, Guru Besar di Universitas Pelita Harapan berkata, melalui Misa Inkulturasi ini orang Manggarai mengingat warisan keyakinan nenek moyang bahwa “Tuhan itu bicara melalui alam ciptaan-Nya, karena kalau mereka bersyukur mereka meminta kepada seseorang.”

“Tentu saja dalam pengetahuan mereka yang terbatas, Gerejalah yang memberitahukan itu. Jadi klop budaya kita dengan apa yang diajarkan Gereja.” katanya.

Soal Pengunduran Diri Uskup

Acara itu berlangsung di tengah dinamika pengunduran diri Uskup Paskalis, hal yang juga menjadi perhatian panitia. 

Uskup itu mengumumkan keputusan mengakhiri 11 tahun masa kegembalaan di Keuskupan Bogor pada 19 Januari. 

Dalam pernyataannya, Uskup Paskalis menyatakan tidak bersalah – merespons berbagai tudingan terhadapnya -, mengakui adanya tekanan dari berbagai pihak dan menempatkan pengunduran dirinya dalam konteks demi menjaga persatuan Gereja.

Ia juga mengakui adanya tekanan serupa saat mengundurkan diri usai ditunjuk Paus Fransiskus menjadi kardinal pada Oktober 2024.

Gaudensius Suhardi berkata ia lama mengenal Uskup Paskalis, selain karena sama-sama dari Ranggu, Manggarai Barat, juga sekolah di Seminari Pius XII Kisol di Manggarai Timur.

“Monsignor itu dari kecil sudah kelihatan salehnya, sudah menjadi ajuda, misdinar dan tumbuh dengan kecintaan terhadap alam,” katanya.

Ia menggambarkan pengalaman masa kecil sering mencari kayu api bersama-sama lembah Ranggu, yang diapit tiga sungai yang mengelilinginya.

“Di atasnya ada Poco Kuwus dan dari sana terlihat hamparan pemandangan sawah. Ami ngo cama kawé haju (sama-sama mencari kayu api),” kata Gaudens.

Sementara itu Don Bosco Selamun mengungkapkan, “saya mengenal puluhan uskup dan seorang uskup yang saleh adalah Mgr. Paskalis Bruno Syukur”. 

Bagi Agustinus Bandur, kendati sudah mengundurkan diri, ada pertanyaan yang masih menggantung soal alasan di balik keputusan Uskup Paskalis.

“Apakah betul ada pengalaman tekanan dan paksaan dari hierarki yang memaksanya mengundurkan diri dari jabatan kardinal dan sekarang Uskup Bogor?” katanya.

Ia berkata, Vatikan melalui Nunsius Apostolik di Indonesia perlu menyampaikan secara terbuka kepada umat yang tidak ingin pemimpin spiritualnya diperlakukan secara tidak adil dan bahwa informasi yang mereka peroleh kredibel.

“Saya mengajak perwakilan tokoh dan ilmuwan Katolik serta dosen dan peneliti akademik Katolik untuk sama-sama berdialog dengan Nuntius di Jakarta,” kata Gusti yang sudah menulis kepemimpinan Paus Yohanes Paulus II dan Kepemimpinan Paus Fransiskus.

“Gereja Katolik adalah institusi kita bersama, bukan hanya milik pimpinan hierarki Gereja sehingga umat juga bebas dan berhak bersuara untuk mencari kebenaran,” tambahnya.

Uskup Paskalis bersama panitia dan narasumber dalam sesi “lonto leok.” (Dokumentasi Floresa)

Berharap Terus Berkelanjutan

Acara ini berlanjut pada 25 Januari, dengan rangkaian acara game anak-anak dan orang tua demi memperkuat persaudaraan dan kebersamaan.

Gusti berharap, perayaan-perayaan Misa Inkulturasi Bahasa Manggarai selanjutnya perlu dipadukan dengan festival makanan lokal Manggarai, Flores dan pentas musik Manggarai.

“Manggarai memiliki berbagai makanan khas lokal yang khas, termasuk kompiang dan kopi, juga musik dan lagu-lagu khas budaya Manggarai,” katanya.

Karena itu, katanya, penting bagi DEBORA mengangkat potensi-potensi ini dalam bentuk festival.

Dengan demikian, acara ini memiliki dampak sosial dan ekonominya, katanya.

Editor: Herry Kabut

Dukung kami untuk terus melayani kepentingan publik, sambil tetap mempertahankan independensi. Klik di sini untuk salurkan dukungan!
Atau pindai kode QR di samping

BACA JUGA

spot_img