Floresa.co – Siswa salah satu Sekolah Dasar Negeri di Kabupaten Manggarai Barat harus mengikuti kegiatan belajar mengajar (KBM) di bawah pohon karena minimnya ruang kelas.
Kondisi tersebut terekam dalam sebuah video yang dibagikan melalui akun Facebook Karlos Melo pada 9 April tentang para siswa di SD Negeri Tando, Desa Robo, Kecamatan Welak.
Video itu menampilkan seorang guru perempuan mengajar sekitar 15 siswa kelas III di luar ruangan.
Marta, guru yang ada dalam video itu berkata, sekolahnya kekurangan ruang kelas sejak lama.
Ia sempat menunjukkan ruang kelas II dengan dinding seng dan lantai tanah.
Marta tercatat telah mengajar di SD Negeri Tando sejak sekolah itu berdiri pada 2014.
Selain kekurangan ruang kelas, sekolah tersebut juga belum memiliki toilet dan belum tersambung dengan instalasi air bersih.
Lokasi sekolah berjarak sekitar satu kilometer dari Kampung Tando dan hanya dapat dijangkau dengan berjalan kaki karena akses jalan belum beraspal.
Kepala SD Negeri Tando, Fransiskus Jenala berkata, sekolah tersebut awalnya berstatus Tambahan Ruang Kelas (TRK) dari SDI Wongkol. Saat itu, sekolah hanya memiliki kelas I dan II.
Status TRK berlangsung hingga sekolah memperoleh Surat Keputusan definitif pada Oktober 2016.
“Gedung sekolah awalnya dibangun secara swadaya oleh masyarakat dengan material kayu dan seng,” kata Fransiskus.
Menurut dia, gedung permanen baru dibangun pemerintah pada 2018, namun hanya terdiri dari tiga ruangan, sehingga sekolah memasang sekat untuk menyesuaikan jumlah rombongan belajar.
Fransiskus menjelaskan, sebelumnya siswa kelas III masih belajar di bangunan lama.
Namun, karena kondisinya sudah tidak layak, kegiatan belajar dipindahkan ke luar ruangan.
“Kalau musim hujan, mereka belajar di kelas I setelah siswa kelas I pulang,” ujarnya.
Saat ini, jumlah siswa di sekolah tersebut tercatat 68 orang.
Menanggapi kondisi itu, Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga Manggarai Barat, Yohanes Hani, berkata akan meninjaunya langsung.
“Besok (12 April) pagi kami akan ke sana untuk melihat dari dekat,” katanya kepada Floresa.
Ia menyebutkan kemungkinan penambahan ruang kelas sedang dipertimbangkan, dengan kepastian lanjutan akan disampaikan pada 13 April.
Keterbatasan fasilitas pendidikan di SD Negeri Tando tidak terlepas dari situasi struktural pendidikan di Provinsi Nusa Tenggara Timur secara umum.
Situasi ini sekaligus menunjukkan ironi di tengah langkah pemerintah pusat yang menggulirkan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai strategi peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Program dengan dana triliunan itu berjalan saat sekolah-sekolah di pedalaman masih bertahan dengan persoalan paling mendasar: ruang kelas layak, air bersih, dan sanitasi.
Masalah tersebut berkelindan dengan rendahnya partisipasi pendidikan lanjutan.
Data pemerintah daerah dan Balai Penjamin Mutu Pendidikan (BPMP) NTT mencatat bahwa pada 2025 terdapat 145.268 anak usia sekolah di NTT yang tidak bersekolah atau dikategorikan sebagai Anak Tidak Sekolah (ATS).
Editor: Herry Kabut



