Oleh: Servasius Masyudi Onggal
Pemerintah Indonesia sedang bergerak cepat. Transisi energi – dari fosil ke terbarukan – diklaim sebagai agenda pembangunan paling mendesak hari ini.
Geotermal menjadi salah satu yang berada di garis terdepan klaim itu. Ia digadang-gadang sebagai jawaban atas krisis iklim: diklaim bersih, berkelanjutan, dan ramah lingkungan.
Ada cita-cita yang mengimpikan Indonesia menjadi negara dengan target net zero emission pada 2060, sebagaimana yang digaungkan pada masa pemerintahan Presiden Joko Widodo.
Negara membangun arsitektur hukum yang kokoh untuk mendukungnya: UU Panas Bumi 2014 – yang mengeluarkan panas bumi dari kategori tambang -, Rencana Tata Ruang Nasional, resentralisasi kewenangan, penetapan kawasan geotermal sebagai objek vital nasional, hingga UU Cipta Kerja yang melonggarkan hambatan investasi.
Semuanya bergerak satu arah: memastikan geotermal tidak bisa ditolak.
Di tingkat masyarakat, ceritanya berbeda. Di wilayah-wilayah yang ditargetkan sebagai titik eksplorasi dan eksploitasi, ruang-ruang perjumpaan menjadi riuh.
Pro dan kontra beradu. Data, fakta dan analisis dilontarkan ke ruang publik, entah untuk mendukung atau membantahnya.
Namun, jauh di balik perdebatan yang tampak itu, ada pertarungan lain yang bekerja lebih sunyi dan lebih berbahaya: perebutan dan kontrol atas bahasa.
Siapa yang menguasai kata, menguasai wacana. Siapa yang menguasai wacana, menguasai pikiran.
Di sini, terminologi, bahasa, nama atau simbol apapun dipakai sebagai senjata penakluk. Dengan menguasainya, pihak berkepentingan sedang berupaya mendominasi dinamika dan wacana.
Inilah yang dalam ulasan ini saya sebut sebagai ledakan terminologi. Ia juga berbahaya, seperti halnya geotermal yang dipaksakan ke dalam ruang-ruang hidup komunitas.
Namun, ia dikemas dalam cara yang samar, halus, subtil, demi mengelabui sekaligus meninabobokan.
Bahasa sebagai Senjata Perebutan Wacana
Dalam semiotika, bahasa adalah simbol paling kuat yang pernah diciptakan manusia. Bahasa mampu merepresentasikan makna, membentuk realitas dan mengarahkan cara berpikir jutaan orang sekaligus.
Namun, bahasa tidak pernah netral. Ia juga tidak sebatas alat komunikasi. Ia adalah medan pertempuran kepentingan.
Dalam konteks geotermal, kekuatan itu sedang dieksploitasi secara sistematis.
Perhatikan deretan terminologi yang berseliweran: energi ramah lingkungan, rendah karbon, energi bersih, energi hijau, energi terbarukan, energi berkelanjutan.
Kata-kata itu tidak muncul secara kebetulan. Ia diproduksi, disebarkan dan direpetisi secara masif dengan satu tujuan: menciptakan medan makna untuk melahirkan kesan bahwa geotermal adalah harapan, geotermal adalah penyelamat, geotermal adalah masa depan.
Dalam medan makna yang sama, energi lama – yang selama ini menopang kehidupan jutaan orang – dilabeli sebagai kotor, merusak, penyebab krisis.
Pola-pola semacam ini menutup ruang untuk berpikir. Kita hanya diarahkan untuk sepakat pada kesimpulan yang sudah dirancang.
Inilah yang filsuf Michel Foucault peringatkan: terminologi tidak sekadar medium komunikasi, tetapi juga perangkat kekuasaan. Siapa yang menciptakan kata dan mendefinisikannya, dialah yang berkuasa.
Ledakan terminologi adalah strategi sistematis untuk memenangkan opini publik bahkan sebelum perdebatan substansial sempat dimulai.
Ia bukan argumentasi, ia adalah pembungkaman yang berpakaian sains, berdalih klaim akademisi dan ilmuwan.
Ketika terminologi memenuhi seluruh ruang diskursus, tidak ada lagi celah untuk literatur lain, perspektif lain, suara lain.
Kreativitas berpikir dikerdilkan. Akal sehat digiring ke dalam template yang sudah disiapkan jauh-jauh hari.
Di sini, kebebasan intelektual runtuh di hadapan banjir istilah yang terasa ilmiah, terasa progresif, terasa tidak bisa dibantah.
Tanpa sadar, kita terperangkap.
Nona Regi: Personifikasi Geotermal dalam Wajah Lokal
Ledakan terminologi tidak berhenti di level global atau nasional.
Ia merangsek lebih dalam – hingga ke jantung komunitas lokal, hingga ke dalam bahasa yang paling akrab di telinga kita.
Di Flores, geotermal dipersonifikasikan sebagai sosok perempuan muda yang anggun: Nona Regi.
Regi adalah akronim dari Renewable Energy, energi terbarukan dalam bahasa Inggris.
Nona Regi adalah paduan kata dan nama yang khas ketimuran. Nona adalah sapaan formal yang lazim untuk perempuan muda, sementara Regi adalah nama yang umum dipakai dalam konteks penamaan perempuan Timur.
Regi adalah versi pendek dari Regina – nama Latin yang berarti ratu, perempuan yang anggun dan berwibawa. Di Flores yang mayoritas Katolik, nama ini sangat akrab, mulia dan terhormat.
Pemilihan nama Regi lahir dari taktik yang peka dan sadar konteks. Penamaan ini bukan kebetulan. Ini adalah kelicikan sistematis yang perlu dicurigai.
Berguru pada Paul Ricoeur, politik penamaan ini perlu kita lucuti, karena setiap teks – setiap nama, setiap istilah – selalu menyembunyikan sesuatu di baliknya.
Sebab, nama adalah tanda. Dan, yang tersembunyi di balik Nona Regi adalah sebuah agenda penaklukan yang berpakaian keakraban.
Dengan menamai geotermal sebagai Nona Regi, para perancang wacana ini sedang melakukan sesuatu yang sangat cerdik: mereka tidak lagi hanya meminta masyarakat menerima sebuah proyek. Mereka mengharapkan penyambutan yang pantas atas kehadiran seseorang – seseorang yang bernama lokal, berwajah lokal, terasa seperti bagian dari keluarga sendiri.
Nama yang terhormat menuntut perlakuan yang terhormat. Nama yang dekat menciptakan kesan memiliki.
Geotermal dipakaikan nama dari komunitas agar tidak lagi terasa seperti proyek investasi asing yang datang merampas. Ia terasa seperti anak perempuan kampung yang pulang membawa harapan.
Inilah kekerasan simbolik dalam wujud paling halusnya: penjajahan yang berwajah lokal, dominasi yang berlogat daerah, penaklukan yang memakai nama dari masyarakat setempat.
Politik penamaan ini menjadi jalan tol bagi agenda geotermal di komunitas yang sebetulnya sudah memiliki gambarannya sendiri terhadap geotermal.
Melalui penamaan yang terasa kontekstual, geotermal ingin masuk lebih dalam, hingga ke “nukleus” komunitas.
Begitulah daya jalar ledakan terminologi melalui politik penamaan. Politik penamaan itu berhasil merebut ruang dan mendapat tempat yang sangat istimewa dalam masyarakat.
Menuju Narasi Tunggal: Ketika Suara Lain Dibungkam
Ledakan terminologi bermuara pada satu tujuan akhir: narasi tunggal.
Ketika seluruh ruang wacana dipenuhi oleh terminologi yang seragam – ketika energi bersih, hijau, berkelanjutan menjadi mantra yang diulang tanpa henti – wacana tandingan kehilangan tempat bernapas.
Data-data yang menunjukkan kenyataan berbeda menjadi sulit mendapat ruang. Kesaksian komunitas yang terdampak direduksi menjadi riak kecil.
Perlawanan masyarakat setempat dilabeli sebagai hambatan pembangunan atau ketidaktahuan.
Perubahan lingkungan diabaikan. Risiko sosial dianggap tidak ada. Konflik dengan budaya dan adat dianggap kegagalan teknis yang bisa diantisipasi.
Suara-suara yang paling otentik – dari orang-orang yang tinggal di atas tanah yang akan dilubangi, yang menghirup udara di sekitar sumur yang akan dibor – hanya diartikulasikan sebagai gangguan dalam perjalanan menuju kemajuan.
Kembali mengutip Foucault: inilah cara kekuasaan bekerja paling efektif — bukan dengan memaksa, tapi dengan mendefinisikan. Bukan dengan melarang, tapi dengan menentukan apa yang dianggap benar, apa yang dianggap penting, dan siapa yang berhak berbicara tentangnya.
Ledakan terminologi adalah mesin produksi kebenaran tunggal – dan kebenaran tunggal selalu membutuhkan keheningan paksa dari semua suara yang berbeda.
Mengguncang Kesadaran Kritis
Ledakan terminologi bukan sekadar permainan kata. Ia adalah kekerasan simbolik dalam terminologi Pierre Bourdieu. Kekerasan yang tidak tampak mencolok dan agresif, yang bekerja tanpa paksaan langsung, yang tidak terlihat menindas.
Ia menormalisasi ketimpangan sambil merancang persetujuan dari masyarakat yang bahkan tidak menyadari bahwa mereka sedang dipaksa untuk setuju.
Kekerasan itu beroperasi senyap – melalui kata-kata yang kita baca di spanduk sosialisasi, istilah yang kita dengar dalam forum diskusi, simbol yang kita pakai sehari-hari, nama yang kita sapa dalam kampanye energi.
Di tingkat tapak, ia tidak lagi hadir dalam wujud para ahli geologi, peneliti dan antropolog atau pejabat dengan kawalan ketat aparat keamanan.
Ia tidak lagi hanya bekerja dengan merampok sistem dan struktur yang menciptakan regulasi dan kebijakan pro pasar.
Ledakan terminologi adalah ancaman riil, sebagaimana agenda geotermal itu sendiri. Bukan hanya ancaman terhadap kelestarian lingkungan, tapi terhadap kemampuan kita berpikir bebas, terhadap hak komunitas untuk mendefinisikan diri mereka sendiri, terhadap keberagaman suara dalam ruang demokrasi yang seharusnya terbuka.
Tulisan ini merupakan peringatan darurat, awasan terhadap fenomena yang bisa saja tanpa sadar membuat kita terperangkap di dalamnya.
Apa yang terjadi pada kasus ledakan terminologi menjadi materi pembelajaran penting untuk melacak geliat penaklukan dan penguasaan secara sistematis melalui teks, bahasa atau nama.
Semua yang bergerak dalam diam, yang tersembunyi di balik kata-kata yang terdengar baik, yang menyamarkan kepentingan dalam jubah ilmu dan kemajuan – jauh lebih berbahaya dari apa yang kita kira.
Servasius Masyudi Onggal adalah anggota Komunitas Pemuda Poco Leok. Ia terlibat dalam advokasi menolak proyek geotermal di kampungnya yang dikerjakan PT Perusahaan Listrik Negara dan dibiayai bank asal Jerman.
Editor: Ryan Dagur


