Di Pinggir Labuan Bajo, Warga Cumbi Berbagi Sumber Air dengan Kerbau

Warga mengandalkan air kali, membeli air sumur bor dan menampung hujan. Rencana jaringan air bersih terkendala lahan dan anggaran; peluang pendanaan pada 2028 pun belum pasti.

Floresa.co – Dua batang kayu bercabang, masing-masing berukuran sekitar satu meter, berdiri di samping rumah Viktor Frumentius di Kampung Cumbi, Desa Warloka, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat. Di atasnya, dua lembar seng dipasang sebagai talang penampung air hujan.

Di ujung talang itu berjejer sebuah drum berkapasitas 120 liter, dua baskom berisi air dan sebuah jeriken kosong. Air dari atap rumah mengalir melalui seng menuju drum.

Setelah drum penuh, Regina Gembong, istri Viktor, memindahkan air ke baskom dan jeriken. Pasangan itu memanfaatkan hujan yang turun pada 1 dan 2 November untuk mengisi wadah-wadah mereka.

Floresa melihat penampungan tersebut saat mendatangi rumah mereka pada 3 November. Bagi Regina, hujan membantu memenuhi kebutuhan mandi dan mencuci, tetapi tidak menggantikan air yang harus dibeli untuk minum dan memasak.

“Di sini susah air karena tidak ada mata air. Beruntung kemarin sudah mulai hujan,” kata Regina merujuk pada hujan yang mengguyur wilayah itu dua hari terakhir.

“Hujan ini berkah bagi kami. Kalau hujan tiba, kami sangat senang,” tambah perempuan 50 tahun itu.

Kendati demikian, kata dia, air hujan tidak bisa diminum, tetapi “hanya untuk mandi dan cuci.”

Untuk minum dan memasak, menurut Regina, warga membeli air dari seorang tetangga yang memiliki sumur bor. Harganya Rp25 ribu untuk setiap drum berkapasitas 120 liter.

“Saya biasanya beli dua drum. Biasanya dipakai satu hingga dua minggu untuk keperluan masak dan minum. Tetapi, akan cepat habis kalau dipakai juga untuk keperluan lain,” katanya.

Talang yang disiapkan keluarga Viktor Frumentius menampung air hujan. (Dokumentasi Floresa)

Selain membeli air, warga sempat menerima bantuan. Regina mengatakan Palang Merah Indonesia (PMI) Cabang Manggarai Barat tiga kali mendistribusikan air ke kampung mereka setelah gempa bermagnitudo 7,7 mengguncang Pulau Flores pada 15 Agustus 2026.

“Bantuan dari PMI sampai penuh drum dan wadah-wadah yang lain. Bantuan itu disalurkan sekitar bulan September,” katanya.

Kepala Urusan Tata Usaha dan Umum Desa Warloka, Frans Falen, mengatakan bantuan itu diangkut dengan mobil tangki. Ia menyebut kapasitas tangki sekitar 12 liter.

“Di bulan September pendistribusian sebanyak dua kali dan setiap kali distribusi ada dua mobil yang datang. Di bulan Oktober satu kali distribusi,” katanya.

Regina juga menyebut bantuan air dari Polres Manggarai Barat pada 24 Agustus.

Dalam keterangannya, Kapolres AKBP Christian Kadang mengklaim, bantuan 20 ribu liter air bersih yang diangkut menggunakan mobil tangki itu menyasar 100 kepala keluarga (KK).

Menurut Christian, Kampung Cumbi mendapat perhatian karena belum terjangkau jaringan air bersih.

Ia mengatakan musim kemarau memperberat kondisi itu karena sumber air warga mulai berkurang.

Christian menyebut distribusi tersebut sebagai respons Polri terhadap kebutuhan warga setelah gempa dan selama musim kemarau.

“Dampak gempa serta musim kemarau kali ini sangat dirasakan warga, khususnya di wilayah pemukiman yang belum terakses jaringan air bersih. Penyaluran 20 ribu liter air bersih ini merupakan langkah cepat kami untuk memastikan kebutuhan mendasar masyarakat dapat terpenuhi,” katanya.

Personel Polres Manggarai Barat saat mendistribusikan bantuan air minum bersih kepada warga Kampung Cumbi pada 24 Agustus 2026. (Dokumentasi Humas Polres Manggarai Barat)

Namun, Regina mengatakan bantuan PMI dan Polres belum menjangkau semua warga. Lokasi rumah menjadi kendala bagi mereka yang tinggal jauh dari jalan.

“Warga yang rumahnya jauh dari jalan tidak kebagian,” katanya. 

Berbagi Sumber Air dengan Kerbau

Bantuan air datang sesekali. Sementara itu, menurut Regina, selama bertahun-tahun warga menimba air, mandi dan mencuci di Kali Kerbok serta Kali Wae Galung.

“Kali Wae Galung airnya agak stabil, tetapi di Kali Kerbok tidak stabil karena memang kali mati,” katanya.

Viktor mengantar Floresa ke kedua kali yang berjarak sekitar 300 dan 500 meter dari rumahnya.

Di Kali Wae Galung, genangan air masih terlihat setelah hujan lebat dua hari berturut-turut.

Genangan itu menyatu dengan sumur sedalam satu setengah meter. Air sumur bercampur dengan air kali.

Floresa melihat tiga ekor kerbau meminum air dari genangan di sekitar sumur. Kerbau-kerbau itu juga membuat kubangan di kali yang menjadi sumber air warga.

“Di sini memang setengah mati dapat air. Kami berebut air dengan kerbau di sini,” kata Viktor.

Seekor kerbau sedang membuat kubangan di Kali Wae Galung. Genangan air di kali tersebut menyatu dengan sumur yang sehari-hari dimanfaatkan warga Kampung Cumbi. (Dokumentasi Floresa)

Frans Falen mengatakan air sumur di Wae Galung berasal dari resapan persawahan di dekatnya. Ketersediaannya bergantung pada air di sawah.

“Ketika di sawah tidak ada air, Kali Wae Galung akan kering,” katanya.

Di Kali Kerbok, warga menggali dua sumur sedalam 50 sentimeter. Saat Floresa mendatangi lokasi itu, salah satunya sudah kering.

Kedua sumur berada di dekat rumpun bambu. Daun-daun kering berguguran dan masuk ke dalam sumur.

Di atas sumur yang masih mengeluarkan air, warga memasang tenda beratap daun kelapa untuk menahan guguran daun bambu.

Viktor dan warga lainnya harus membungkuk untuk menimba air dari sumur dangkal itu.

“Saya harus kasih keluar dulu daun-daun yang jatuh di dalamnya baru bisa dapat air yang agak bersih,” kata Viktor.

Viktor Frumentius, warga Kampung Cumbi, Desa Warloka saat menimba air dari sumur sedalam 50 sentimeter di Kali Wae Kerbok pada 3 November 2026. (Dokumentasi Floresa)

Selain kedua kali tersebut, Viktor menunjukkan sebuah sumur bor di areal persawahan dekat Kali Wae Galung.

Menurut Viktor, Dinas Pertanian membangun sumur itu untuk menyiram tanaman sayur.

Namun, kata dia, hanya ada satu warga yang memanfaatkannya karena “tidak banyak warga yang menanam sayur.”

Ia berkata, warga tersebut membeli pipa untuk menyalurkan air ke kebun sayur di dekat rumahnya dan “hanya dia yang rutin mengisi pulsa meteran listrik.”

“Kalau kami mau pakai air tersebut, maka kami harus beli pipa sendiri dan patungan isi pulsa meteran,” kata pria 59 tahun itu.

Viktor mengatakan Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Manggarai Barat juga pernah membangun sumur bor sedalam sekitar 40 meter di belakang rumah Frans pada 2019. Namun, menurutnya, air sumur itu asin dan debitnya kecil.

“Kalau pakai untuk mandi, kulit terasa kasar. Kalau dimasak rasanya seperti garam sehingga tidak dipakai sama sekali. Sekarang sudah ditutup. Anggarannya jadi terbuang saja,” katanya.

Frans berkata, air yang keluar dari sumur itu “tidak mencapai 1.000 liter dalam satu hari” sehingga tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan 116 KK di Kampung Cumbi.

Sumur bor yang dibangun Dinas Pertanian Manggarai Barat di dekat Kali Wae Galung. (Dokumentasi Floresa)

Rencana Reservoir dan Hibah Lahan

Upaya menghadirkan jaringan air bersih ke Cumbi sempat memasuki tahap survei. Viktor mengatakan pegawai Dinas Cipta Karya, Tata Ruang, Perumahan dan Permukiman Manggarai Barat mendatangi kampungnya sekitar akhir 2024 untuk mencari lokasi bak penampung.

Menurut Viktor, bak itu direncanakan menampung air dari mata air Wae Cumpe di Kampung Mbuhung, Desa Tiwu Nampar, yang dikelola Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Wae Mbeliling.

Seorang warga, kata Viktor, ketika itu bersedia menghibahkan tanah untuk pembangunan bak. Kesediaan tersebut kemudian dibatalkan.

“Namun, ia membatalkannya karena tidak ada pembahasan lanjutan di tingkat desa,” katanya.

Sekretaris Desa Warloka, Muhamad Iqbal, menjelaskan bahwa air Wae Cumpe semula direncanakan untuk Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Warloka. Jalur pipanya melewati Kampung Kenari di Desa Warloka dan Kampung Mbuhung.

Karena itu, pemerintah desa dan warga meminta agar air tersebut juga dialirkan ke kedua kampung tersebut dan “waktu itu pemerintah daerah melayani permintaan itu.”

Iqbal mengatakan pemerintah desa kemudian mengusulkan agar jaringan itu menjangkau Kampung Cumbi.

Menurutnya, pemerintah daerah menyetujui usulan tersebut dan meminta data jumlah rumah di Cumbi.

Iqbal membenarkan bahwa pegawai Dinas Cipta Karya bersama Perumda Wae Mbeliling telah menyurvei lokasi pembangunan reservoir.

Dalam survei itu, kata Iqbal, jalur pipa dari Kenari menuju Cumbi ditentukan melewati SMP Negeri 4 Komodo.

Ia menambahkan, pihaknya sudah meminta Tua Golo atau Kepala Kampung Cumbi, Rafael Bahasa untuk menggelar musyawarah terkait “apakah ada warga yang mau menghibahkan tanahnya untuk pembangunan bak.”

“Pemda kan minta tanah untuk pembangunan bak. Kami serahkan urusan tersebut ke Tua Golo. Menurut beliau, lahannya sudah ada hanya belum dibuat surat hibah,” katanya kepada Floresa pada 5 November.

“Namun, setelah dikonfirmasi kembali, ternyata yang punya lahan itu tidak mau kasih. Setelah itu rencana pembuatan baik itu menggantung saja,” tambah pria 30 tahun itu.

Namun, setelah beberapa kali musyawarah di tingkat kampung, kata Iqbal, ada seorang warga yang bersedia menghibahkan tanahnya untuk pembangunan bak itu.

Ia berkata, lahan itu “berdekatan dengan lahan yang pertama.” 

“Lahannya juga kalau dilihat bagus dan strategis karena ada di puncak bukit. Kemarin juga sudah dibuatkan surat hibah untuk lahan itu,” katanya.

Sekretaris Desa Warloka, Muhamad Iqbal saat diwawancarai Floresa pada 5 November 2026. (Dokumentasi Floresa)

Dalam dokumen hibah yang diperoleh Floresa disebutkan bahwa Marselinus Weng selaku pihak pertama “dengan ikhlas dan tanpa paksaan dari pihak manapun, menghibahkan sebagian dari sebidang tanah miliknya kepada Pemerintah Desa Warloka selaku pihak kedua untuk pembangunan bak penampung/reservoir air bersih PDAM.”

Sebutan PDAM atau Perusahaan Daerah Air Minum dalam surat tersebut merujuk pada Perumda Wae Mbeliling.

Lahan yang disebut dalam surat itu berukuran 10 x 10 meter atau 100 meter persegi, terletak di Kampung Cumbi dan berbatasan dengan tanah milik Weng.

Surat itu memuat lima ketentuan; Pertama, hibah tersebut diberikan secara sukarela, tanpa ada ganti rugi dalam bentuk apapun, baik uang maupun barang.

Kedua, sejak surat itu ditandatangani, tanah tersebut sepenuhnya menjadi aset desa dan untuk digunakan kepentingan umum.

Ketiga, pihak pertama beserta keturunannya tidak akan menuntut kembali tanah tersebut di kemudian hari kepada pihak kedua maupun ahli warisnya.

Keempat, apabila di kemudian hari bak tersebut tidak dimanfaatkan lagi, maka tanah yang dihibahkan dikembalikan kepada Weng.

Kelima, apabila pihak pertama dan pihak kedua melanggar ketentuan tersebut, maka keduanya bersedia dituntut secara pidana ataupun perdata berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Surat hibah ditandatangani pada 8 Oktober 2026 oleh Weng dan Kepala Desa Warloka, Suwandi, serta 11 saksi. Di antara para saksi itu terdapat Rafael Bahasa, Tua Golo Cumbi, dan Fransiskus Jamat, Kepala Dusun Cumbi.

“Kami juga sudah konfirmasi ke Pemda (Dinas Cipta Karya) bahwa lahannya sudah ditemukan. Tapi mereka kirim semacam link permohonan, tujuannya itu ke provinsi. Suratnya sudah dikirim, tapi belum ada respons,” kata Iqbal.

Surat yang disebut Iqbal adalah pernyataan minat dan kesediaan menerima barang/infrastruktur kegiatan Penyediaan Air Minum Berbasis Masyarakat (Pamsimas), yang ditujukan kepada Kementerian Pekerjaan Umum pada 24 Oktober.

Pengajuan tersebut merespons program Pamsimas Direktorat Jenderal Cipta Karya untuk tahun anggaran 2027.

Menunggu Anggaran, Belum Ada Kepastian pada 2028

Kepala Dinas Cipta Karya, Tata Ruang, Perumahan dan Permukiman Manggarai Barat, Severinus Kurniadi mengatakan Kampung Cumbi dan Warloka sempat masuk dalam rencana penerima manfaat Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Tiwu Nampar.

Menurut Severinus, SPAM tersebut dikerjakan pada 2023 oleh Balai Prasarana Permukiman Wilayah NTT, di bawah Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, dengan anggaran hampir Rp11 miliar.

Merujuk Layanan Pengadaan Secara Elektronik, pagu pembangunan SPAM itu adalah Rp10.755.155.000 yang bersumber dari APBN 2023.

Penelusuran Floresa menemukan bahwa SPAM tersebut ditargetkan melayani lebih dari 200 KK di Desa Tiwu Nampar  serta mendukung kebutuhan infrastruktur di sekitar TPA Warloka.

Severinus menyebut kapasitas SPAM itu 150 kubik atau 150.000 liter per hari. Menurutnya, kapasitas tersebut masih memungkinkan perluasan layanan ke Kampung Cumbi dan Warloka, serta Kampung Nalis di Desa Macang Tanggar.

“Dalam hitungan awal memang Kampung Cumbi dan Warloka salah satu penerima manfaatnya. Hanya karena kekurangan anggaran saja dulu makanya hanya bisa cover Kampung Kenari,” kata Severinus kepada Floresa pada 5 November.

Severinus juga membenarkan survei lokasi reservoir di Cumbi yang dilakukan instansinya bersama Perumda Wae Mbeliling.

Menurutnya, “di sana memang harus dibuat bak karena topografinya landai.”

Ia mengatakan reservoir perlu dibangun di lokasi yang lebih tinggi, dekat Kapela Stasi Bunda Segala Bangsa Cumbi.

Menurutnya, air dari reservoir tersebut juga direncanakan mengalir ke Kampung Nalis melalui jalur tersendiri.

“Kalau misalnya langsung dari bak induk di Mbuhung, otomatis di daerah rendah tidak dapat air. Kan rendah dulu baru naik ke gereja setelah itu baru turun lagi ke Nalis. Pasti bebannya nanti ke Nalis itu tidak keluar air,” katanya.

“Mengalir dulu ke bak di gereja. Dari gereja baru dibagi ke barat daya. Ke arah Nalis itu harus jalur tersendiri. Nanti bisa diatur pemakaiannya. Kalau bergilir ya, ke mana dulu,” tambahnya.

Kepala Dinas Cipta Karya, Tata Ruang, Perumahan dan Permukiman Kabupaten Manggarai Barat, Severinus Kurniadi saat diwawancarai Floresa pada 5 November 2026. (Dokumentasi Floresa)

Instansinya, kata Severinus, telah menyusun Rencana Anggaran Biaya untuk pembangunan bak, pengadaan pipa dan meteran di Cumbi.

Severinus menyebut kebutuhan anggaran untuk mengalirkan air dari SPAM Tiwu Nampar ke Cumbi sebesar Rp5.011.128.000. Angka itu merupakan perhitungan untuk usulan anggaran 2025 yang disiapkan pada 2024, bukan perhitungan baru.

“Itu hitungangan dua tahun lalu. Kan anggaran 2025, kita ajukan di tahun 2024. Itu targetnya kalau kita dapat Dana Alokasi Khusus (DAK) air bersih dan sanitasi,” katanya.

Severinus menyebut pembangunan jaringan air minum di Cumbi sebagai prioritas instansinya. 

Namun, kata dia, instansinya belum bisa mengeksekusi rencana tersebut karena dua tahun terakhir dan tahun depan “DAK tidak diprioritaskan untuk air minum.”

Menurut Severinus, DAK yang diterima pada 2025 dan 2026 hanya untuk sanitasi. Untuk 2027, ia menyebut alokasinya hanya untuk pembangunan Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle.

“Itu saja yang kita dapat. Tunggu lagi 2028, ada atau tidak nanti. Maunya ada lagi DAK untuk air bersih dan sanitasi,” katanya. 

Selain pendanaan, Severinus mengatakan pengusulan DAK untuk jaringan air minum memerlukan data dan dokumen sesuai permintaan Kementerian Pekerjaan Umum.

Dokumen itu, menurutnya, mencakup potensi air, jumlah calon penerima manfaat dan lahan reservoir yang telah disertifikatkan atas nama pemerintah daerah.

“Lahan harus sudah siap dan harus sudah dengan sertifikat. Tidak cukup dengan dokumen hibah. Sekurang-kurangnya sudah terdaftar di Badan Pertanahan Nasional (BPN) untuk disertifikatkan,” katanya.

“Kan lahan dihibahkan ke Pemda. Dari Pemda ada pengajuan sertifikat ke BPN. Minimal ada surat itu. Kalau tidak ada, bisa tidak lolos usulannya,” tambahnya.

Viktor Frumentius saat menjelaskan kondisi air di Kali Wae Kerbok pada 3 November 2026. (Dokumentasi Floresa)

Di tengah rencana jaringan yang belum terlaksana, Viktor Frumentius menyoroti letak Kampung Cumbi yang berdekatan dengan kawasan pengembangan ekonomi dan pariwisata nasional.

Cumbi berjarak sekitar 12 kilometer di selatan Labuan Bajo, kota yang ditetapkan sebagai destinasi pariwisata super premium.

Dari The Golo Mori, jaraknya sekitar enam kilometer. Kawasan pariwisata itu dikembangkan PT Pengembangan Pariwisata Indonesia (Persero) atau ITDC, badan usaha milik negara yang juga mengelola Nusa Dua di Bali dan Mandalika di Nusa Tenggara Barat.

Viktor berkata, “kami mengharapkan uluran hati nurani dari pemerintah untuk melihat kekurangan air di kampung kami.”

“Kami sangat mengharapkan agar di saat musim kemarau panjang, kami tidak kekurangan air minum,” katanya.

Laporan ini dikerjakan oleh Doroteus Hartono dan Herry Kabut

Editor: Ryan Dagur

Dukung Kami

Ada cerita yang terlalu berisiko untuk diberitakan, korban yang terlalu lemah untuk didengar, dan mereka yang terlalu berkuasa untuk disentuh.
Floresa memilih memberi perhatian pada semua itu. Kami tidak bergantung pada iklan korporasi atau kepentingan politik. Independensi kami dibiayai oleh pembaca yang percaya bahwa kebenaran harus diungkap tanpa kompromi.
Dukung kami untuk terus bertahan. Caranya bisa cek di sini

BACA JUGA