Irigasi Rusak Akibat Gempa, 90 Hektare Sawah di Manggarai Timur Mengering, Pemda Janji Renovasi Tahun Depan

 Floresa.co  – Tanah di petak-petak persawahan Lame, Manggarai Timur, tampak pecah-pecah dan menganga tanda kekurangan air ketika Floresa mendatangi lokasi itu pada 30 Oktober siang.

Sebagian daun padi di petak-petak itu sudah menguning, meski baru setinggi sekitar 30 sentimeter. Belum ada tanda-tanda tangkai bulir padi muncul di antara rumpun dedaunan itu.

Di pinggir area persawahan itu, saluran irigasi kering dan ditumbuhi rumput liar. Tidak ada petani yang bekerja di hamparan sawah di Desa Golo Lobos, Kecamatan Lamba Leda Selatan itu.

Berjarak sekitar satu kilometer ke arah utara dari Kampung Lame atau dua kilometer dari Jalan Trans Flores, sebagian jalan menuju lokasi itu sudah diaspal, sementara bagian lainnya masih berupa berbatu. Pohon-pohon cengkih yang baru selesai dipanen berjejer padat di kiri-kanan jalan tersebut.

Aventus Seman, seorang warga yang ditemui Floresa berkata tanaman padi di sepuluh “petak kecil” sawah keluarganya seluas total 9 x 25 meter tidak bisa bertahan hidup karena ketiadaan air.

“Panen kedua dalam setahun biasanya pada bulan Desember, sesudah panen pertama pada Juni,” katanya.

“Kali ini kita tidak tahu harus makan dari mana lagi,” tambahnya. Dari petak-petak sawah itu, Aventus biasanya mendapatkan maksimal lima karung gabah setiap kali musim panen.

Kekeringan di persawahan itu terjadi usai gempa Flores pada 15 Agustus merusak Irigasi Wae Reno, satu-satunya sumber air bagi persawahan warga.

Pantauan Floresa, salah satu bagian irigasi tersebut rusak tertimbun tanah, pasir dan batu longsoran dari tebing di pinggir Jalan Trans Flores, sekitar 100 meter sebelah timur Jembatan Wae Reno, perbatasan Kabupaten Manggarai dan Manggarai Timur.

Bagian lain saluran dari beton itu kering, hanya tanah dan dedaunan kering yang menumpuk di atasnya.

Keresahan warga juga disuarakan melalui media sosial. Pada 1 November, Tuun Barut, pemuda asal Lame mengunggah video berdurasi 19 detik di akun Facebook pribadinya yang memperlihatkan kondisi persawahan tersebut.

Dalam takarirnya, ia menyampaikan permintaan langsung kepada Bupati Manggarai Timur, Andreas Agas.

“Tolong lihat ini dulu kah Andreas Agas,” tulisnya.

Tuun menyebut kondisi sawah di Lame “memprihatinkan sekali”. Kerusakan saluran irigasi, menurutnya, membuat petani kebingungan karena tidak memiliki air untuk mengolah lahan.

“Mau tanam padi tidak ada air, mau tanam sayur juga tidak ada air,” tulisnya.

Saluran Irigasi Wae Reno yang tertimbun tanah, pasir dan batu membuat air tak bisa mengalir menuju area persawahan warga Lame, Desa Golo Lobos, Kecamatan Lamba Leda Selatan, Manggarai Timur. (Dokumentasi Floresa)

Kepala Desa: “PUPR Sudah Datang Survei”

Kepala Desa Golo Lobos, Emanuel Pati Ati Wajong berkata, kerusakan Irigasi Wae Reno menyebabkan 90 hektare sawah mengering sejak gempa.

“Ada 60 KK yang menjadi korban,” katanya pada 30 Oktober.

Emanuel berkata, usai gempa 15 Agustus, pihaknya segera melaporkan persoalan tersebut kepada Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang dan Dinas Pertanian Manggarai Timur.

“Dari PUPR sudah datang survei. Mereka janji akan tuntaskan sebelum akhir tahun ini,” katanya menyebut survei dilakukan pada pertengahan Oktober.

Bersama dua perwakilan warga, termasuk Tua Adat Gendang Lame, ia juga mendatangi Komisi C DPRD di Borong. Namun, katanya, jawaban yang diterima belum memberikan kepastian mengenai perbaikan irigasi.

“Mereka (anggota DPRD) bilang sabar dulu, kami masih koordinasi dengan dinas PUPR, tapi informasi soal irigasi yang rusak sudah masuk dalam pembahasan anggaran perubahan,” katanya.

“Kami masih menunggu, hanya kami tidak tahu itu kapan. Kami juga ada bikin proposal. Saya sudah punya data dan mengusulkan rehab pemeliharaan irigasi Wae Reno,” tambahnya.

Emanuel mengakui keterbatasan kewenangan pemerintah desa dalam menangani kerusakan tersebut. Ia berulang kali mengatakan kerusakannya “parah” karena terjadi di area tebing yang curam, sehingga membutuhkan intervensi dana yang tidak sedikit.

Kepala Desa Golo Lobos, Emanuel Pati Ati Wajong, saat ditemui Floresa di area persawahan warga Lame pada 30 Oktober 2026. (Dokumentasi Floresa)

Kadis PUPR Usulkan Perbaikan Tahun Depan

Menanggapi persoalan tersebut, Kepala Dinas PUPR, Ferdinandus Mbembok berkata, kerusakan Irigasi Wae Reno telah ditinjau dan dievaluasi secara teknis oleh tim lapangan.

Ia menyebut kerusakan tersebut menyangkut struktur konstruksi, bukan sekadar sedimentasi atau kebutuhan pembersihan ringan.

“Penanganan tidak dapat dilakukan melalui skema darurat atau pemeliharaan rutin di lapangan,” katanya kepada Floresa pada 4 November.

Karena itu, Ferdinandus berkata, perbaikan Irigasi Wae Reno masuk dalam kategori rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana yang pendanaannya akan diusulkan pada Tahun Anggaran 2027.

Dinas PUPR juga akan mengajukan penanganan melalui Balai Wilayah Sungai atau Balai SDA Kementerian PUPR untuk memperoleh dukungan anggaran dari pemerintah pusat.

Mengenai waktu pengerjaan, Ferdinandus berkata penanganan fisik diharapkan dapat dimulai setelah alokasi anggaran disetujui dan ditetapkan dalam dokumen anggaran resmi.

“Kami sangat memahami kekhawatiran masyarakat, khususnya (karena) 60 kepala keluarga dan 90 hektare sawah yang bergantung pada irigasi itu terancam gagal panen. Pemerintah daerah berkomitmen mengawal usulan agar penanganan permanen dapat segera terealisasi,” katanya.

Editor: Anno Susabun

Dukung Kami

Ada cerita yang terlalu berisiko untuk diberitakan, korban yang terlalu lemah untuk didengar, dan mereka yang terlalu berkuasa untuk disentuh.
Floresa memilih memberi perhatian pada semua itu. Kami tidak bergantung pada iklan korporasi atau kepentingan politik. Independensi kami dibiayai oleh pembaca yang percaya bahwa kebenaran harus diungkap tanpa kompromi.
Dukung kami untuk terus bertahan. Caranya bisa cek di sini

BACA JUGA