Warisan Sr. Virgula Schmitt, SSpS Terus Hidup di Tanah Flores

Karya yang dirintis biarawati asal Jerman pada enam dekade silam itu tetap bergerak dalam tubuh-tubuh yang dirawat, anak-anak yang belajar percaya diri, dan alumni Damian yang melangkah keluar dari panti untuk mandiri menata hidup.

Floresa.co – Selama bertahun-tahun, Vitalia Jemina membawa rasa sakit dalam hari-hari di Rego, sebuah kampung di Kecamatan Macang Pacar, Kabupaten Manggarai Barat.

Kakinya membengkak, luka di kulit tak kunjung pulih, dan tulang terasa nyeri. Perempuan 33 tahun itu menjalani hidup dengan pertanyaan yang terus berulang: apa penyebabnya dan bagaimana ia bisa sembuh?

Pada 2022, sebuah perjumpaan dengan Suster Angela Rosa, SSpS menjadi titik balik hidupnya. Suster yang sedang pulang kampung tersebut tidak hanya melihat luka di kaki seorang kerabat; ia melihat seseorang yang membutuhkan pertolongan segera.

Suster Rosa lalu membawa Vita ke Rumah Sakit Santo Rafael Cancar. Semula, kondisi itu sempat diduga sebagai kusta. Namun, pemeriksaan dokter menunjukkan ia mengalami gangguan pada kulit dan tulang kaki.

Kabar itu tidak langsung menghapus sakit yang Vita tanggung. Namun, hasil pemeriksaan tersebut membuka jalan baru: ia dapat dirawat, dipantau, dan perlahan-lahan dituntun keluar dari ketidakpastian yang membayangi tubuhnya.

Dari Cancar, Vita masuk ke jejaring pelayanan Panti Rehabilitasi Kusta dan Penyandang Disabilitas Santo Damian, karya sosial para suster SSpS atau Suster-Suster Misionaris Abdi Roh Kudus.

Di panti ini, sakitnya tidak hanya diperlakukan sebagai urusan medis, tetapi juga sebagai pintu untuk memulihkan hidup.

Setelah tiga bulan dirawat di Rumah Sakit Santo Rafael, Vita dipindahkan ke Panti Binongko di Labuan Bajo, cabang Damian Cancar. Di kota pariwisata di ujung barat Flores itu, ia lebih mudah menjalani kontrol dengan dokter spesialis tulang dan kulit.

Hidup Vita pun menemukan irama baru: dua kali operasi, kontrol rutin hampir setiap dua minggu, perawatan luka, dan kerja harian sesuai kemampuan.

“Saya merasa sangat bersyukur,” kata Vita kepada Floresa dalam wawancara di Binongko.

Vita adalah orang tua tunggal. Ia memiliki seorang putri yang kini duduk di bangku SMP. Putrinya itu hidup bersama omanya di kampung sejak ia masuk Damian. Ketika suatu hari ia berlibur ke Binongko, para suster melihat kemungkinan lain: ia bisa tinggal dekat dengan Vita, sekaligus melanjutkan sekolah di Labuan Bajo.

Saat memperlihatkan anaknya kepada Floresa, Vita berkata ia menemukan alasan untuk terus berjuang, menata masa depan.

Vitalia Jemina saat diwawancarai di Panti Binongko. (Dokumentasi Floresa)

Bertahan Enam Dekade

Panti Damian Cancar dan Binongko merupakan bagian dari warisan karya Suster Virgula Schmitt, SSpS, biarawati asal Jerman. Cancar berada di Kecamatan Ruteng, sementara Binongko di sebelah utara pusat kota Labuan Bajo, ujung barat Pulau Flores.

Virgula tiba di Manggarai pada 1966 dan menaburkan benih pelayanan awal di Cancar, sebelum karya itu melebar ke Binongko 30 tahun kemudian.

Menurut Suster Lidwina Mamung, SSpS yang kini memimpin Panti Binongko, Virgula satu-satunya anak perempuan di antara sepuluh bersaudara.

Keluarganya sempat keberatan dengan pilihannya menjadi biarawati. Namun, ia bergeming, hingga tiba di Flores yang kala itu masih mengalami berbagai keterbatasan, termasuk di bidang layanan medis.

Pada awal misinya, kata Lidwina, Suster Virgula segera tergerak memberi perhatian pada dua kelompok yang kala itu paling distigmatisasi: penderita kusta dan anak-anak dengan disabilitas fisik.  

Ia lalu belajar penanganan kusta ke Jakarta, sebelum mulai membangun panti di Cancar. Ia menyematkan Damian pada nama panti, merujuk pada Santo Damian dari Molokai, imam Belgia yang melayani koloni kusta di Hawaii hingga tertular dan meninggal.

Sejak awal, kata Lidwina, Virgula tidak mau menyebut tempat itu sebagai panti asuhan, melainkan panti rehabilitasi. Ada alasan di balik penamaan itu.

“Ia selalu berkata bahwa ‘Saya tidak membesarkan anak orang lain. Saya memberdayakan mereka,’” kata Lidwina.

Kalimat itu kemudian menjadi napas karya Damian: tidak memelihara ketergantungan, melainkan menuntun orang menemukan kembali daya hidup mereka.

Di panti ini, kata Lidwina, mereka yang datang dengan luka dan keterbatasan tertentu, tidak hanya dirawat, tetapi juga diajak belajar, bekerja, berdoa, dan percaya bahwa tubuh mereka tetap dapat menjadi jalan untuk berkarya.

“Penghuni tidak diperlakukan sebagai objek belas kasihan,” kata Lidwina.

Karena itu, mereka belajar membuat kerajinan tangan, menganyam kursi rotan, menyulam, mengukir kayu, menjahit, memimpin doa, dan dilatih berbicara di depan umum.

Sr. Lidwina Mamung, SSpS berdiri membelakangi panti di Panti Binongko. (Dokumentasi Floresa)

Kekuatan Kata-Kata Virgula

Virgula kembali ke Eropa pada tahun 2011 karena kondisi kesehatannya yang menurun. Ia meninggal pada 27 Juni 2022, dalam usia 93 tahun. Tanggal kematiannya kini diperingati setiap tahun oleh komunitas Damian — bukan dalam duka, melainkan dalam syukur.

Sementara Vita merasakan buah karyanya lewat penerus Virgula, Agustinus Suryanto, 37 tahun, menjadi contoh hidup yang pernah merasakan langsung sentuhanya.

Sur, sapaannya, masuk ke lingkungan Damian sejak kecil. Pada 2000–2006 ia tinggal di Damian Cancar, bersekolah di luar panti, sempat SMP di Ruteng, lalu kembali ke Cancar saat SMA.

Ia tumbuh dengan disabilitas fisik dalam keluarga sembilan bersaudara; lima di antaranya juga mengalami disabilitas. Tiga orang kemudian masuk ke Damian. Tak ada dokter yang mampu mendiagnosis pemicunya.

Sur mengatakan sejak kecil ia akrab dengan tatapan, pertanyaan polos yang menyakitkan, dan ejekan yang membuat tubuhnya seperti barang tontonan.

“Kalau tidak siap secara mental, kita bisa memilih tidak mau keluar rumah atau tidak mau berinteraksi lagi,” katanya.

Setelah bertemu Virgula, ia mulai belajar melihat dirinya dari sisi lain. Yang paling ia ingat dari suster itu bukan terutama aturan, melainkan cara memperlakukan mereka.

“Beliau sangat menghargai setiap pribadi, tidak peduli latar belakangnya apa,” katanya.

Kata-katanya, jelas Sur, menjadi salah satu penopang penting untuk mengubah pola pikir mereka.

“Kepada anak yang tidak memiliki tangan, ia berkata: kamu masih punya kaki untuk berkarya, berjalan, menulis, dan melakukan banyak hal,” kata Sur.

Pesan lain yang juga terus melekat di lubuk hatinya: “Kalau kamu bilang kamu bisa, kamu pasti bisa. Di balik kondisi ini pasti ada sesuatu yang bisa membuatmu hidup.”

Menurut Sur, pesan itu mendorong ia dan anak-anak di Damian berlatih dan bekerja lebih keras, melampaui hal-hal yang sebelumnya mereka kira tidak mungkin dilakukan.

“Keterampilan memulihkan rasa percaya diri. Kalau kita bisa melakukan sesuatu yang positif, otomatis kita merasa berharga,” katanya.

Agustinus Suryanto. (Dokumentasi Floresa)

Setelah SMA, Sur memilih kursus administrasi komputer di Ruteng dan Bali, lalu mengikuti berbagai pelatihan dari pemerintah dan LSM.

Kini ia bekerja sebagai sekretaris di Panti Binongko, sekaligus mengelola usaha perjalanan wisata Surya Flores Tour di Labuan Bajo.

Usaha jasa wisata itu ia bangun sejak 2016, setelah sering mengikuti kegiatan komunitas disabilitas di Yogyakarta dan Jakarta. Dari pertemuan-pertemuan itu, ia mendengar banyak orang bertanya tentang Labuan Bajo, kota yang dalam dua dekade terakhir tumbuh pesat sebagai destinasi wisata.

Sur memulai semuanya dari hal-hal dasar: mempelajari destinasi, menghitung harga paket wisata, membaca informasi dari internet, lalu menawarkan perjalanan dengan pendekatan sederhana—harga wajar dan dibicarakan terbuka.

Sebagian besar tamunya datang dari rekomendasi. Pernah, sekitar 20 dokter dari Jakarta memesan tur karena mendengar cerita dari tamu sebelumnya, katanya.

Sementara Sur merintis usaha mandiri, dua saudaranya yang juga pernah dididik di Damian melanjutkan hidup di bidang pendidikan dan layanan sosial. Satu menjadi guru Sekolah Luar Basa, sementara yang lain bekerja di salah satu lembaga perlindungan perempuan dan anak.

Dua Rumah Pemulihan

Sementara Binongko memberi Vita ruang untuk berobat, bekerja sesuai kemampuan, dan mendampingi anaknya bersekolah, Cancar memperlihatkan wajah lain dari karya yang sama: sebuah kompleks besar tempat anak-anak dan dewasa menyusun kembali keberanian, pendidikan, dan masa depan mereka.

Kini, panti itu menampung sekitar 78 orang, dari usia sekitar 8 tahun hingga awal dua puluhan. Mereka datang dari Manggarai, Sumba, Ende, Bajawa, hingga Papua.

“Yang dari Papua itu bukan disabilitas,” kata Suster Beatrix Sero, SSpS, yang memimpin Damian Cancar. “Mereka datang untuk belajar di sini karena kebanyakan berasal dari daerah konflik.”

Sejak 2022, Damian Cancar mengoperasikan sekolah luar biasa agar penghuni tidak hanya menjalani terapi.

Panti Rehabilitasi Kusta dan Disabilitas Cancar di Kabupaten Manggarai. (Dokumentasi Floresa)

Hari-hari mereka mempunyai irama: kegiatan diselingi doa dan adorasi Sakramen Mahakudus pada siang hari.

Beatrix mengatakan hidup bersama anak-anak di Damian menjadi pengalaman yang menguatkan.

“Kadang mereka lebih tekun daripada kami. Itu yang membuat saya sendiri menjadi kuat,” katanya.

Selain jadwal fisioterapi bulanan, Damian Cancar juga menampung anak-anak dengan kondisi lain, termasuk autisme dan down syndrome—kelompok yang pada masa awal Virgula belum banyak dikumpulkan di panti. Saat ini ada sembilan anak autis yang membutuhkan pendampingan intensif.

Untuk anak-anak dengan disabilitas fisik yang sehat secara mental, panti bekerja sama dengan sekolah formal di luar lingkungan Damian, antara lain SD Cancar II, SMP Rai, dan sekolah-sekolah lain.

Saat ini sembilan anak sedang kuliah—dua di Kupang, satu di Solo, dan enam di Ruteng. Ada pula empat siswa SMK, empat siswa SMA, empat siswa SMP, dan lima siswa SD yang bersekolah di luar panti, belum termasuk delapan anak di Binongko.

“Kalau datang hanya terapi saja, mereka jenuh,” kata Suster Beatrix, “karena itu mereka harus punya kegiatan lain, terutama pendidikan.”

Sebuah tim medis dari Australia terus melakukan kunjungan rutin ke Cancar, membawa dokter ortopedi, spesialis bibir sumbing, dan dokter kulit. Kemitraan ini dibangun oleh Virgula dan berlanjut lebih dari satu dekade setelah kepergiannya.

Menurut Suster Lidwina, sejak awal, Panti Binongko didirikan khusus untuk hidroterapi air laut, terutama bagi pemulihan pasien pascaoperasi ortopedi dan bibir sumbing di Cancar.

Suster Virgula membeli tanah di tepi pantai ketika Labuan Bajo masih merupakan kota nelayan yang tenang, dari salah satu keluarga Katolik pertama di wilayah itu.

“Laut ia yakini adalah bagian dari penyembuhan,” kata Suster Lidwina.

Keyakinan itu hampir runtuh ketika sebuah fasilitas cold storage untuk usaha perikanan sempat dibangun di dekat lokasi, membuat air laut berubah merah dan pantai dipenuhi sisa-sisa ikan.

Para suster tidak tinggal diam — mereka ikut berdemo dan memobilisasi dukungan dari warga Labuan Bajo.

“Kami kalah,” kata Suster Lidwina. Namun, ada donatur kemudian mendanai pembangunan kolam terapi darat yang menggunakan air laut. Pelayanan pun berlanjut.

Fasilitas cold storage itu rupanya kemudian bangkrut. Kendati demikian, Suster Lidwina menyebut kini ada ancaman baru.

Berdiri di pesisir panti itu bersama Floresa, ia menunjuk sampah-sampah plastik dan bekas botol yang kini kerap memenuhi pantai.

“Dulu tidak seperti ini. Sampah-sampah ini bisa jadi dari kapal-kapal itu,” katanya sembari menunjuk sejumlah kapal di perairan Labuan Bajo yang tampak jelas dari pantai Binongko.

Perkembangan terbaru ini, kata dia, membuat kini penghuni Binongko jarang menjalani terapi di laut.

Sr. Lidwina Mamung, SSpS di tepi Pantai Binongko, dengan pemandangan sampah plastik di bibir pantai. (Dokumentasi Floresa)

Bergantung Pada Donasi

Kedua panti ini beroperasi hampir sepenuhnya dari donasi—sekitar 99 persen dari anggaran mereka, menurut Suster Beatrix.

Karena itu, kecemasan tentang kebutuhan harian selalu ada. Di Cancar, satu karung beras bisa habis hanya dalam dua hari.

Namun, kata dia, bantuan sering datang tak terduga: pemilik toko di depan panti membawa susu, minyak, beras, atau kebutuhan harian; paroki memberi sumbangan sesekali; jaringan donatur lama yang dibangun Suster Virgula tetap menopang.

“Kadang kami hanya punya beras untuk dua hari,” kata Suster Beatrix. “Lalu tiba-tiba seseorang datang membawa beras.”

Ketika stok di Panti Binongko berlebih, kata dia, para suster di sana meminta Panti Cancar mengambil sebagian.

Keterbatasan tenaga pendamping, terutama untuk pasien yang membutuhkan perhatian intensif, juga menjadi persoalan lain.

“Idealnya satu pasien harus satu penjaga,” kata Suster Beatrix. “Tetapi sekarang tidak seperti itu.”

Sr. Beatrix Sero, SSpS saat diwawancarai di ruang kerjanya. (Dokumentasi Floresa)

Mereka kemudian mencari solusi, dengan melibatkan pasien yang sudah sembuh untuk mendampingi yang lain. Sebagian pendamping adalah mantan pasien yang memilih menetap karena merasa terpanggil mendampingi yang lain, kata Beatrix.

Di unit anak perempuan, misalnya, mantan pasien kusta dan seorang mantan pasien luka bakar kini merawat anak-anak sambil kuliah di Universitas Terbuka. Pendamping laki-laki juga berasal dari mantan pasien.

Dukungan pemerintah ada, terutama melalui penempatan tenaga ASN dan pendampingan kegiatan lapangan, namun belum menjawab semua kebutuhan.

“ASN yang diperbantukan pernah berjumlah empat orang, kini tinggal dua,” kata Beatrix.

Fisioterapis juga berkurang setelah salah satu tenaga dipromosikan menjadi kepala puskesmas.

Kebutuhan paling mendesak, jelas dia, adalah perawat penuh waktu, karena penghuni membutuhkan perhatian medis yang konsisten.

Melangkah Keluar dengan Percaya Diri

Dari ruang-ruang panti, selama enam dekade, buah-buah karya Damian bergerak keluar melalui para alumnusnya.

Sur menyebut di Labuan Bajo saja ada lebih dari 100 keluarga alumni Damian. Mereka bekerja di bengkel, pertukangan kayu, konstruksi, hotel, bandara, layanann pariwisata, pelayanan kesehatan, hingga lembaga pemerintahan.

Sepuluh alumni, kata Suster Lidwina, kini menjadi ASN. Dua di antaranya menjabat sebagai kepala puskesmas, termasuk di Ketang dan Anam, keduanya di Kecamatan Ruteng.

Pada 2010, alumni mendirikan Koperasi Ikatan Damian Labuan Bajo. Anggotanya kini lebih dari 200 orang. Bunga pinjaman dibuat rendah agar bisa membantu anggota merintis usaha.

“Ikatan kami sangat kuat, kadang melebihi hubungan saudara kandung. Kalau ada kebutuhan pekerjaan, kami saling menghubungi,” katanya.

Ia memberi contoh soal usaha pariwisatanya.

“Kalau butuh mobil, guide, atau layanan lain, kami saling menghubungi. Yang penting bagi kami adalah menjaga kepercayaan dan menjaga nama baik bersama,” katanya.

Sur kemudian membeli tanah di Labuan Bajo dari hasil usahanya, sementara sejumlah alumni lain memanfaatkan pinjaman koperasi panti untuk membangun rumah.

Pada Juni tahun ini ia baru saja mendapat anak pertama. Istrinya sesama penghuni Panti Binongko.

Kerja yang Belum Selesai

Di balik cerita para alumni yang berhasil mandiri dan jejak karya Virgula yang terus dirawat, Suster Lidwina menyebut ada sejumlah persoalan yang masih terus dihadapi panti.

Salah satunya berkaitan dengan pola bantuan. Pada masa Suster Virgula, panti pernah membantu membeli tanah bagi sebagian penghuni dan alumni agar mereka memiliki tempat tinggal setelah keluar dari panti.

Suster Virgula membeli sekitar 50 bidang tanah di Nggorang, wilayah pinggiran arah timur Labuan Bajo, masing-masing berukuran sekitar 12 x 25 meter.

Namun, menurut Lidwina, tidak semua bantuan itu berujung pada kemandirian seperti yang diharapkan. Ada penerima yang kemudian menjual tanahnya. Ada pula yang menghadapi masalah lain setelah kembali ke masyarakat.

Pengalaman itu membuat mereka mengubah pendekatan: bantuan tetap diberikan, tetapi pendidikan, keterampilan, dan pendampingan kini lebih ditekankan agar penghuni tidak bergantung sepenuhnya pada pemberian.

“Bantuan memang penting, tetapi mereka juga harus punya bekal,” kata Lidwina, “karena suatu saat mereka kembali ke masyarakat.”

Persoalan lain adalah kusta yang belum sepenuhnya hilang. Lidwina mengatakan kasus-kasus baru masih ditemukan, termasuk di Marombok, yang bersebelahan dengan Nggorang.

Menurut Lidwina, kusta tidak mudah menular karena membutuhkan kontak yang lama. Namun, keterbatasan tenaga spesialis membuat panti tidak selalu dapat menangani kasus dari luar wilayah pelayanan mereka.

Tantangan lain muncul ketika sebagian keluarga membawa pulang penghuni, bukan karena mereka sudah siap hidup mandiri, melainkan untuk memenuhi ketentuan bantuan sosial pemerintah yang mensyaratkan penerima tinggal di rumah.

Menurut Lidwina, kondisi itu tidak selalu diikuti kesiapan keluarga menyediakan lingkungan yang mendukung.

“Sebagian penyandang disabilitas akhirnya lebih banyak berada di dalam rumah dan kehilangan akses terhadap fasilitas yang sebelumnya mereka terima di panti,” katanya.

Padahal, di panti “mereka punya kursi roda, air bersih, teman, dan tujuan hidup.”

Di luar persoalan layanan dan bantuan, stigma terhadap penyandang disabilitas juga masih dirasakan.

Sur mengatakan perlakuan itu tidak selalu muncul dari niat buruk, tetapi tatapan, pertanyaan, dan komentar yang tetap bisa melukai.

Semua itu “tidak selalu disengaja, tapi tetap saja menyakitkan,” katanya.

Sr. Lidwina Mamung, SSpS sedang menemani penghuni Panti Binongko. (Dokumentasi Flores)

Warisan yang Menjaga Harapan Tetap Hidup

Sebelum kembali ke Eropa, Virgula memastikan pelayanan ini memiliki fondasi hukum dan kelembagaan yang mampu bertahan tanpa kehadirannya.

Karena itu, ia mendirikan Yayasan Santo Damian untuk pelayanan sosial, berdampingan dengan Yayasan Dian Yosefa untuk bidang pendidikan dan Yayasan Santo Rafael untuk pelayanan medis.

Kepemimpinan diserahkan kepada suster-suster SSpS pribumi yang telah melayani bersamanya selama bertahun-tahun.

“Spiritnya adalah fondasi dari semua yang kami lakukan. Kami adalah alat Tuhan selama masih ada orang yang membutuhkan kami,” kata Lidwina.

Bagi Vita Jemina, keberadaan Binongko terasa dalam hal-hal harian: jadwal kontrol ke dokter, obat untuk luka luar, insentif bulanan, tugas memasak yang disesuaikan dengan kemampuan tubuhnya, dan perkembangan pendidikan anaknya.

Perubahan paling terasa bagi Vita ada pada anaknya. Pada semester-semester awal, nilai rapornya belum memuaskan.

“Mungkin karena dia harus mengenal lingkungan dulu,” kata Vita. “Tahun ini dia punya perubahan yang bagus,” katanya.

Ia mengaku selalu beraharap putrinya “terus berkembang dalam pendidikannya dan bisa menentukan jalan hidupnya sendiri.”

Untuk dirinya, ia menjawab singkat, hanya berharap “tetap sehat dan kuat,” ungkapan yang secara konkret mencerminkan buah karya Virgula: seorang ibu yang kembali punya alasan untuk bertahan dan menemani putrinya menatap masa depan.

Ryan Dagur dan Adriani Miming berkolaborasi dalam penulisan laporan ini.

Editor: Anno Susabun

Dukung Kami

Ada cerita yang terlalu berisiko untuk diberitakan, korban yang terlalu lemah untuk didengar, dan mereka yang terlalu berkuasa untuk disentuh.
Floresa memilih memberi perhatian pada semua itu. Kami tidak bergantung pada iklan korporasi atau kepentingan politik. Independensi kami dibiayai oleh pembaca yang percaya bahwa kebenaran harus diungkap tanpa kompromi.
Dukung kami untuk terus bertahan. Caranya bisa cek di sini

BACA JUGA