Artikel-artikel yang ditulis oleh

Patrisius Eduardus Kurniawan Jenila

8 Artikel

Persoalan Agraria yang Menjerat Perempuan NTT

Ancaman terhadap perempuan di NTT hari ini tidak lagi sebatas pada struktur patriarki, tetapi pada ekspansi kapital yang secara sistematis mengepung dan menguasai ruang hidup mereka

Pelajaran dari Banjir Bali untuk Labuan Bajo

Fenomena yang terjadi di Bali memberi sinyal tentang bahaya serupa yang akan terjadi di Labuan Bajo, destinasi wisata yang pada 2016 dimasukkan ke dalam daftar “10 Bali baru”

Kritik terhadap Kebijakan Publik, Mengapa Penting?

Jika pada rezim Orde Baru kritik distigma sebagai komunis, pada masa kini kritik sama artinya menolak pembangunan

Proyek Geotermal di Flores: Mengentaskan atau Mereproduksi Kemiskinan?

Narasi-narasi kapitalistik yang mereduksi makna tanah hanya dari segi ekonomi melanggengkan praktek perampasan yang disokong kekuasaan lewat ketentuan legal-formal

Belajar dari Kisah Hidup dan Pemikiran Karl Marx

Pemikiran Marx masih relevan untuk membaca situasi terkini di tengah ekspansi kapitalisme, termasuk di Flores

Artikel Terbaru

Paskah dan Kungkungan Algoritma Digital

Paskah mengundang kita untuk bangkit dari kurungan algoritma digital dan merebut kembali ruang media sosial sebagai ruang iman yang bermartabat

Menafsir Pesan Surat Gembala Prapaskah-Paskah Uskup Labuan Bajo

Ketika Uskup Maksimus Regus menyatakan bahwa "pariwisata boleh berkembang, tetapi ciptaan tidak boleh rusak," ia kiranya sedang meletakkan syarat moral yang tidak bisa ditawar: pertumbuhan ekonomi tidak boleh mengorbankan integritas ekologis yang menjadi fondasi kehidupan bersama

Paskah dan Pemulihan Martabat Manusia

Paskah bukan sekadar perayaan iman, tetapi peristiwa keselamatan yang menghadirkan terang di tengah kegelapan, harapan di tengah keputusasaan dan pemulihan bagi martabat manusia yang terluka

Nyaris Tenggelam dalam Diam: Kronologi Buron Kasus Pemerkosaan di Flores Timur yang Sempat Berseragam Tentara

Andai tak menjadi atensi luas, bisa jadi Aloysius Dalo Odjan tetap jadi anggota militer dan korban dibiarkan