Artikel-artikel yang ditulis oleh

Patrisius Eduardus Kurniawan Jenila

11 Artikel

Mengapa Pergub NTT 13/2025 Harus Dievaluasi?

Kebijakan yang lahir tanpa riset bukan sekadar gagal, ia mengubah persoalan struktural menjadi drama di depan pompa bensin, sambil menyalahkan warga sebagai biang keladi rendahnya kepatuhan pajak.

Gereja dan Tantangan Reforma Agraria di Flores

Dapatkah Gereja Katolik menjadi garda depan dalam mendorong pelaksanaan reforma agraria, dan lebih jauh lagi, menginisiasinya dari dalam?

Persoalan Agraria yang Menjerat Perempuan NTT

Ancaman terhadap perempuan di NTT hari ini tidak lagi sebatas pada struktur patriarki, tetapi pada ekspansi kapital yang secara sistematis mengepung dan menguasai ruang hidup mereka

Pelajaran dari Banjir Bali untuk Labuan Bajo

Fenomena yang terjadi di Bali memberi sinyal tentang bahaya serupa yang akan terjadi di Labuan Bajo, destinasi wisata yang pada 2016 dimasukkan ke dalam daftar “10 Bali baru”

Kritik terhadap Kebijakan Publik, Mengapa Penting?

Jika pada rezim Orde Baru kritik distigma sebagai komunis, pada masa kini kritik sama artinya menolak pembangunan

Artikel Terbaru

Kasus Perundungan Pelajar di Manggarai Timur Disebut ‘Kasuistik’ dan ‘Selesai,’ Apakah Korban Sudah Aman?

SMAK Pancasila Borong dan Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur memilih pembinaan, bukan mengeluarkan siswa pelaku. Pengamat mengingatkan pendekatan restoratif tidak boleh mengecilkan peristiwa, memaksa perdamaian, atau mengabaikan pemulihan korban.

Dana Daerah Dipangkas, Pembangunan Manggarai Barat Tersendat di Tengah Ambisi Program Prabowo-Gibran

Transfer ke Daerah untuk Manggarai Barat tahun ini tinggal Rp839,87 miliar. Sejumlah proyek jalan dan jembatan tersendat, sementara program unggulan pemerintah pusat belum menjangkau warga secara merata.

Polisi Janji Limpahkan ke Jaksa Berkas Kasus Narkoba di Pulau Komodo yang Diselundupkan dari Sape

Sabu tersebut dikirim melalui perahu rute Sape-Pulau Komodo.

‘Tidak Waras Lagi, Brutal, Bejat’: Respons Warga Flores Mendengar Kabar Dana Bencana BNPB Dikorupsi

Warga yang rumahnya rusak masih menanti janji bantuan, sementara sawah tak dapat digarap akibat rusaknya saluran irigasi. Mereka mengaku lebih banyak menerima bantuan dari sesama warga dan relawan; hanya sedikit yang datang dari pemerintah.