Artikel-artikel yang ditulis oleh

Patrisius E. Kurniawan

5 Artikel

Proyek Geotermal di Flores: Mengentaskan atau Mereproduksi Kemiskinan?

Narasi-narasi kapitalistik yang mereduksi makna tanah hanya dari segi ekonomi melanggengkan praktek perampasan yang disokong kekuasaan lewat ketentuan legal-formal

Belajar dari Kisah Hidup dan Pemikiran Karl Marx

Pemikiran Marx masih relevan untuk membaca situasi terkini di tengah ekspansi kapitalisme, termasuk di Flores

Mewaspadai Pilkada Oligarkis di NTT, Bagaimana Posisi Politik Kaum Muda?

Seperti yang sudah terjadi dalam berbagai pilkada, oligark memboncengi kontestan agar kelak mendapat akses ekonomi yang difasilitasi peraih kekuasaan

Memperjuangkan Ruang Hidup Bersama: Apa yang Bisa Warga Flores Pelajari dari Perjuangan di Marinaleda, Spanyol?

Selain kepemimpinan merakyat, Marinaleda juga dibentuk oleh solidaritas yang kuat, komitmen perjuangan dan utopia

Bagaimana Ketimpangan Agraria Memicu Migrasi Warga  NTT?

Migrasi warga NTT ke berbagai daerah, termasuk ke luar negeri sebagai buruh migran bukan sekedar pilihan individu, tetapi dipicu ketimpangan agraria di wilayah pedesaan

Artikel Terbaru

Rencana Unjuk Rasa di NTTAwal September: Tolak Kenaikan Tunjangan DPR, Protes Pemangkasan Dana Daerah, DesaK Reformasi Polri 

FMPD di Labuan Bajo menjadwalkan demonstrasi 2–5 September, sementara PMKRI akan menggelar aksi serentak pada 1 September

Komunitas Ojol di Flores Gelar Aksi Solidaritas Kenang Affan Kurniawan

“Jangan sampai ada lagi nyawa melayang karena kekerasan yang seharusnya bisa dicegah”

Krisis Legitimasi Negara dan Ledakan Amarah Rakyat: Pelajaran dari Tragedi Pengemudi Ojol dan Aksi Ibu Heroik

Demonstrasi besar-besaran yang mengguncang Jakarta dan berbagai daerah di Indonesia bukan sekadar akumulasi keluhan, melainkan ledakan amarah rakyat terhadap situasi ekonomi-politik yang semakin menekan

Mahasiswa di Kupang Gelar Aksi Bakar Lilin untuk Affan Kurniawan, Desak Presiden Copot Kapolri

Cipayung Kupang sebut kematian Affan sebagai “kejahatan kemanusiaan” dan tanda Polri “kehilangan jati diri”