Di tengah friksi yang kasat mata dalam cara uskup di Papua merespons masalah kemanusiaan dan memicu kebingungan, muncul desakan konkret: saatnya Gereja universal berhenti diam, harus mengambil sikap.
Dalam Gereja yang hierarkis dan maskulin, suara perempuan sering terpinggirkan—namun justru dari sana, Suster Rita berbicara paling dekat dengan luka yang diabaikan kekuasaan.