Artikel-artikel yang ditulis oleh

Tim Floresa

5982 Artikel

Rektor IFTK Ledalero: Pelarangan “Pesta Babi” Tanda Rezim Otoritarian, Tidak Beradab

Seharusnya pemerintah membangun narasi tandingan atau membuat film baru jika tidak sepakat dengan film yang dibuat masyarakat sipil, ujar guru besar filsafat tersebut.

Operasi Senyap Menghentikan “Pesta Babi” di Flores

Di Flores, sebuah film tentang Papua membuat negara gelisah: sebelum layar dinyalakan, aparat sudah lebih dulu datang untuk mematikannya.

Seruan dari Labuan Bajo Usai Nobar “Pesta Babi”: Vatikan Ambil Sikap atas Krisis Papua

Di tengah friksi yang kasat mata dalam cara uskup di Papua merespons masalah kemanusiaan dan memicu kebingungan, muncul desakan konkret: saatnya Gereja universal berhenti diam, harus mengambil sikap.

Petani dan Pelaku UMKM di Manggarai Barat Promosikan Keragaman Pangan Lokal Lewat Festival 

Festival ini menghadirkan komunitas perempuan petani dari lima desa di Kecamatan Mbeliling dan Komodo

Krisis Ekologi NTT Jadi Sorotan dalam Seminar Nasional Donasi Sampahmu.id

Produksi sampah di Kota Kupang mencapai sekitar 250 ton per hari, kata Ketua Donasi Sampahmu.id

Artikel Terbaru

Maria Omety dan Perlawanan di Tanah yang Terancam

Ada dalam satu bagian film, Maria Omety sedang melihat kembali hidupnya sendiri—hutan yang digusur, kampung yang perlahan dikepung, dan pilihan yang tidak selalu mudah: diam atau kehilangan.

Komunitas Tuli Manggarai Belajar Cara Selamat dari Bencana

Selama ini, peringatan dini, instruksi evakuasi, dan informasi kebencanaan disampaikan lewat pengumuman lisan dan sirine—sistem yang secara struktural mengecualikan mereka yang tidak bisa mendengar.

“Pesta Babi” dan Paulo Freire

Dalam konteks pemikiran Freire, intimidasi yang mewarnai pemutaran dokumenter ini menunjukkan bahwa kekuasaan yang represif tidak takut pada filmnya, tapi pada kesadaran yang lahir setelahnya.

Rektor IFTK Ledalero: Pelarangan “Pesta Babi” Tanda Rezim Otoritarian, Tidak Beradab

Seharusnya pemerintah membangun narasi tandingan atau membuat film baru jika tidak sepakat dengan film yang dibuat masyarakat sipil, ujar guru besar filsafat tersebut.