Artikel-artikel yang ditulis oleh

Tim Floresa

5994 Artikel

Diskusi Mahasiswa di Kupang Soroti Ekosida dan Peminggiran Warga Lokal dalam Industri Pariwisata Labuan Bajo

Salah satu narasumber memberi catatan soal falsafah budaya Manggarai yang dapat menjadi basis perlawanan terhadap kolonialisme baru di Labuan Bajo

Kepala Ayam dan Telur di Kantor Kami

Tiga kepala ayam busuk di depan pintu, telur pecah di kafe sebelah, dan sebelumnya ancaman dari seseorang yang mengaku polisi. Kami tetap tidak akan berhenti.

Bantah Eksploitasi Pekerja, Apa yang Janggal dari Penjelasan Pub Le Dupar?

Kuasa hukum Le Dupar bilang semua berjalan sesuai prosedur. Dinas Tenaga Kerja bilang tidak ada kontrak, sementara Puskesmas menyebut tidak ada data soal pemeriksaan kesehatan para pekerja

Kontraktor Proyek Gedung Sekolah di Manggarai Timur Jadikan Sertifikat Tanah Jaminan Pelunasan Material, Wartawan Ikut Terlibat

Wartawan tersebut, yang nyambi sebagai kontraktor untuk pengerjaan sebagian bangunan, juga tak kunjung membayar upah kepala tukang

Saat Polisi Menjarah BBM Subsidi, untuk Apa Ada Razia?

Setiap liter solar subsidi yang digelapkan polisi adalah liter yang tidak pernah sampai ke tangan nelayan, petani, dan sopir yang berhak mendapatkannya

Artikel Terbaru

Pesta Komuni Pertama dan Gengsi yang Kita Sebut Syukur

Ketika anak-anak menerima Komuni Pertama, kita perlu melihat kembali bagaimana perayaan iman yang suci ini sering bersinggungan dengan tradisi sosial yang membentuk cara kita merayakan syukur

MBG dan Problem Struktural Pendidikan Indonesia

Tanpa diintegrasikan dengan penguatan pendidikan dan pemberdayaan masyarakat, MBG berisiko direduksi menjadi instrumen populisme politik semata.

Bantah Tudingan Merusak Pipa dan Babat Kopi, Warga Manggarai Timur Dikeroyok Massa di Depan Dua Kepala Desa dan Babinsa

Korban yang mengalami luka di pelipis kanan dan sempat jatuh pingsan telah melapor kasus ini ke polisi

Dulu Pilih Indonesia, Kini Diabaikan Indonesia

Setelah mempertahankan “Merah Putih” saat gejolak Timor Timur, warga eks pengungsi masih hidup tanpa kepastian — tanpa tanah, tanpa jaminan, dan pemerintah terus mengintai untuk merobohkan kediaman mereka.