Lewat kejadian seorang murid yatim yang kakinya patah, seorang guru merefleksikan tentang semesta, juga Tuhan yang menurutnya kadang berlaku tidak adil. Namun, ia juga segera sadar, bahwa hanya meratapi keadaan tidaklah cukup.
Sampah plastik menjadi masalah global, termasuk di lingkungan sekolah. Langkah mengatasinya bisa dilakukan lewat berbagai hal konkret, demi mendukung keberlanjutan lingkungan.
Ketika sengketa agraria antara masyarakat adat dan PT Krisrama, korporasi milik Keuskupan Maumere, berujung pada pemenjaraan warga, hukuman tidak berhenti di balik jeruji. Ia menjalar ke dapur, kebun, bangku kuliah, urusan adat, dan relasi anak dengan orang tua.
Gempa dapat menunda pemeriksaan, tetapi Kejaksaan tidak boleh menjadikannya dalih untuk membiarkan penyidikan tanpa arah, tenggat, dan pertanggungjawaban.
Rumah mereka dirobohkan, kakek mereka dipenjara, dan sekolah terhenti. Bagi anak-anak Nangahale, konflik agraria hadir dalam puing rumah, larangan memetik kelapa, serta perjalanan rutin ke rutan. Nama anak-anak dalam laporan ini disamarkan untuk melindungi mereka.