Krisis di Nanga Banda Setelah Gempa Flores

Tiga minggu setelah gempa Flores, warga Nanga Banda masih tinggal di antara puing rumah, membangun gubuk bambu, dan membeli air yang kebersihannya pun tidak mereka yakini.

Floresa.co – Tiga minggu setelah gempa magnitudo 7,7 mengguncang Flores pada 15 Agustus, warga Nanga Banda, Kelurahan Reo, Kecamatan Reok, Kabupaten Manggarai, masih hidup di antara puing rumah, gubuk bambu, dan krisis air bersih.

Di kiri-kanan jalan, rumah-rumah yang roboh terlihat jelas. Puing-puingnya belum dibersihkan. Namun di halaman rumah yang rusak itu, warga sudah mulai membangun gubuk-gubuk kecil dari bambu.

Kami, tim Respon Cepat Gempa Flores, datang membawa bantuan seadanya: terpal, popok bayi, susu untuk ibu hamil, dan lampu Sehen.

Kami tiba pada 4 September 2026 sekitar pukul 15.24 Wita dan disambut salah satu kenalan di sana.

Kami berhenti di depan sebuah rumah yang roboh total. Bata dan puing-puingnya masih berserakan, belum dibersihkan.

Di dekat reruntuhan itu, warga mendirikan tenda sederhana, beratapkan terpal. Di sanalah mereka berkumpul, bercerita sambil minum kopi. Sementara untuk tidur, mereka membuat gubuk kecil berdinding bilik bambu.

Beberapa ibu menghampiri kami. Mereka bercerita tentang situasi saat gempa terjadi. Sesekali muncul candaan dan tawa.

Namun, di balik tawa itu, trauma masih terasa dari cara mereka buru-buru mengalihkan cerita ketika sampai pada bagian paling menakutkan.

Mereka bersyukur atas bantuan yang kami bawa. Kata mereka, bantuan itu sesuai dengan kebutuhan. Namun ada satu keluhan: air bersih. Sejak gempa, air tidak lagi mengalir.

Rp50.000 untuk Satu Fiber Kecil

Salah satu warga yang menyampaikan keluhan itu adalah Irene Yasinta Imur. Rumahnya sekitar 300 meter dari tempat kami menurunkan bantuan.

Menurut Irene, sejak air PDAM berhenti mengalir setelah gempa, warga terpaksa membeli air. Harganya Rp50.000 untuk satu fiber kecil. Yang membuatnya khawatir, kebersihan air itu pun tidak terjamin.

“Tidak bisa dimasak,” kata Irene. “Tapi mau bagaimana lagi.”

Rumah milik Irene Yasinta Imur. (Dokumentasi Floresa)

Kalimat sederhana itu terasa berat. Warga yang rumahnya baru saja roboh dan penghasilannya kemungkinan ikut terganggu akibat bencana, kini harus mengeluarkan uang lagi hanya untuk mendapatkan air. Itu pun air yang kebersihannya tidak mereka yakini.

Berjalan di sekitar rumah Irene, kami melihat lebih banyak rumah yang rusak. Ada yang terasnya hancur. Ada yang badan rumahnya miring. Ada juga yang roboh total. 

Di beberapa titik, sebagian warga mulai membuat gubuk sementara untuk ditinggali, berdampingan dengan tenda-tenda bantuan.

Rumah Irene sendiri berdinding setengah tembok. Bagian kayu dan papan di depannya rusak total. Dinding depan rumah itu ambruk.

Di tempat seperti ini, air bukan lagi sekadar persoalan kenyamanan. Ia menjadi kebutuhan yang harus dicari setiap hari – ketika rumah saja belum selesai dipikirkan bagaimana memperbaikinya.

“Ayam Berkokok Lebih Kencang”

Di sana, kami bertemu Magdalena Lamung. Rumah Magdalena adalah salah satu yang roboh total. Ia menceritakan kembali detik-detik gempa 15 Agustus.

Ia bercerita soal tanda-tanda sebelum gempa terjadi. Ayam berkokok lebih kencang dari biasanya. Warga yang baru pulang melaut juga bercerita bahwa banyak ikan dan belut keluar ke permukaan. Saat itu, kata Magdalena, tidak seorang pun membaca kejadian tersebut sebagai pertanda buruk. 

Ketika guncangan datang, Magdalena dan keluarganya segera berlari keluar rumah.

“Saya teriak kepada anak, ayo cepat keluar,” katanya.

Tidak ada material rumah yang mengenai mereka. Begitu berada di luar, rumah itu miring lebih dulu ke kiri. Bagian kiri kemudian rubuh, sementara bagian belakang jatuh ke arah belakang.

Cerita seperti ini biasanya tidak masuk dalam laporan penanganan bencana. Laporan resmi lebih sering berbicara tentang jumlah rumah rusak, jumlah pengungsi, korban meninggal, atau infrastruktur yang terdampak.

Padahal, di balik angka-angka itu ada pengalaman yang tidak mudah dilupakan. Ada rumah yang ambruk tepat di depan pemiliknya. Ada keputusan untuk berlari dalam hitungan detik. Ada suara anak yang dipanggil untuk segera keluar.

Ingatan tentang situasi itu – tentang rumah yang selama bertahun-tahun menjadi tempat berlindung, tetapi tiba-tiba tidak lagi menjadi tempat yang aman – akan terus menghantui mereka.

Data yang Tercatat, Cerita yang Tertinggal

Tiga minggu setelah gempa, angka-angka kerusakan terus diperbarui. Kecamatan Reok sendiri termasuk salah satu wilayah yang mendapat perhatian sejak awal. Sehari setelah gempa, rumah sakit lapangan sudah didirikan dan beroperasi di kecamatan ini untuk mendukung layanan medis darurat. 

Untuk Kabupaten Manggarai secara keseluruhan, BNPB mencatat sedikitnya enam orang meninggal dunia pada hari pertama gempa. Per 24 Agustus, jumlah rumah rusak di kabupaten itu mencapai 17.108 unit. Data per 27 Agustus juga mencatat 29 titik jalan dan 18 titik irigasi rusak di Kabupaten Manggarai.

Secara keseluruhan di NTT, korban meninggal mencapai 111 orang dan warga yang mengungsi sebanyak 176.621 orang. 

Angka-angka itu penting, tetapi angka tidak menceritakan semuanya.

Ia tidak menceritakan puing rumah yang masih berserakan tiga minggu setelah gempa, tidak menceritakan warga yang membuat gubuk dari bambu karena tidak bisa menunggu terlalu lama, dan tidak menceritakan seorang perempuan yang harus mengeluarkan Rp50.000 setiap kali membutuhkan air, meski air itu sendiri tidak ia percaya kebersihannya.

Di sinilah persoalannya menjadi lebih besar dari sekadar seberapa cepat bantuan datang. Pada hari-hari pertama, perhatian memang tertuju pada logistik, makanan, tenda, evakuasi, dan akses jalan. Semua itu penting.

Namun, ketika keadaan mulai memasuki minggu-minggu berikutnya, kebutuhan warga berubah. Mereka mulai membersihkan rumah. Mulai mencari bahan untuk tempat tinggal sementara. Mulai memikirkan air. Mulai mencoba kembali bekerja.

Dan pada fase inilah negara justru perlu memastikan warga tidak berjalan sendirian.

Bambu yang digunakan warga Nanga Banda untuk membuat gubuk menunjukkan ketahanan mereka. Pada saat yang sama, bambu itu juga memperlihatkan bahwa warga terpaksa mengerjakan sendiri sesuatu yang semestinya menjadi bagian penting dari penanganan pascabencana.

Air Bersih, Krisis yang Sering Terlewat

Keluhan soal air kerap kalah oleh isu makanan, tenda, dan rumah rusak, sebab kerusakan jaringan air tidak selalu terlihat.

Rumah roboh mudah difoto. Pipa air yang rusak tidak.

Padahal bagi warga yang terdampak bencana, air adalah kebutuhan yang tidak bisa ditunda – terlebih bagi keluarga yang memiliki bayi atau ibu hamil.

Kami membawa susu untuk ibu hamil dan popok bayi. Tetapi bantuan semacam itu tentu tidak berdiri sendiri. Keluarga yang menerima tetap membutuhkan air untuk minum, memasak, mencuci, dan membersihkan bayi.

Ketika air PDAM berhenti mengalir, kebutuhan dasar itu berubah menjadi pengeluaran tambahan. Rp50.000 untuk satu fiber kecil.

Jika harus membeli berulang kali, nilainya tidak lagi kecil bagi keluarga yang sedang berusaha memperbaiki rumah dan memulihkan penghasilan.

Kerusakan jaringan air juga berbeda dari rumah roboh. Ia tidak selalu terlihat dalam pendataan awal. Pipa bisa rusak. Sumber air bisa terganggu. Jaringan distribusi bisa terputus. Dampaknya baru terasa penuh setelah hari-hari berlalu. Itulah sebabnya persoalan air perlu dilihat sebagai bagian penting dari pemulihan.

Trauma yang Dibungkus Tawa

Ada satu hal lain yang kami bawa pulang dari Nanga Banda: cerita tentang trauma. Ibu-ibu yang kami temui bercerita tentang gempa sambil tertawa.

Cerita Magdalena tentang ayam yang berkokok lebih kencang dan ikan yang muncul ke permukaan, misalnya, disampaikan dengan nada ringan. Padahal setelah itu ia bercerita tentang rumahnya yang ambruk.

Tawa mungkin cara paling sederhana untuk menceritakan sesuatu yang terlalu berat jika harus disampaikan dengan sungguh-sungguh. Justru karena itu, pengalaman semacam ini tidak boleh luput dari perhatian.

Bantuan logistik mudah dihitung. Berapa terpal. Berapa paket makanan. Berapa pampers. Berapa keluarga yang menerima bantuan. Namun, dukungan psikososial tidak sesederhana itu. Trauma tidak selalu terlihat. Ia tidak selalu muncul dalam bentuk tangisan atau keluhan.

Kadang ia muncul dalam cara seseorang menghindari cerita tertentu. Dalam candaan. Dalam tawa yang tiba-tiba. Atau dalam ingatan yang terus kembali pada rumah yang roboh di depan mata.

Kunjungan singkat ke Nanga Banda meninggalkan pertanyaan yang lebih besar daripada sekadar apa yang sudah dan belum sampai.

Siapa yang memastikan puing-puing rumah warga dibersihkan? Siapa yang mengurus jaringan air agar warga tidak terus membeli air Rp50.000 per fiber kecil? Dan apakah ada ruang bagi warga untuk memproses trauma yang mereka alami?

Pertanyaan-pertanyaan ini menjadi penting karena bencana tidak selesai ketika gempa berhenti. Gempa memang terjadi dalam hitungan menit. Namun, dampaknya bisa berlangsung berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun.

Di Nanga Banda, warga sudah mulai membangun kembali hidup mereka. Mereka menebang bambu, mendirikan gubuk, memperbaiki apa yang masih bisa diperbaiki, sambil menunggu air mengalir kembali dan menyimpan cerita tentang pagi 15 Agustus yang mungkin tidak akan pernah mereka lupakan.

Teofilus Afres adalah jurnalis Floresa

Editor: Ryan Dagur

DUKUNG KAMI

Terima kasih telah membaca artikel kami.

Floresa adalah media independen. Setiap laporan kami lahir dari kerja keras rekan-rekan reporter dan editor yang terus berupaya merawat komitmen agar jurnalisme melayani kepentingan publik.

Kami menggalang dukungan publik, bagian dari cara untuk terus bertahan dan menjaga independensi. Cara salurkan bantuan bisa dicek pada tautan ini: https://floresa.co/dukung-kami

Terima kasih untuk kawan-kawan yang telah mendukung kami. Gabung juga di Grup WhatsApp pembaca kami dengan klik di sini atau di Channel WhatsApp dengan klik di sini.

ARTIKEL PERPEKTIF LAINNYA

TRENDING