Dalami Pemicu Kematian Pemuda Aktivis di Nagekeo, Polisi Ungkap Rencana Autopsi

Polisi telah meminta keterangan sejumlah saksi, termasuk orang yang pertama kali menemukan jenazah Vian Ruma

Floresa.co – Polres Nagekeo menyatakan bakal berkoordinasi dengan keluarga terkait rencana autopsi untuk mendalami pemicu kematian  Rudolfus Oktafianus Ruma atau Vian Ruma, pemuda yang dikenal sebagai aktivis lingkungan.

Kapolres Nagekeo, AKBP Rachmad Muchamad Salili berkata penyidik tengah mendalami penyebab kematian warga Kampung Wio, Desa Ngera, Kecamatan Keo Tengah itu.

Ia menyebut penyidik telah meminta keterangan beberapa saksi, di antaranya orang yang pertama kali menemukan jenazah, kepala desa, ketua RT dan pihak keluarga.

“Sekarang ada (tambahan) beberapa saksi lagi. Ada beberapa pemeriksaan saksi-saksi tambahan,” katanya pada 9 September seperti dilansir CNN Indonesia.

Rachmad menyebut pihaknya akan berkoordinasi dengan keluarga terkait rencana ekshumasi dan autopsi jenazah korban sehingga bisa diketahui secara pasti penyebab kematiannya.

Ia mengaku masih belum berani menyebut penyebab, maupun dugaan-dugaan lainnya karena “pendalaman masih dilakukan.”

Ia berkata, hasil visum luar juga belum bisa memastikan penyebab kematian Vian.

“Saat ditemukan, jenazah sudah dalam proses pembusukan karena diduga sudah meninggal empat hari sebelum ditemukan,” katanya.

Pernyataan Rachmad merespons desakan publik yang meminta polisi mengusut tuntas kematian Vian yang dinilai janggal. 

Vian yang berusia 30 tahun ditemukan tewas di sebuah gubuk bambu dekat Pantai Sikusama, Desa Tonggo, Kecamatan Nangaroro pada 5 September.

Jasadnya ditemukan terikat tali dengan posisi menggantung.

Namun, kakinya yang masih menempel di lantai gubuk memicu kecurigaan keluarga bahwa ia diduga dibunuh, bukan bunuh diri.

Vian dikenal sebagai seorang guru Matematika di SMP Negeri 1 Nangaroro, Kabupaten Nagekeo. Ia juga telah lolos seleksi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja dan masih ditempatkan di sekolah itu.

Di luar pekerjaannya sebagai pendidik, Vian juga aktif dalam kegiatan sosial-keagamaan. 

Ia dipercaya menjadi Ketua Orang Muda Katolik (OMK) di Stasi Ngera, Paroki Hati Kudus Yesus Maunori.

Ia juga aktif di organisasi lingkungan Koalisi Kelompok Orang Muda untuk Perubahan Iklim atau Koalisi KOPI. Ia menjadi salah seorang pengurus Komite Eksekutif Daerah (KED) Nagekeo untuk Koalisi KOPI.

Jejak Aktivitas Vian

Koalisi KOPI turut mendesak Polres Nagekeo untuk mengusut tuntas kematian Vian karena menemukan banyak kejanggalan.

Menurut organisasi itu, Vian ikut bersama teman-temannya dari OMK Paroki Hati Kudus Yesus Maunori mengambil ubi di Nuabosi, Kabupaten Ende pada 30 Agustus. 

Pada 2 September, menurut koalisi, ia memiliki dua agenda penting, yaitu menghadiri pesta syukuran sambut baru bersama pacarnya serta mengikuti rapat persiapan Mbay Youth Day di Paroki Maunori.

Sekitar pukul 15.00 Wita, Vian dihubungi dan diajak oleh dua rekannya untuk keluar bersama. Ia merespons ajakan itu dengan menjawab singkat: “gas,” ungkapan yang biasa ia pakai bila siap menyusul. 

“Namun, ia tak kunjung datang, kendati sudah ditunggu lama,” tulis Koalisi KOPI.

Menurut koalisi, Vian baru terlihat keluar dari kosnya di Kecamatan Nangaroro ketika hari mulai gelap. 

Sementara itu, pacarnya terus menghubunginya karena keduanya sudah berjanji berangkat bersama ke tempat pesta sambut baru yang ditempuh sekitar satu jam perjalanan.

Vian dua kali menjawab pesan pacarnya dengan berkata: “5 menit lagi.” Namun, tak lama setelah itu, ponselnya tidak lagi bisa dihubungi. 

Lantaran ponsel Vian memang kerap bermasalah, pacarnya tidak merasa curiga dan akhirnya memilih berangkat sendiri ke tempat pesta sambut baru. 

Menurut koalisi, pacarnya sempat mampir ke lokasi persiapan kegiatan Mbay Youth Day, namun ia tidak menemukan Vian. 

“Malam itu, Vian tidak muncul di pesta sambut baru maupun di tempat rapat kepanitiaan,” tulis koalisi.

Mbay Youth Day yang berlangsung pada 3–7 September itu merupakan pertemuan akbar OMK di Kevikepan Nagekeo, Keuskupan Agung Ende.

Vian mendapat tugas sebagai pemandu pada acara pembukaan dan  moderator pada 5 September — bersamaan dengan hari libur peringatan Maulid Nabi Muhammad.

Menurut koalisi, penugasan itu diberikan agar tidak berbenturan dengan jadwal mengajarnya di SMP Negeri 1 Nangaroro. 

“Namun, Vian tak pernah hadir untuk menjalankan tanggung jawab tersebut,” tulis koalisi.

Menurut koalisi, Vian benar-benar hilang kontak sejak 3 September hingga dua hari kemudian warga menemukan jasadnya.

Koalisi menjelaskan lokasi penemuan jasad itu hanya berjarak sekitar 20 menit perjalanan dengan sepeda motor dari kos Vian.

Polisi dari Polsek Nangaroro lebih dulu tiba di lokasi, namun proses evakuasi baru bisa dilakukan setelah tim dari Polres Nagekeo membawa kantong jenazah. 

Seorang dokter dari puskesmas setempat kemudian melakukan pemeriksaan awal, sebelum jenazah dibawa ke fasilitas kesehatan tersebut.

Jenazah Vian dimakamkan di Kampung Wio, Desa Ngera pada 6 September. 

Sehari kemudian, Rikardus “Riki” Ndusa — salah satu adik kandungnya — melaporkan kasus kematian Vian ke polisi. 

Koalisi menyebut polisi mulai mengolah TKP dan pemeriksaan saksi-saksi sejak 9 september. 

Keterangan Rekan dan Keluarga

Koalisi KOPI telah mengumpulkan beberapa keterangan terkait perilaku dan keadaan Vian sebelum ditemukan meninggal. 

Menurut ayahnya, Vian terakhir pulang ke rumah pada 18 Agustus untuk membantu memetik cengkeh. 

Ia mengaku tidak sempat melihat kondisi Vian hingga saat dikuburkan karena “Vian biasanya hanya dua minggu sekali pulang ke rumah.” 

Menurut Koalisi KOPI, sejumlah rekan guru menyebut dalam sepekan terakhir, Vian terlihat kurang aktif, bahkan menunjukkan perubahan sikap. 

Koalisi menyebut pengakuan serupa disampaikan oleh Romo Carlos, sahabat sekaligus figur yang dekat dengan Vian. 

Menurut Romo Carlos, perilaku Vian berbeda dari biasanya di mana “ia tidak lagi rajin mengikuti misa pagi, lebih sering murung dan kerap menyendiri.” 

Kendati demikian, baik keluarga maupun teman dekatnya menolak percaya bila Vian mengakhiri hidupnya sendiri. 

“Selama ini, Vian dikenal sebagai sosok muda yang diandalkan di kampung,” tulis koalisi.

Berdasarkan temuan tersebut, Koalisi KOPI mendesak aparat kepolisian mengusut tuntas penyebab kematiannya.

Koalisi juga menyampaikan apresiasi atas perhatian publik dan media, sekaligus meminta agar masyarakat tetap mengawal proses hukum yang sedang berjalan. 

Editor: Herry Kabut

Dukung kami untuk terus melayani kepentingan publik, sambil tetap mempertahankan independensi. Klik di sini untuk salurkan dukungan!
Atau pindai kode QR di samping

BACA JUGA