Dua Pelancong Berbagi Kisah Potret Ketimpangan Sosial Ekonomi dalam Wajah Pendidikan di Flores

Alwijo dan Musa yang sekaligus pegiat literasi ikut dalam diskusi bersama puluhan kaum muda di Ruteng, Kabupaten Manggarai

Floresa.co – Dua anak muda menempuh perjalanan ribuan kilometer melintasi pulau-pulau di Indonesia Timur. 

Bukan berwisata, mereka melancong berbulan-bulan sambil mengampanyekan semangat literasi dan pendidikan bagi anak-anak di daerah terpencil.

Tiba di Labuan Bajo bulan lalu, Alwi Johan Yogatama atau Alwijo penuh rasa kaget dan terharu.

“Anak-anak bawa parang bantu orang tua berkebun,” katanya dalam Kelas Berbagi bertajuk “Petualang di Persimpangan Kiri Jalan” di Rumah Baca Aksara, Ruteng, Kabupaten Manggarai pada 8 Oktober.

Pengamatan sepintas itu membuatnya berani mengambil kesimpulan besar bahwa ada ketimpangan besar dalam akses pendidikan bagi anak-anak di Pulau Jawa dan sebagian besar kawasan Indonesia bagian timur.

“Padahal, pada saat yang sama anak-anak di Jawa main game online,” lanjutnya.

Alwijo yang berasal dari Temanggung, Jawa Tengah berlatar belakang pendidikan ilmu komunikasi Universitas Padjajaran Bandung. Selama ini ia dikenal sebagai pembuat konten atau content creator sekaligus pegiat literasi. 

Kawan perjalanannya Ahmad Musawwir Nasar atau Musa berasal dari Kepulauan Selayar, sebuah kabupaten di selatan Teluk Bone, Sulawesi Selatan. 

Ia pernah menjadi guru honorer dan kini aktif sebagai sukarelawan literasi, jurnalis lepas sekaligus peneliti gerakan akar rumput. 

Alumni Universitas Islam Indonesia Yogyakarta ini kerap terjun langsung ke wilayah-wilayah terpencil untuk mempelajari persoalan pendidikan dan mencari solusi bersama masyarakat.

Keduanya melancong dari Temanggung pada 13 Agustus, mengandalkan transportasi nebeng atau tumpangan gratis dengan kendaraan apapun yang lewat di perjalanan.

Tujuan utama mereka adalah mengunjungi Rumah Belajar Melang di Kecamatan Teluk Mutiara, Kabupaten Alor, NTT.

Negara Jadi Sebab Ketimpangan

Kelas Berbagi di Rumah Baca Aksara diikuti puluhan kaum muda, terdiri atas pelajar, mahasiswa, pegiat literasi, dosen dan jurnalis.

Mereka antara lain berasal dari SMA Katolik St. Fransiskus Saverius Ruteng, SMA Katolik St. Thomas Aquinas Ruteng, SMA Negeri 1 Langke Rembong, STIE Karya, Forum Anak Kabupaten Manggarai dan Koalisi Kelompok Orang Muda untuk Perubahan Iklim (KOPI).

Alwijo berkata, pengalaman dan pengamatannya melalui media menunjukkan perbedaan yang sangat jauh antara akses pendidikan anak-anak di Pulau Jawa dan Indonesia bagian timur.

“Bahkan anak-anak di NTT bisa jalan kaki sejauh lima kilometer ke sekolahnya selama lebih dari satu jam, di Jawa jalan kaki semenit langsung sampai,” katanya.

Sepulangnya dari sekolah, “mereka tidak langsung main game atau tidur, tapi harus membantu mamanya mencari kayu.”

Alwijo meyakini kondisi tersebut tidak terjadi begitu saja, tetapi disebabkan oleh sistem kekuasaan yang memungkinkan ketidakadilan distribusi dan akses kesejahteraan antarwilayah di Indonesia.

Pernyataan Alwijo memantik diskusi yang cukup panjang pada sesi selanjutnya.

Yohanes Maria Vianey atau Arif Laga, dosen di STIE Karya Ruteng mengakui ketimpangan sosial ekonomi memang menjadi sebab adanya kenyataan yang disaksikan dua pelancong itu.

Namun, ia cukup ragu bahwa kebiasaan membantu orang tua untuk bekerja di kebun merupakan tanda keterbelakangan. 

Baginya, faktor budaya juga turut memengaruhi kondisi tersebut.

“Sejak kecil kami memang dibiasakan untuk dekat dengan tanah dan dekat dengan hutan,” katanya.

Ia tak menampik kenyataan bahwa akses terhadap pendidikan berkualitas memang menjadi kesulitan utama anak-anak di Flores, tetapi “jangan-jangan kebiasaan bekerja di kebun sejak kecil merupakan kemewahan karena anak-anak itu belajar secara langsung dari alam.”

“Sejak kecil kami dibiasakan untuk mencari makan dan mempertanggungjawabkan hidup,” lanjutnya, “karena memang kami merasakan ketimpangan, bahwa negara berlaku tidak adil terhadap kami.”

“Alih-alih pegang buku, kami sudah biasa pegang parang, supaya besok bisa makan,” katanya.

Sementara Musa yang mengaku lahir dalam kondisi yang tidak adil di Kepulauan Selayar menyebut akses terhadap kesejahteraan sosial ekonomi turut memengaruhi aspek pendidikan anak-anak Indonesia timur.

Padahal, sumber daya alam tersedia dalam jumlah yang berlimpah di kawasan itu.

“Memangnya bisa makan pakai uang tanpa ada padi, ikan, ubi atau sorgum?” tanyanya.

“Pertanyaan kita sekarang adalah kenapa petani dan nelayan kita tidak maju, padahal mereka adalah fondasi utama negara ini,” lanjutnya.

Para peserta Kelas Berbagi “Petualang di Persimpangan Kiri Jalan” foto bersama dua pelancong dan pegiat literasi Alwi Johan Yogatama dan Ahmad Musawwir Nasar usai diskusi di Rumah Baca Aksara, Ruteng pada 8 Oktober 2025. (Dokumentasi Floresa)

Melawan dengan Literasi

“Saya percaya pendidikan itu harus dibangun dari bawah, dari pengalaman masyarakat sendiri,” kata Musa.

Ia berkata, sebagai anak kepulauan, ia tahu rasanya belajar di tempat yang serba terbatas.

“Buku sulit, guru sering absen dan sekolah kadang lebih mirip formalitas,” katanya.

Kepeduliannya pada pendidikan mulai tumbuh saat bergabung dengan Sanggar Anak Alam (SALAM) di Yogyakarta. 

“Saya belajar dari SALAM bagaimana membangun pendekatan ke masyarakat. Di sana saya melihat pendidikan bisa dijalankan tanpa harus bergantung pada sistem yang kaku,” katanya.

Pengalaman tersebut mendorongnya kini aktif mengembangkan berbagai program pendidikan alternatif untuk anak-anak dan masyarakat marjinal.

“Kami memberikan beasiswa bagi mereka yang tidak punya akses. Ada anak pemulung, ada mantan pencopet, ada guru di kampung yang gajinya bahkan tak cukup,” katanya.

Selain memberi beasiswa, kata dia, ia bersama rekan-rekannya juga mendukung guru honorer dan penggerak literasi di kampung. 

“Kami bantu mereka membangun ruang baca, sekadar jadi tempat anak-anak belajar tanpa harus takut dimarahi karena miskin,” katanya.

Musa juga berbagi kisah saat mengajar di sebuah kampung di Papua, di mana dirinya diawasi secara langsung oleh TNI yang menganggap wilayah itu terkait dengan gerakan Organisasi Papua Merdeka.

“Tapi saya tidak takut. Anak-anak itu berhak belajar di manapun mereka berada,” katanya.

Ia berkata, mengajar di tempat-tempat seperti itu adalah bentuk kecil dari perjuangan kemanusiaan.

Kelas Belajar sore itu berakhir dengan sesi penyerahan buku secara sukarela dari masing-masing peserta. 

Jumlah buku yang terkumpul mencapai lebih dari 30 eksemplar dengan topik yang beragam, termasuk komik tentang pendidikan.

Buku-buku itu selanjutnya dibawa Alwijo dan Musa ke Rumah Belajar Melang di Alor.

Tiga perwakilan OSIS SMA Negeri 1 Langke Rembong yang menyumbangkan tiga buku berharap “buku ini sampai di Alor dan bisa bermanfaat bagi semua orang yang membacanya.”

“Kalau ada orang di Alor mau beli buku, kadang ongkirnya lebih mahal dari harga bukunya. Dengan adanya perpustakaan di sana, kami bisa membawa banyak buku untuk memperkaya koleksi bacaan anak-anak,” kata Alwijo.

Namun, kata dia, perpustakaan bukan sekadar tumpukan buku, melainkan ruang hidup yang harus dijaga.

“Kami hanya akan membawa buku-buku yang sudah dikurasi, lebih banyak untuk anak-anak. Kami ingin perpustakaan itu punya kegiatan dan program yang berjalan,” katanya.

“Daripada membangun gedung megah, lebih baik menyisihkan dana untuk menggaji penggerak lokal yang menjaga agar kegiatan di perpustakaan tetap hidup,” tambahnya.

Editor: Anno Susabun

Dukung kami untuk terus melayani kepentingan publik, sambil tetap mempertahankan independensi. Klik di sini untuk salurkan dukungan!
Atau pindai kode QR di samping

BACA JUGA