Larantuka Bersiap-siap Jelang Puncak Tradisi Semana Santa 

Panitia menyampaikan sejumlah ketentuan yang mesti ditaati peziarah demi menjaga kekhusyukan perayaan

Poin Utama

  • Kota Larantuka bersiap menyambut Semana Santa dengan intensitas persiapan yang meningkat, termasuk pembersihan lokasi dan pengaturan peziarah.
  • Sekitar 1.927 peziarah sudah mendaftar secara online, termasuk sembilan dari luar negeri dan beberapa peziarah dari agama lain.
  • Pengaturan dokumentasi dipertegas agar tidak mengganggu ibadah, dengan media juga diminta untuk mengikuti mekanisme yang sama.
  • Semana Santa di Larantuka merupakan tradisi Katolik yang telah berlangsung lebih dari 500 tahun, di mana puncak perayaannya terjadi pada Jumat Agung.

Floresa.co – Larantuka, kota di ujung timur Pulau Flores sedang bersiap-siap menyambut penyelenggaran Semana Santa, tradisi berabad-abad umat Katolik setempat yang tahun ini ditargetkan akan kembali dihadiri ribuan peziarah dari berbagai daerah, termasuk luar negeri.

Pantauan Floresa pada 1 April Maret, di sepanjang jalan utama Larantuka terlihat persiapan semakin intens.

Sejumlah titik-titik penting yang akan menjadi pusat kegiatan sudah dibersihkan dan dipagari dengan tiang-tiang bambu-yang dikenal turo. Armida atau perhentian untuk doa selama prosesi sudah mulai ditata. 

Di sekitar Kapela Tuan Ma dan Tuan Ana, warga tampak sibuk melakukan persiapan, sementara aktivitas peziarah yang datang silih berganti mulai terlihat di pusat kota. 

Aparat keamanan dan panitia juga mulai berjaga di sejumlah titik untuk mengatur arus kedatangan peziarah.

Menurut data panitia, per 31 Maret 2026 tercatat 1.927 peziarah yang sudah melakukan pendaftaran online, dan 358 orang yang sudah tiba.

Selain umat Katolik, terdapat tujuh peziarah yang berasal dari agama lain, serta sembilan warga negara asing, masing-masing dua asal Prancis dan tujuh dari Timor Leste.

Dalam konferensi pers pada 31 Maret di halaman depan Gereja Katedral Reinha Rosari Larantuka, Romo Ansel Liwun selaku ketua Panitia Semana Santa 2026 berkata, pihaknya menetapkan sejumlah ketentuan bagi peziarah, termasuk media, dalam mengikuti rangkaian liturgi dan devosi.

Ia menjelaskan, seluruh umat yang mengikuti rangkaian kegiatan yang kerap disebut Hari Bae Nagi itu dikategorikan sebagai “peziarah dan diwajibkan mematuhi ketentuan, termasuk soal registrasi dan penggunaan tanda pengenal resmi.”

“Peziarah dari luar Paroki Katedral dan dari luar Keuskupan Larantuka wajib mendaftarkan diri, baik secara online maupun offline. Ini penting supaya kita bisa mengatur arus umat,” katanya.

Kepala Diskominfo Flotim, Heronimus Lamawuran (ujung kiri) dan Romo Ansel Liwun (tengah) berbicara dalam konferensi pers di halaman depan Gereja Katedral Larantuka pada 31 Maret 2026. (Dokumentasi Floresa).

Pengetatan Soal Dokumentasi

Ansel juga mengingatkan bahwa pelaksanaan Semana Santa tidak dimaksudkan sebagai ruang produksi konten, melainkan sebagai momentum ziarah dan devosi umat.

Karena itu, kata dia, panitia memperketat pengaturan dokumentasi oleh peziarah dan peliputan pada tahun ini.

“Jangan sampai kehadiran kita justru mengganggu umat lain yang sedang berdoa,” katanya. 

Ia berkata, panitia telah menyiapkan dokumentasi resmi oleh tim media yang ditunjuk, termasuk untuk siaran langsung.

“Umat tidak perlu mengambil gambar secara berlebihan selama perayaan berlangsung,” katanya. 

Khusus bagi media, Ansel berkata, para wartawan juga masuk dalam kategori peziarah sehingga wajib mengikuti mekanisme yang sama, termasuk mendaftar dan menggunakan tanda pengenal yang disiapkan panitia.

Ia berkata, panitia telah mengatur waktu dan lokasi peliputan secara terbatas, terutama di Kapela Tuan Ma dan Tuan Ana dan untuk momen-momen tertentu seperti Kamis Putih dan Jumat Agung.

Panitia melarang “pengambilan gambar di dalam gereja saat Perayaan Ekaristi dan Lamentasi berlangsung, serta penggunaan drone selama Jumat Agung hingga Sabtu Santo. Ini bagian dari upaya menjaga suasana ibadah tetap khidmat,” kata Ansel.

Ia menambahkan, pihaknya juga menyiapkan dokumentasi resmi berupa foto dan video yang dapat diakses melalui pusat informasi, guna mengurangi aktivitas pengambilan gambar yang tidak terkontrol.

Ansel mengakui bahwa persoalan dokumentasi menjadi salah satu tantangan yang terus berulang setiap tahun.

“Meskipun kita sudah sering membuat pertemuan seperti ini, selalu saja ada kendala di lapangan,” katanya. 

Ansel menambahkan, panitia juga memberikan perhatian khusus bagi kelompok rentan seperti lansia, ibu hamil dan penyandang disabilitas dengan menyediakan tanda pengenal khusus serta prioritas pelayanan selama ziarah.

“Berbagai ketentuan ini akan terus dievaluasi dari tahun ke tahun agar pelaksanaan Semana Santa di Larantuka tetap berjalan tertib tanpa mengurangi makna religiusnya,” katanya. 

Tampak beberapa peziarah pada 31 Maret 2026 berjalan menuju Gereja Katedral Reinha Rosari Larantuka yang dihiasi turo atau pagar bambu (Dokumentasi Floresa)

Sementara itu, Kepala Dinas Informasi dan Komunikasi Flores Timur, Heronimus Lamawuran menyatakan kesiapan jaringan internet selama rangkaian kegiatan.

Ia berkata, dinas bersama penyedia jasa telekomunikasi telah melakukan koordinasi intensif sejak pekan lalu guna memastikan akses internet tetap stabil, baik untuk kebutuhan peliputan media maupun komunikasi panitia.

“Kami sudah berkoordinasi dengan Telkomsel, XL dan beberapa penyedia lainnya,” katanya.

Telkomsel sebagai operator dengan jumlah pengguna terbesar di Flores Timur, katanya, telah melakukan penguatan jaringan di Kapela Tua Meninu melalui pemasangan perangkat serta di halaman Gereja Katedral Larantuka.

Selain itu, satu unit mobile combat juga disiapkan di jalur prosesi, tepatnya di kawasan Balela dan Lohayong, merujuk pada alat pemancar sinyal seluler untuk menambah kapasitas jaringan. 

Heronimus juga menyebut sejumlah tamu, yang dikategorikan tamu penting, telah mengkonfirmasi kehadiran, termasuk Kapolda NTT dan Kepala Perwakilan Bank Indonesia dari Kupang.

Terkait kehadiran Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena ia berkata konfirmasi resmi biasanya baru diterima menjelang hari pelaksanaan.

“Jadi kemungkinan pada Kamis sudah ada kepastian,” katanya.

Selain dukungan jaringan, panitia juga menyiapkan akomodasi bagi tamu dan peziarah. 

Ia menyebut seluruh hotel di Larantuka telah penuh dipesan sejak jauh-jauh hari sebelumnya. 

Karena itu, pania  telah menyiapkan beberapa homestay sebagai alternatif. 

“Bagi tamu atau peziarah yang membutuhkan, bisa langsung menghubungi seksi penginapan,” katanya.

Bertahan Lima Abad

Semana Santa di Larantuka merupakan salah satu tradisi Pekan Suci tertua di Indonesia telah berlangsung sejak abad ke-16 atau lebih dari 500 tahun lalu. 

Tradisi ini berkembang seiring masuknya misi Katolik oleh bangsa Portugis di wilayah Flores Timur, yang kemudian berakulturasi dengan praktik adat masyarakat setempat.

Dalam perkembangannya, Larantuka dikenal sebagai “Kota Reinha Rosari” atau Kota Ratu Rosario, yang mencerminkan kuatnya devosi kepada Bunda Maria dalam kehidupan religius masyarakat.

Rangkaian Semana Santa berlangsung hampir selama sepekan, dimulai sejak Minggu Palma hingga Minggu Paskah. Namun, puncaknya adalah pada proses Jumat Agung.

Setelah Minggu Palma yang menandai masuknya Yesus ke Yerusalem, ritual akan dimulai dengan Rabu Trewa, saat umat mengenang peristiwa penangkapan Yesus.  Tradisi khas Larantuka ditandai dengan bunyi-bunyian dan doa di Kapela Tuan Ma dan Tuan Ana, serta ritual ratapan (lamentasi) di Gereja Katedral.

Pada Kamis Putih, rangkaian liturgi berlangsung melalui Misa untuk mengenang Malam Perjamuan Terakhir. Pada hari ini juga dilakukan ritual persiapan prosesi, termasuk pemasangan lilin di sepanjang jalur yang akan dilalui serta persiapan patung-patung suci oleh kelompok serikat awam yang dikenal Confreria.

Puncak perayaan terjadi pada Jumat Agung (Sesta Vera), di mana ribuan umat mengikuti prosesi jalan salib yang membawa Patung Tuan Ma dan Tuan Ana mengelilingi kota. Prosesi ini melewati sejumlah titik perhentian (armida) yang melambangkan perjalanan sengsara Yesus.

Salah satu bagian penting dalam rangkaian ini adalah prosesi laut Tuan Meninu. Patung itu diarak melalui jalur laut sebelum kembali ke darat dan melanjutkan prosesi hingga ke Katedral.

Setelah itu, rangkaian berlanjut ke Sabtu Santo, yang diisi dengan suasana hening dan doa sebagai masa penantian sebelum kebangkitan. 

Perayaan ditutup pada Minggu Paskah dan prosesi pengantaran kembali patung ke kapela, sebagai tanda berakhirnya seluruh rangkaian acara.

Laporan ini dikerjakan oleh Elkelvin Wuran dan Arsenius Agung Boli Ama

Editor: Ryan Dagur

Dukung Kami

Ada cerita yang terlalu berisiko untuk diberitakan, korban yang terlalu lemah untuk didengar, dan mereka yang terlalu berkuasa untuk disentuh.
Floresa memilih memberi perhatian pada semua itu. Kami tidak bergantung pada iklan korporasi atau kepentingan politik. Independensi kami dibiayai oleh pembaca yang percaya bahwa kebenaran harus diungkap tanpa kompromi.
Dukung kami untuk terus bertahan. Caranya bisa cek di sini

BACA JUGA