Floresa.co – Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur mulai melakukan survei saluran irigasi yang rusak akibat banjir di Kecamatan Kota Komba Utara, merespons surat permohonan dana rehabilitasi dari organisasi petani pada pertengahan bulan lalu.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR), Ferdinandus Mbembok berkata, rehabilitasi saluran irigasi di Desa Rana Mbeling itu akan dilakukan setelah Hari Raya Paskah umat Katolik pada 5 April.
Ia berkata, tim teknis Dinas PUPR kini masih menghitung estimasi kebutuhan material perbaikan di lapangan.
Hasil penghitungan tersebut, katanya, akan diajukan ke Badan Keuangan yang selanjutnya menganggarkan dana Belanja Tak Terduga atau BTT.
“Bidang teknis akan upayakan secepatnya untuk lakukan penanganan,” katanya kepada Floresa pada 2 April.
Kepala Bidang Prasarana dan Sarana Dinas Pertanian, Liliana Alni Duru berkata, pihaknya akan memprioritaskan bantuan kepada para petani untuk mencegah gagal tanam.
“Kami akan bantu dengan pompa air Brigade dan terus berkoordinasi dengan PUPR serta BPBD,” kata Liliana.
Pompa air brigade adalah bantuan alat mesin pertanian dari Kementerian Pertanian yang dikelola dalam sistem brigade (tim khusus). Pompa tersebut dipinjamkan kepada kelompok tani untuk mengatasi kekeringan dan meningkatkan indeks pertanaman.
Gabungan Perkumpulan Petani Pemakai Air (GP3A) Wae Mokel, Desa Rana Mbeling sebelumnya menyurati Bupati Andreas Agas pada pada 15 Maret, memohon bantuan dana rehabilitasi sebesar Rp107,5 juta. Dana tersebut untuk kebutuhan material dan tenaga kerja.
Dalam suratnya, mereka melaporkan kerusakan saluran irigasi sepanjang sekitar 50 meter di persawahan Mobos–Nengga, dampak hujan deras pada 14 Maret.
“Kondisi ini menyebabkan terhentinya aliran air ke lahan pertanian persawahan,” tulis GP3A.
Dampaknya adalah ancaman gagal panen dan kehilangan mata pencaharian bagi 100 kepala keluarga.
Berbicara kepada Floresa pada 2 April, Ketua GP3A Wae Mokel Martinus Garman membenarkan tim dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Dinas PUPR telah melakukan survei lapangan pada 31 Maret.
“Tim survei memastikan akan ditanggulangi dengan memobilisasi material paling lambat dalam minggu ini,” katanya.
Selain Bupati Agas, GP3A juga menyurati BPBD pada 26 Maret dan melampirkan data kerugian masing-masing 43 petani, dengan total estimasi mencapai Rp300.500.000.
Mereka juga menyertakan foto kondisi saluran irigasi dan perbaikan darurat oleh petani secara gotong-royong.
Sementara itu, Elvis Jehama, anggota DPRD dari Dapil Kota Komba dan Kota Komba Utara mengapresiasi langkah Pemda yang dinilainya merupakan respons cepat terhadap keluhan para petani.
“Saya akan terus berkoordinasi dan mengawal penanganan ini,” katanya.
Editor: Anno Susabun



