Floresa.co – Kepala Balai Taman Nasional Komodo (BTNK), Hendrikus Rani Siga mengimbau wisatawan agar membeli tiket melalui aplikasi SiOra sebelum memasuki kawasan Taman Nasional Komodo (TNK).
Imbauan itu disampaikan dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama anggota DPRD Manggarai Barat pada 8 April, yang dipimpin oleh Marten Warus dari Partai Gerindra dan Ali Sehidun dari Partai Bulan Bintang.
RDP tersebut digelar merespons keluhan pelaku wisata dan puluhan wisatawan yang gagal mendaki puncak Pulau Padar akibat kebijakan pembatasan kuota kunjungan yang resmi diberlakukan pada April ini, setelah masa uji coba sejak Januari.
Menurut Hendrikus, kegagalan wisatawan mengakses puncak Pulau Padar terjadi karena mereka tidak membeli tiket melalui aplikasi SiOra sebelum tiba di kawasan.
“Kalau bisa, tiket dibeli di Labuan Bajo. Jangan tunggu sampai di Pulau Padar baru beli tiket. Kalau kuota penuh, kunjungan ke TNK bisa ditunda besok hari,” katanya.
Ia meminta pelaku wisata menyampaikan informasi ini kepada wisatawan dan mulai mendesain paket kunjungan yang memperhitungkan sistem kuota.
Hendrikus juga mengklaim penerapan kuota 1.000 orang per hari akan berdampak positif bagi pertumbuhan ekonomi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Labuan Bajo, karena wisatawan yang belum bisa masuk TNK dapat menikmati destinasi wisata di sekitar kota. Ia menambahkan bahwa kebijakan ini masih bisa berubah karena “ini masih masa transisi.”
Di akhir RDP, anggota DPRD meminta BTNK mengutamakan agen wisata lokal dalam pembagian kuota kunjungan ke TNK.
Awal Mula Polemik
Polemik ini mencuat setelah seorang pemandu wisata bersitegang dengan petugas BTNK di loket masuk Pulau Padar pada 28 Maret. Pemandu tersebut membagikan video perdebatan itu di akun Facebook Aisar Turis, dilengkapi takarir: “kuota tanpa solusi, wisatawan kecewa, pelaku wisata tertekan di Pulau Padar.”
Ia mengklaim lebih dari seribu wisatawan memadati pulau tersebut pada hari itu, padahal banyak di antara mereka tidak dapat menikmati destinasi tersebut meski telah membeli tiket.
“Puluhan wisatawan terpaksa pulang dengan rasa kecewa. Ironisnya, semua ini terjadi di masa low season, periode yang seharusnya lebih tenang dan nyaman bagi wisatawan,” tulisnya.
Kejadian serupa terulang pada 4 April, ketika 24 wisatawan dilarang mendaki ke puncak Pulau Padar karena kuota harian telah terpenuhi.
Dasar Kebijakan dan Alasan Konservasi
Hendrikus menegaskan penetapan kuota kunjungan didasarkan pada kajian daya dukung, bukan pertimbangan sepihak. Batas maksimal ditetapkan 1.000 orang per hari atau 365.000 orang per tahun, merujuk pada kajian Daya Dukung Daya Tampung (DDDT) TNK tahun 2018 yang disusun oleh Pusat Pengendalian Pembangunan Ekoregion Bali-Nusa Tenggara (P3E Bali Nusra) dan World Wildlife Fund (WWF). Kajian tersebut mencakup tiga destinasi utama daratan — Loh Buaya di Pulau Rinca, Pulau Padar bagian selatan, dan Loh Liang di Pulau Komodo — serta 23 titik penyelaman.
“Kalau sampai lebih dari 365.000, itu over tourism dan kajian itu sudah warning,” kata Hendrikus.
Kebijakan ini juga bertujuan meratakan distribusi kunjungan sepanjang tahun. Data menunjukkan kunjungan pada Juli mencapai 63.133 orang, sementara pada Januari hanya 12.609 orang. BTNK pun ingin meratakan kunjungan harian yang selama ini cenderung menumpuk pada Selasa dan Sabtu.
Hendrikus menegaskan kebijakan ini “tidak bisa ditawar-tawar” mengingat TNK menyandang tiga status internasional: Situs Warisan Dunia UNESCO, Cagar Biosfer, dan New 7 Wonders of Nature. Tanpa manajemen konservasi yang baik, ketiga status tersebut terancam dicabut.
“Padahal, hasil kajian sudah ada dan sudah dipublikasikan. Kalau tidak dilaksanakan oleh balai, bisa menjadi catatan merah,” tambahnya.
Terkendala Sistem
Koordinator Urusan Kerja Sama, Humas, dan Pelayanan BTNK, Maria Rosdalima Panggur mengungkapkan bahwa jumlah kunjungan wisatawan selama Januari hingga Maret baru mencapai 42.874 orang — jauh di bawah target 90.000 sesuai pengaturan kuota. Rendahnya angka itu disebabkan tren kunjungan yang sepi pada periode tersebut, ditambah adanya penutupan sementara akibat cuaca buruk pada Januari.
Selama masa uji coba, sistem aplikasi SiOra juga mengalami kendala sehingga pemesanan tiket sempat melebihi batas 1.000 dalam satu hari.
“SiOra itu kami atur 1.000 per hari, tetapi ternyata sistem belum membaca itu. Itu kenapa saat uji coba ada satu hari yang melebihi 1.000,” kata Maria.
Seharusnya, ketika kuota 1.000 pemesanan terpenuhi, sistem secara otomatis menolak pemesanan baru. Maria menyebut perbaikan sistem sedang dilakukan bersamaan dengan masa uji coba yang masih berjalan.
Selain kendala teknis, Hendrikus menyoroti masih banyak pelaku wisata yang berspekulasi bahwa mereka bisa masuk TNK tanpa membeli tiket terlebih dahulu.
“Kami sangat mengharapkan tour agent dan tour operator sudah mulai beradaptasi dengan cara mendesain paket-paket kunjungan,” katanya.
Editor: Herry Kabut



