Floresa.co – Poco Likang di Kabupaten Manggarai mendadak ramai.
Sejak viral di media sosial pada April, kawasan hutan eksotik dengan telaga di sisi selatan Ruteng itu dibanjiri pengunjung.
Antara 4 hingga 24 Juni saja, tercatat 887 pengunjung masuk ke kawasan itu, menurut data pemerintah.
Dalam pernyataan kepada Floresa, pengelolanya, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) NTT mengakui kawasan konservasi itu belum resmi masuk blok pemanfaatan.
Dan, belum ada kajian dampak lingkungan terhadap aktivitas warga.
Salah satu pemicu viral adalah konten dari akun Facebook Rhizhal Goenawan yang memperlihatkan es hasil sublimasi embun pada 1 Juni pagi, saat suhu di Poco Likang berkisar 7-8 derajat Celsius.
Video itu langsung diunggah ulang oleh berbagai akun Instagram yang populer di NTT, seperti @kupang.today, @nttfolks, dan @manggaraipunya.
Yang tersebar setelahnya: video-video jalur pendakian sempit yang penuh sesak pengunjung, genangan air menyerupai danau setinggi lutut orang dewasa, dan sampah yang berserakan.

Pengunjung Datang Berbondong, Sampah Menumpuk
Keis Barus, mahasiswi asal Manggarai, datang bersama 14 temannya pada 24 Mei.
“Kami mendaki tetapi tidak kamping karena ada air di telaga. Setelahnya saya lihat di media sosial air telaga sudah surut sehingga banyak yang kamping,” katanya kepada Floresa.
Charianto Romas, seorang arsitek, pertama kali mendaki pada 18 Maret saat Poco Likang belum ramai. Saat ia kembali pada 31 Mei, pemandangannya sudah berbeda.
“Saya sempat naik lagi pas ramai, sampah banyak sekali. Beberapa pengunjung juga melakukan pembakaran di tempat yang rawan terbakar,” katanya.
Ia juga menyoroti prosedur yang diatur BBKSDA yang menurutnya tidak memperhatikan khusus soal sampah.
“Kalau memang ada tiket masuk, pendataan pengunjung yang masuk juga jelas, apa yang dibawa pas melakukan pendakian,” kata Charianto.
Nurfina Sri Mulyati, mahasiswi yang mendaki bersama ibunya pada 13 Juni, datang setelah melihat postingan viral di media sosial.
Penilaiannya soal sampah lebih ringan, tapi ia mengonfirmasi hal lain.
“Soal sampah, sedikit saja. Tapi untuk jejak bekas pembakaran ada, karena ada ibu-ibu kamping dan masak juga di sana.”
Berikut adalaha salah satu video yang dibagikan di Facebook oleh akun “Frederikus Dion”
Kekhawatiran Pegiat Lingkungan
Di balik keramaian itu, Yovie Jehabut, pegiat wisata yang juga punya minat khusus pada biodiversitas di Flores, menyuarakan kekhawatiran yang lebih serius.
Dalam ulasannya di Facebook, ia menyebut telaga di Poco Likang sebagai “corong raksasa” dan “pintu reservoir ajaib” — kawasan resapan yang menjamin pasokan mata air di sisi selatan dan utara Poco Likang, termasuk untuk wilayah Ruteng dan Satar Mese.
Menurutnya, pijakan kaki pengunjung yang terus-menerus berpotensi membuat permukaan tanah di sekitar telaga mengeras, memperlambat proses penyerapan air.
Jika dibiarkan, ia memperingatkan dua ancaman sekaligus.
Di tengah penebangan di dalam kawasan hutan Mandosawu, bagian dari TWA Ruteng, yang terus berlanjut setiap hari, “telaga di Poco Likang rasanya akan menjadi pintu terakhir bagi masuknya air hujan ke dalam perut Mandosawu, menjadi sumber penting pasokan air hujan bagi seluruh mata air di kawasan ini,” katanya.
Ancaman lain yang ia sebut adalah tanah longsor, karena “peningkatan volume air akan berpengaruh pada struktur lereng di sekitarnya.”
Yovie, yang juga mengelola situs Jagarimba.id, mempertanyakan batas toleransi ekologis kawasan itu terhadap kehadiran manusia dalam jumlah besar.
“Seberapa sanggup para satwa dan organisme lain bertahan dari kehadiran manusia dalam jumlah besar, dengan suara bising dan perapian di beberapa titik. Sementara dalam keheningan, merekalah selama ini yang menjadi penjaga utama kawasan ini?”
Kendati mengaku bukan ahli hidrologi dan terakhir melakukan pengamatan langsung pada 2019, ia cukup yakin bahwa telaga itu seharusnya menjadi “tempat terlarang” dan “kawasan yang tak boleh disentuh.”

BBKSDA Sudah Kelola Wisata, Belum Ada Kajian
Kepala BBKSDA NTT, Adhi Nurul Hadi, mengakui Poco Likang belum masuk dalam blok khusus pemanfaatan wisata di kawasan Taman Wisata Alam (TWA) Ruteng.
Blok pemafaatan merupakan area khusus dalam kawasan konservasi atau hutan yang peruntukan utamanya adalah untuk kegiatan pariwisata, rekreasi alam, dan penyediaan sarana pendukungnya.
Keputusan Dirjen KSDAE Nomor SK.208/KSDAE/SET/KSA.0/7/2016 hanya mengatur lima blok pemanfaatan di TWA Ruteng: Rana Mese, Ranaka, Cunca Rede, Rana Poja, dan Golo Lusang.
Meski demikian, BBKSDA tetap menarik tiket masuk — Rp5.000 untuk berkemah dan Rp20.000 untuk pendakian — dan mengelola kunjungan melalui Resor Golo Lusang.
“Aktivitas wisata pada obyek Poco Likang saat ini belum sesuai dengan blok namun dalam proses untuk dilakukan pengubahan pasca dilakukannya evaluasi blok,” kata Adhi dalam respons tertulis terhadap pertanyaan Floresa pada 26 Juni.
Ia juga mengakui bahwa BBKSDA belum melakukan kajian daya tampung, daya dukung lingkungan, maupun kajian dampak aktivitas wisata terhadap kawasan resapan air — meski kunjungan sudah berlangsung intensif.
“Sedangkan potensi dampak yang lebih besar belum dapat diketahui sebelum dilakukannya kajian mendalam yang melibatkan tenaga ahli,” kata Adhi.
Soal dampak terhadap daerah resapan air, ia menyebut mitigasi baru “dapat dilakukan setelah proses kajian daya dukung dan daya tampung” — kajian yang belum ada jadwal pastinya sebelum proses pengubahan blok selesai.
Adhi berargumen bahwa wisata pendakian di taman nasional dan taman wisata alam lain tidak serta-merta mengganggu ketersediaan air, karena “jalur wisata terbatas pada lokasi tertentu dengan luas yang minimal dan tidak meliputi seluruh areal resapan.”
Ia menambahkan, ancaman terbesar terhadap fungsi resapan air di TWA Ruteng “lebih dimungkinkan terjadi akibat pembukaan lahan dan penebangan liar.”
Untuk sampah, ia mengklaim sudah diatasi melalui pengumpulan rutin oleh petugas bersama komunitas pecinta alam setempat — meski laporan pengunjung di lapangan menggambarkan kondisi yang berbeda.

Peran Penting TWA Ruteng
Poco Likang merupakan bagian dari kawasan konservasi TWA Ruteng seluas 32.245,6 hektar yang membentang di Kabupaten Manggarai dan Manggarai Timur.
TWA Ruteng adalah kawasan hutan hujan pegunungan dengan tujuh puncak utama, di antaranya Poco Mandosawu yang mencapai ketinggian 2.350 meter — tertinggi di kawasan ini.
Secara ekologis, TWA Ruteng menyimpan 252 jenis tumbuhan, lebih dari 65 spesies burung — 15 di antaranya endemik Flores — serta sejumlah mamalia endemik seperti tikus raksasa Flores dan kelelawar Flores.
Kawasan ini juga menjadi hulu sejumlah sungai besar yang mengalir ke pantai utara dan selatan Flores, menjadikannya daerah tangkapan air yang vital bagi Kabupaten Manggarai dan Manggarai Timur.
Secara hukum, TWA adalah kawasan pelestarian alam yang boleh dimanfaatkan untuk wisata, penelitian, dan pendidikan — tetapi terbatas dan sesuai aturan. Fungsi utamanya mencakup perlindungan sistem penyangga kehidupan, pengawetan keanekaragaman hayati, dan pemanfaatan lestari sumber daya alam.
TWA Ruteng bukan pula kawasan tanpa konflik. Hingga kini, masih ada sengketa tapal batas antara kawasan ini dengan hak ulayat masyarakat adat di beberapa titik, terutama di Manggarai Timur — sebuah warisan konflik sejak era kolonial Belanda.

Di tengah tarik-ulur antara antusiasme wisatawan dan kekhawatiran ekologis untuk kawasan penting seperti Poco Likang, Yovie Jehabut menutup dengan pertanyaan yang ia lempar ke publik.
“Bisakah kita melihatnya menjadi etalase pengetahuan, tempat kita secara kasat mata melihat proses kita mendapatkan air dari kebaikan alam?” katanya.
Ia berharap kunjungan ke Poco Likang tetap dalam koridor ekologis yang terukur, yang memperlakukan kawasan itu sebagai “tempat suci.”
“Ada batas-batas yang secara moral, personal, dan kolektif kita jaga bersama. Telaga itu tidak ada di sana tanpa alasan,” katanya.
Editor: Anno Susabun dan Ryan Dagur



