Floresa.co – Adalbertus Gregorian Bambar, pemuda 18 tahun, terbaring di tempat tidur dalam tenda darurat yang menjadi ruang rawat sementara di jalan raya depan Rumah Sakit Umum Daerah Ruteng, Kabupaten Manggarai pada 25 Agustus pagi.
Di sisi tempat tidur itu, ayah dan ibunya, Ponsianus Sedo dan Bernadeta Tini, serta seorang kerabat perempuan, duduk menggunakan beberapa kursi dan tempat tidur lain yang belum terpakai, sambil sesekali mengusap kepala dan badannya.
Berry, sapaannya, merupakan mahasiswa baru pada Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Katolik Indonesia St. Paulus Ruteng.
Usai gempa bumi menghantam Flores pada 15 Agustus, ia memilih menjadi relawan yang membantu menyalurkan donasi ke sejumlah kampung di desanya.
Kejadian tak terduga menimpa Berry pada 24 Agustus sekitar pukul 16.30 wita, saat ia bersama lima rekannya mengantar sejumlah sumbangan sembako dan perlengkapan lainnya ke Ling, Desa Golo Cador, Kecamatan Wae Ri’i.
“Kami sudah menyerahkan bantuan di rumah ketiga, mau lanjut satu per satu ke 27 rumah lainnya, saat pohon besar yang sudah kering dan miring usai gempa jatuh,” kata Ebertus Ngera Sega, koordinator relawan Tim Respons Cepat di desa tersebut.
“Semua serba tiba-tiba, karena kami sedang siap menyalakan mesin sepeda motor,” lanjutnya.
Tim relawan tersebut terdiri atas enam orang yang menggunakan tiga unit sepeda motor. Selain Berry dan Ebertus, relawan lainnya adalah Reineldis Asni Yati Epin, Yohanes Fransiskus Naring, Patrisius Rundung dan Eprimus Jehanum.
Mereka berangkat dari Timung, kampung asal mereka yang juga di Desa Golo Cador sekitar pukul 15.30.
“Seharusnya sudah berangkat ke Ling pukul 14.00, tetapi ditunda karena menunggu angin kencang reda,” kata relawan Yohanes.
Ia berkata, posisi Berry yang lebih dahulu menyalakan motor membelakangi pohon yang tumbang itu, membuatnya tak bisa berlari secepat relawan lain.
“Dia langsung pingsan, tidak sedikitpun merespons suara kami,” kata Yohanes.
Usai dievakuasi dari reruntuhan pohon, Berry segera ditangani dua orang bidan desa di salah satu kios dekat lokasi tersebut.
“Ia diberi minum teh dan bidan melakukan pengukuran tensi darah.”
Usai penanganan darurat, dalam keadaan belum sadar, para relawan bersama keluarga mengantarnya menuju RSUD Ruteng.
Ebertus berkata, jalur utama menuju Ruteng yang rusak parah usai gempa memaksa mereka harus melewati jalan lain ke arah barat menuju Desa Poco, jalur lintas Reo-Ruteng.
Patah Tulang Lengan Kiri
Penanganan medis terhadap Berry berlangsung di tengah kondisi darurat. Ruang perawatan pasien RSUD Ruteng berpindah ke tenda darurat di jalan raya depan fasilitas kesehatan tersebut.
Kepada Floresa, Ebertus menunjukkan foto rontgen tulang lengan Berry yang patah, hampir terpisah satu dengan yang lain.
Bernadeta, ibunya, berkata bagian tubuh Berry yang lain tidak mengalami luka serius, “kecuali lecet pada kedua lengan dan paha hingga kaki.”
“Dokter sudah beritahu bahwa tulang lengannya harus segera dioperasi supaya dampaknya tidak sampai mengenai bagian-bagian saraf,” katanya sembari memegang tangan anaknya yang terbaring.
Pukul 15.10, Berry diantar menggunakan mobil Ambulance menuju tenda lainnya yang menjadi ruang operasi sementara di lapangan sisi barat Bandar Udara Frans Sales Lega, sekitar tiga kilometer sebelah utara RSUD Ruteng.
Usai menjalani operasi dengan penanganan delapan tenaga medis, termasuk dokter ortopedi, ia kembali diantar ke ruang rawat sementara di RSUD pada pukul 18.15.
Bantuan yang disalurkan Berry dan lima relawan lainnya berasal dari dana sumbangan publik yang digagas Tim Respons Cepat Gempa Flores, terdiri atas Floresa dan Sunspirit for Justice and Peace.
Dibentuk usai gempa pada 15 Agustus, hingga hari ini Tim telah mengumpulkan donasi lebih dari Rp800 juta, dengan pengeluaran sebesar Rp773.753.500 atau 91,43 persen.
Dana tersebut disalurkan untuk pengadaan sembako dan peralatan darurat lainnya seperti terpal untuk tenda darurat serta perlengkapan tidur bagi warga di 131 titik pada 96 desa dan kelurahan di tujuh kabupaten sepanjang Pulau Flores.

Berry Sering Terlibat Aksi Sosial
Ponsianus, ayah Berry, berkata seluruh keluarga “menyerahkan proses operasi dan pemulihan ke tangan tenaga medis.”
Ia berkata, anak kedua dari tiga bersaudara itu sudah biasa terlibat dalam berbagai aksi sosial, terutama yang digalakkan kelompok Orang Muda Katolik di wilayah itu.
“Makanya saat dia beritahu akan jadi relawan gempa, kami tentu saja tidak keberatan,” katanya, “meskipun rumah kami sendiri juga terkena dampak.”
Saat kecelakaan menimpa anaknya, Ponsianus yang berprofesi sebagai operator mesin chainsaw sedang berada di kampung tetangga untuk bekerja memotong kayu.
“Saya sama sekali tidak tahu, bahkan hingga anak saya sudah diantar sampai ke Ruteng,” katanya.
Ryan Dagur, Pemimpin Umum Floresa berkata, tim bersolidaritas dengan Berry, relawan lain dan keluarganya.
“Kami kaget saat mendengar peristiwa itu dan segera bergerak memastikan ia bisa mendapat pertolongan cepat,” katanya.
Ia menjelaskan, tim akan ikut membantu proses perawatan dan pemulihan Berry, yang tidak diakomodasi oleh biaya dari pemerintah.
“Terima kasih Berry dan rekan-rekan relawan lain. Merekalah sosok-sosok di garis depan yang menyalurkan donasi dari berbagai pihak untuk untuk benar-benar sampai kepada warga terdampak gempa Flores.

Korban Gempa Terus Bertambah
Hingga hari kesembilan pascagempa, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat korban meninggal dunia mencapai 100 jiwa dan 1.603 orang luka-luka.
Jumlah korban jiwa terbanyak terdapat di Kabupaten Manggarai dan Manggarai Timur, masing-masing 38 dan 34 orang.
Korban meninggal lainnya berasal dari Nagekeo: 13, Sikka: 6, Ngada: 5, Ende: 3 dan Manggarai Barat: 1 orang.
Jumlah pengungsi tercatat 180.327 orang, tersebar di tujuh kabupaten, dengan konsentrasi terbesar di Manggarai, Nagekeo, dan Manggarai Timur.
Sementara kerusakan bangunan mencapai 1.915 fasilitas publik dan 73.818 unit rumah warga. Kerusakan rumah masing-masing 23.276 unit rusak berat, 17.563 unit rusak sedang, dan 32.979 unit rusak ringan.
Di tengah kondisi tersebut, Badan Meteorologi dan Geofisika (BMKG) mencatat, hingga 25 Agustus pukul 18.00, terdapat total 7.259 gempa susulan, dengan 142 gempa yang dirasakan. Magnitudo terbesar gempa susulan mencapai 6.2 SR, sedangkan yang terkecil 1.0 SR.
Longsor yang dipicu guncangan juga turut memutus sejumlah ruas jalan strategis lintas Flores – memperparah keterisolasian sejumlah kampung tepat ketika bantuan paling dibutuhkan.
Editor: Anno Susabun



