Bocah Usia Delapan Tahun di Manggarai Timur “Bertubuh Seperti Bayi,” Bertahan Hidup hanya dengan Minum Susu

Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur berjanji memberi perhatian

Floresa.co – Usianya sudah delapan tahun lebih. Mestinya, ia sudah bisa berlari, bermain bersama teman sebayanya dan mengikuti pendidikan dasar. 

Namun, Florentina Amelia Kin hanya bisa berbaring di tempat tidur. 

Flora-sapaannya-lahir pada 29 Desember 2016 di Kampung Ngusu, Desa Balus Permai, Kecamatan Borong, Kabupaten Manggarai Timur.

Ia adalah anak sulung dari pasangan Rivansius Afri (29) dan Maria Susanti Remung (32). 

Menurut Maria, putrinya itu terlahir normal. Namun, setelahnya tidak ada tanda-tanda pertumbuhan dan perkembangan pada tubuh Flora.

“Ia tidak bisa melihat, tidak bisa duduk, apalagi berjalan,” katanya kepada Floresa.

Sejak lahir, Flora juga tak mau meminum air susunya. Karena itu, keluarganya terpaksa memberinya susu formula yang dicampur gula pasir, hal yang terus berlangsung sampai sekarang.

“Nasi dan makanan padat lain tidak bisa masuk ke tubuhnya,” kata Maria.

Hal itu membuat Flora yang berusia delapan tahun “tubuhnya kecil seperti bayi.”

Merantau demi Keluarga

Rivansius berkata, kini Flora mengonsumsi empat saset susu bermerek Dancow setiap hari. Satu saset seharga Rp7.000 rupiah.

Jumlah itu, kata dia, belum termasuk kebutuhan lain seperti pampers karena Flora tidak mampu buang air sendiri.

Karena kesulitan membiayai kebutuhan Flora, pasangan suami istri ini memutuskan merantau pada Juli tahun lalu.

Mereka meninggalkan Flora dan adiknya yang berusia tujuh tahun dan kini sekolah di SDI Ngusu. Keduanya dirawat kakek dan kakek mereka, Bonas Barus (59) dan Sofia Enem (54).

Rivansius dan Maria ke Kalimantan Timur dan bekerja pada sebuah perusahaan sawit. 

Dari pekerjaan itu, total penghasilan kotor mereka Rp5,5 juta, yang sebagian besar dipakai untuk sewa kos dan membiayai kebutuhan sehari-hari.

“Setiap akhir bulan, uang yang bisa saya kirim ke kampung kadang hanya Rp500.000,” katanya.

Uang itu untuk kebutuhan Flora dan biaya sekolah adiknya Rp20.000 per bulan.

Rivansius berkata, karena harus menjaga Flora, ibunya tidak bisa labi ke kebun. Hanya ayahnya yang masih bekerja untuk mencukupi kebutuhan di rumah.

Beruntung, kata dia, adiknya, Alfrianus Afridi, yang kini Kelas XI di SMA Negeri 2 Balus, sering membantu menjaga Flora saat pulang sekolah.

Berharap Ada Bantuan

Rivansius berharap, Flora bisa mendapat perhatian pemerintah, yang terakhir kali diterima pada 2020.

“Waktu itu ada kegiatan dari Dinas Sosial di Lehong (ibukota Manggarai Timur). Kami dapat susu dan kursi roda,” katanya.

“Sejak itu tidak pernah ada lagi bantuan lagi,” tambahnya.

Ia berkata, selama ini, Flora juga belum menjalani pemeriksaan medis “karena kondisi ekonomi kami yang pas-pasan.”

“Harapan kami, semoga pemerintah datang langsung, melihat kondisi anak kami,” katanya.

Dihubungi Floresa pada 8 Agustus, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Anak Manggarai Timur, Jimmy Frederikus Elo, berjanji akan memberi perhatian.

Ia berkata, pihaknya akan mengecek ke Dinas Sosial apakah Flora sudah terdata di Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) dan memiliki Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS).

“Biar memudahkan saat intervensi,” katanya. 

“Semoga Flora juga sudah punya kartu keluarga. Kalau belum, kami akan bantu urus di Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil,” tambah Jimmy.

Sementara Kepala Dinas Sosial Manggarai Timur, Matias M. Nasir, berkata, pemerintah daerah memiliki mekanisme khusus untuk membantu anak-anak seperti Flora.

“Kami akan cek dulu di basis data. Setelah itu, dilakukan asesmen kepada Penyandang Permasalahan Kesejahteraan Sosial (PPKS),” katanya.

Hasil asesmen tersebut “akan menjadi dasar pengusulan jenis bantuan yang akan diberikan,” tambahnya.

Editor: Petrus Dabu

Dukung Kami

Ada cerita yang terlalu berisiko untuk diberitakan, korban yang terlalu lemah untuk didengar, dan mereka yang terlalu berkuasa untuk disentuh.
Floresa memilih memberi perhatian pada semua itu. Kami tidak bergantung pada iklan korporasi atau kepentingan politik. Independensi kami dibiayai oleh pembaca yang percaya bahwa kebenaran harus diungkap tanpa kompromi.
Dukung kami untuk terus bertahan. Caranya bisa cek di sini

BACA JUGA