Masih Menanti Hasil Nekropsi, Kata Pemerintah soal Pemicu Puluhan Paus Pilot yang Terdampar di Perairan Rote

Dari 55 paus pilot yang terdampar itu, 21 di antaranya mati

Floresa.co – Warga Pulau Rote, NTT gempar dengan penemuan puluhan paus yang terdampar pada pekan lalu.

Kejadian bermula pada 9 Maret saat warga Desa Fuafuni di Kecamatan Rote Barat Daya menemukan sejumlah paus pilot sirip pendek (Globicephala macrorhynchus) terdampar di Pantai Batutua. 

Temuan berlanjut sehari berikutnya di Pantai Mbadokai, juga di kecamatan yang sama.

Kedua pantai itu terhubung dengan Laut Sawu, salah satu jalur migrasi paus. 

Warga lalu melaporkan kejadian tersebut ke pangkalan TNI Angkatan Laut Pulau Rote, yang kemudian meneruskannya ke Balai Pengelolaan Kelautan Kupang Wilayah Kerja Rote Ndao.

Selama dua hari, warga bersama organisasi masyarakat sipil dan aparat keamanan bahu-membahu mengevakuasi puluhan paus itu kembali ke perairan dalam, kata Kepala Balai Pengelolaan Kelautan Kupang, Imam Fauzi.

Gelombang tinggi dan banyaknya paus yang terdampar, katanya, membuat warga dan aparat keamanan kewalahan. 

Dari 55 paus itu, 21 di antaranya mati, termasuk empat anak paus. Menggunakan ekskavator, jasad mereka dikubur di tepi kedua pantai.

Imam berkata, 34 individu lainnya selamat dan kembali ke Laut Sawu.

Panjang individu terbesar, kata dia, mencapai 5,1 meter dan yang terkecil 2,4 meter.

“Kami bersama beberapa dokter hewan juga melakukan nekropsi. Hanya saja peralatannya terbatas,” katanya pada 12 Maret.

Nekropsi merupakan pemeriksaan post-mortem guna menentukan penyebab kematian dan bagaimana puluhan paus itu sampai terdampar. Hasilnya baru bisa diketahui dua pekan lagi.

Lantaran peralatan terbatas, kata Imam, “sejauh ini, kami hanya dapat menyimpulkan ‘dugaan penyebab’ bukan ‘penyebab pasti.’”

Bersama lumba-lumba dan pesut, paus tercakup dalam infraordo Cetacea.

Petugas melakukan identifikasi morfometrik terhadap 1 dari 21 paus yang mati terdampar di perairan Rote pada 9-10 Maret 2026. Morfometrik–termasuk pengecekan kondisi tubuh dan jenis kelamin paus–merupakan tahap awal nekropsi. (Dokumentasi Balai Pengelolaan Kelautan Kupang)

Putu Liza Kusuma Mustika, peneliti mamalia laut dan kelompok spesialis Cetacea di International Union for Conservation of Nature (IUCN) menyoroti persoalan nekropsi yang belum maksimal di Indonesia.

“Kita memang memerlukan peralatan nekropsi yang lebih canggih terhadap Cetacea,” katanya.

Liza tak menampik serangkaian pelatihan nekropsi yang digelar bagi sejumlah dokter hewan, termasuk di NTT. 

Namun, “kita masih kekurangan dokter hewan yang betul-betul memahami nekropsi.” 

Bethan C. O’Leary et al. dalam kajian terkait ancaman terhadap mamalia di laut lepas (high seas) menyatakan paus pilot hidup berkelompok, struktur sosial yang membantu mereka bermigrasi, berburu mangsa sekaligus melindungi diri.

Setiap tahun mereka dan sejumlah spesies paus lainnya bermigrasi dari perairan selatan Australia menuju utara. 

Perlintasan kawanan itu termasuk Laut Sawu, dengan periode puncak antara Januari hingga Juni, saat mereka mencari perairan hangat kala suhu mendingin di Antarktika.

Bermigrasi ke lintang yang lebih rendah, paus menempuh jarak sekitar 3.214 kilometer. Jarak demikian dihitung dari Great Australian Bight–teluk di selatan Benua Australia–hingga Rote, salah satu pulau kecil terluar dan paling selatan di Indonesia.

Setiap tahun ditemukan Cetacea terdampar di perairan sekitar NTT. Beberapa di antaranya berkelompok dalam satu kejadian. Kejadian terdampar terbesar dalam periode lima tahun terjadi pada 2018-2022, dengan 30 insiden.

Menurut data yang diterbitkan oleh Balai Pengelolaan Kelautan Kupang, enam dari 30 insiden terjadi antara Januari dan Mei 2022.

Liza berkata, ada sejumlah ancaman bagi migrasi mamalia laut. 

Dosen di College of Science and Engineering, James Cook University di Australia itu menyebut “sampah plastik, jaring ikan yang terbengkalai di perairan serta polusi suara” adalah beberapa di antaranya.

Ross Compton et al. menyebut polusi suara di laut bersumber dari mesin kapal dan frekuensi yang muncul akibat aktivitas survei seismik, salah satu tahap awal eksplorasi migas lepas pantai.

Laut Sawu merupakan salah satu jalur eksplorasi migas lepas pantai, seperti tergambar pada peta migas Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. 

Namun, peta tersebut tak menyediakan informasi mendetail terkait mana saja jalur eksplorasi aktif dan non-aktif.

Menurut Liza, polusi suara berbasis aktivitas antropogenik “dapat, dengan cara tertentu, mengusik sistem navigasi paus.”

Ellen J. Coombs et al. menemukan paus pilot, paus sperma, paus pembunuh (orca) dan lumba-lumba mengandalkan organ ekolokasi (echolocation) untuk mengorientasi diri, mencari jalan secara berkelompok dan, pada akhirnya, menemukan mangsa.

Ekolokasi memungkinkan paus mendengarkan pantulan gema dari objek sekitar. Organ ekolokasi berada di sekitar kepala, seperti bagian dalam telinga dan rahang bawah. 

Organ tersebut dapat terusik ketika paus berenang di sekitar objek yang mengeluarkan frekuensi suara yang tumpang-tindih dengan mereka atau berupa dentuman–misalnya dalam survei seismik.

Imam Fauzi menyebut tim nekropsi dalam beberapa tahun terakhir menemukan organ ekolokasi paus mengalami kerusakan.

Compton et al. menemukan kerusakan fisik tersebut kemungkinan menyebabkan mereka kehilangan pengetahuan tentang kontur sekitar. Paus mungkin sekali berenang memasuki palung sempit atau permukaan air yang surut. Disorientasi ditambah kelelahan berenang memicu mereka akhirnya terdampar di suatu tempat.

Pada nekropsi pascakejadian terdampar sebelumnya sejak 2018, kantor Imam dan sejumlah dokter hewan independen menemukan berbagai material di dalam tubuh paus. 

Selain plastik, mereka juga menemukan material untuk memancing dan puing-puing yang diduga merupakan bagian dari kapal.

Bagaimanapun, kata Liza, penyebab kejadian terakhir ini harus lebih dulu menunggu hasil nekropsi. 

Meski hasilnya berpotensi tak maksimal, tetapi “biasanya bila terjadi perdarahan dari dalam, kemungkinan ada masalah sonar.”

Editor: Ryan Dagur

Dukung kami untuk terus melayani kepentingan publik, sambil tetap mempertahankan independensi. Klik di sini untuk salurkan dukungan!
Atau pindai kode QR di samping

BACA JUGA