Floresa.co – Seorang siswi SMP di Kabupaten Sikka ditemukan meninggal karena bunuh diri di belakang rumahnya, kasus keempat di daerah itu pada tahun ini.
Dalam keterangan yang diperoleh Floresa, Kepala Seksi Humas Polres Sikka, Ipda Leonardus Tunga berkata, jenazah remaja berusia 13 tahun asal Dusun Riidetut, Desa Kajowair, Kecamatan Hewokloang ditemukan pada 28 April malam.
Ia menjelaskan, korban diketahui tidak berada di rumahnya sejak pukul 18.00 Wita.
Karena itu, kakeknya, HH (71 tahun) berusaha mencari ke sejumlah rumah tetangga, namun korban tidak ditemukan.
“Menurut kakeknya, selama ini korban sering mengalami kerasukan. Korban juga kerap bepergian, tetapi biasanya hanya berkeliling kampung saja,” kata Leonardus.
Lantaran korban tak kunjung kembali ke rumah, kata Leonardus, tetangga dan warga lainnya ikut mencarinya, termasuk di kebun yang berada di belakang rumahnya.
“Karena hasilnya tetap nihil, warga kembali ke rumah masing-masing,” katanya.
Pada pukul 23.30, kata Leonardus, HH yang merasa gelisah, bangun dari tidurnya dan kembali mencari korban.
HH, kata dia, melihat korban tergantung di dahan pohon pala yang berjarak sekitar 30 meter dari rumahnya.
Panik melihat keadaan cucunya, HH berteriak memanggil paman korban, “kau ke sini dulu, air liurnya sudah keluar.”
Warga yang juga mendengar teriakkan itu langsung menuju lokasi kejadian dan mereka melihat korban sudah meninggal karena menggantung diri menggunakan tali nilon berukuran enam milimeter.
“Mereka kemudian melapor ke Kanit SPKT II Polsek Kewapante. Kemudian Tim Inafis Polres Sikka datang ke lokasi kejadian dan melakukan olah tempat kejadian perkara,” kata Leonardus.
Menambah Daftar Kasus
Leonardus berkata, kasus tersebut merupakan kasus keempat yang terjadi di Sikka pada tahun ini.
Pada 18 April, seorang pria berusia 39 tahun ditemukan meninggal karena gantung diri di rumahnya di Dusun Jedawair, Desa Geliting, Kecamatan Kewapante.
Korban merupakan seorang karyawan swasta di Kota Maumere dan memiliki dua orang anak.
Korban pertama kali ditemukan oleh Maria (19 tahun), seorang pelajar yang baru pulang sekolah dan melintas di depan rumah korban.
“Saat itu, Maria mendengar suara tangisan balita dari dalam rumah tersebut. Sementara rumah itu dalam keadaan terkunci,” kata Leonardus.
Merasa curiga, Maria mencoba memanggil dari luar, namun tidak mendapat respons.
Ia kemudian berusaha memanjat jendela dapur dan mendapati korban sudah tergantung di bagian kuda-kuda dapur menggunakan tali nilon.
Dalam keadaan panik, Maria berteriak meminta pertolongan.
Merespons teriakkan itu, adik korban, SD, bersama keluarga dan warga sekitar kemudian mendobrak pintu belakang untuk memberikan pertolongan. Namun, korban tidak dapat diselamatkan.
“Korban selama ini sakit-sakitan dan sering keluar masuk rumah sakit untuk pengobatan, tetapi tidak sembuh. Saat kejadian, istrinya tidak ada di rumah karena sedang mengunjungi keluarga yang berada di Kecamatan Waigete,” kata Leonardus.
Enam hari sebelumnya, kata Leonardus, seorang guru berstatus Pegawai Pemerintahan dengan Perjanjian Kerja (PPPK) ditemukan tewas gantung diri di rumahnya di Desa Watuliwung, Kecamatan Kangae.
Jasad pria berusia 34 tahun itu ditemukan pertama kali oleh kakak kandungnya AHS, 42 tahun dan kakak iparnya AD, 43 tahun.
Peristiwa itu bermula ketika AHS dan AD hendak menjemput korban yang baru pulang dari Kupang di Bandara Frans Seda Maumere sekitar pukul 16.10.
Namun, saat tiba di bandara, mereka tidak menemukan korban.
Karena itu, mereka menelepon korban dan dalam percakapan itu, korban menyampaikan bahwa ia sudah berada di rumahnya.
“Setelah ada informasi tersebut, keduanya bergegas pulang ke rumah korban. Ketika tiba di sana, mereka panggil tetapi tidak ada respons,” kata Leonardus.
Karena itu, AHS dan AD masuk ke rumah korban dan membuka pintu kamar. Saat itulah, mereka menemukan korban sudah menggantung diri menggunakan tali nilon berwarna biru yang diikat pada rangka atap rumah.
Kendati kaget dan syok, mereka berusaha menyelamatkan korban dengan mengangkat tubuhnya lalu memotong tali.
“Saat itu, mereka masih merasa denyut nadi korban masih ada. Mereka lalu teriak minta tolong kepada warga sekitar. Korban lalu dibawa ke Rumah Sakit TC. Hillers Maumere. Namun, nyawanya tak tertolong,” kata Leonardus.
“Keluarga menolak dilakukan autopsi dan menerima kejadian itu sebagai musibah,” tambahnya.
Pada 1 Januari sekitar pukul 10.00, seorang siswa SD ditemukan tewas usai menggantung diri di pohon jeruk di halaman belakang rumah neneknya, MAW (59 tahun) di Kampung Natawulu, Desa Ladogahar, Kecamatan Nita.
Jasad pelajar berusia 12 tahun itu pertama kali ditemukan oleh MAW. Saat itu, MAW yang baru pulang Misa sempat memanggil korban, namun tidak ada respons.
MAW sempat mencari korban di dalam rumah, namun ia tak menemukannya. Karena itu, ia mencari korban di halaman belakang rumah.
Saat itulah, ia menemukan korban tergantung di pohon jeruk. MAW kemudian memberitahukan kejadian tersebut kepada kerabatnya, FMB (35 tahun).
Mereka sempat memeriksa kondisi korban dan mengetahui bahwa ia sudah tidak bernapas.
Mereka menyampaikan informasi tersebut kepada salah satu aparat desa yang kemudian melaporkan kejadian itu kepada Bhabinkamtibmas.
Kapolsek Nita, Iptu Jermi Soludale bersama anggotanya serta Kasat Reskrim Polres Sikka, AKP Djafar Awad Alkatiri kemudian memeriksa tempat kejadian perkara dan para saksi.
Pemeriksaan medis yang dilakukan petugas dari UPTD Puskesmas Nita tidak menemukan adanya tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban.
Karena itu, keluarga korban bersedia membuat berita acara penolakan autopsi jenazah.
Minta Masyarakat Saling Peduli
Leonardus Tunga berkata, pemicu kasus bunuh diri di Sikka adalah “depresi, masalah rumah tangga, ekonomi, psikologis dan tekanan sosial.”
Karena itu, ia mengimbau masyarakat agar dapat mengisi waktu dengan berbagai kegiatan positif.
Ia juga mengimbau agar “masyarakat mesti lebih peduli dan memperhatikan orang-orang di sekitarnya yang sedang menghadapi kesulitan.”
Jika berada dalam kondisi tertekan, kata dia, masyarakat dianjurkan untuk berbagi cerita maupun mengisi waktu dengan aktif mengikuti kegiatan komunitas.
“Kita berharap, ketika berada di fase itu, jangan ragu untuk mencari bantuan kepada sesama,” kata Leonardus.
Editor: Herry Kabut




