Floresa.co — Pukul 03.00 Wita pada 25 September, Dusun Nganta masih gelap. Rofina Jaiman mengikat senter di kepala, mengangkat jeriken dan ember, lalu meninggalkan rumah bersama kedua anaknya. Salah satunya baru masuk sekolah dasar.
Mereka berjalan sekitar satu kilometer, menyusuri jalan yang mulai rusak, lalu menuruni perkebunan Nipis. Tujuan mereka sebuah sumur sedalam dua meter—salah satu dari sedikit sumber air yang masih bertahan pada musim kemarau.
Di tepi sumur, keluarga itu berbagi tugas. Rofina, 58 tahun, menimba dengan ember lima liter dan menuangkannya ke ember berkapasitas 20 liter. Seorang anak memindahkan air ke 20 jeriken berukuran lima liter; anak lainnya memegang senter.
Setelah wadah-wadah itu penuh, mereka mengikat jeriken dengan kain dan menapaki kembali tanjakan. Rofina memikul empat jeriken sambil menenteng dua ember.
Perjalanan dini hari itu direkam dalam video yang dikirim kepada Floresa pada 30 September oleh Herry Narendra, warga Dusun Nganta.
“Mama Rofina datang pas orang lain belum pada datang. Makanya dapat air agak banyak,” kata Herry, 34 tahun.
Datang lebih lambat berarti antre lebih panjang, bahkan mungkin pulang tanpa air. Menurut Herry, krisis di desa itu telah berlangsung bertahun-tahun dan memburuk setiap kemarau. Tahun ini, kesulitan mulai terasa pada Juni, ketika sebagian besar sumur mengering.
“Kalau musim kemarau, airnya ada tapi hanya rembesan kecil. Kadang kita tunggu satu jam airnya hanya cukup untuk satu jeriken berukuran lima liter. Itu pun airnya kotor,” katanya.
Dari empat sumur di Dusun Nganta, hanya dua yang masih mengeluarkan air: Nipis di sisi barat perkampungan dan Nuling di sisi selatan. Sekitar 60 kepala keluarga menempuh perjalanan 15 hingga 20 menit untuk mencapai keduanya.
Antrean mulai terbentuk sejak pukul tiga pagi. Jika tidak kebagian, warga kembali pada siang atau sore. Sebagian memilih datang setelah makan malam, ketika sumur lebih sepi dan rembesan air sempat terkumpul.
Anastasia Rensiana Jelau, 26 tahun, terbiasa menimba di sumur Nuling.
“Kami harus bangun jam tiga pagi supaya bisa mendapat air yang banyak dan harus mengantre sampai jam enam,” katanya.
Warga yang datang setelah pukul enam, lanjutnya, bisa menunggu dua sampai tiga jam dan hanya membawa pulang lima jeriken.
Air yang diperoleh pun tidak selalu jernih. Beberapa hari setelah gempa melanda Flores pada 15 Agustus, warna air sumur berubah agak putih.
Warga menyaring dan mengendapkannya sebelum dimasak hingga benar-benar matang untuk diminum.

Menempuh Tiga Kilometer, Membayar Tiap Jeriken
Ketika sumur di Nganta tidak lagi menghasilkan air, warga menuju Kampung Linur di Dusun Rani, sekitar tiga kilometer dari tempat tinggal mereka.
Sumur dangkal di sana memiliki debit lebih besar dan digunakan warga dari Dusun Rani, Golo Pau, dan Nganta. Jarak itu menambah biaya.
“Warga dari Dusun Nganta harus sewa motor untuk angkut air dari sana. Biasanya anak muda yang punya motor biasa pakai tarif Rp10.000 per jeriken yang berkapasitas 30 liter,” kata Herry.
Krisis serupa dialami warga Dusun Lait. Matilde Nenia, 33 tahun, mengatakan sebagian besar sumur mengering, terutama setelah gempa 15 Agustus.
Dari beberapa sumber air di Kampung Lait dan Landur, 27 kepala keluarga mengandalkan Wae Mes yang berjarak sekitar satu kilometer.

Air Wae Mes digunakan untuk minum, sedangkan air Wae Rombang hanya untuk mandi dan mencuci karena mengandung zat kapur.
Matilde memasang alarm pukul lima pagi, tetapi keberangkatannya bergantung pada balitanya di rumah. Jika anak itu terbangun dan meminta ikut, ia tiba lebih lambat di sumur.
Untuk hajatan besar, pilihan warga lebih jauh dan lebih mahal. Mereka menyewa mobil untuk mengangkut air dari Kali Wae Larik di perbatasan Kecamatan Congkar. Tarifnya berkisar Rp400 ribu hingga Rp600 ribu per tangki serat.
Desa Sisir sebenarnya memiliki beberapa mata air, tetapi letaknya berada di dataran rendah, sekitar dua kilometer dari permukiman.
Menurut Herry, kondisi topografi membuat pembangunan sumur lebih memungkinkan bagi warga.
Janji Lama, Survei Baru
Keluhan mengenai krisis air pernah disampaikan warga kepada Bupati Manggarai Timur Andreas Agas ketika ia mengikuti kegiatan Palang Merah Indonesia di Desa Sisir pada 2023.
Menurut Herry, saat itu, Agas berjanji membangun fasilitas air minum bersih pada tahun yang sama, tetapi belum terealisasi hingga kini.
Kepala Desa Sisir, Marianus Sudarson kembali menyampaikan persoalan itu kepada Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Manggarai Timur pada 27 September. Ia mengusulkan pembangunan sumur bor di Dusun Nganta, Rani, dan Lait.
Berbicara kepada Floresa pada 1 Oktober, Sekretaris Daerah Manggarai Timur Winsensius Tala berkata, “hari ini tim teknis akan turun ke lapangan.”
“Setelah tim teknis pulang baru kami hitung berapa biaya yang diperlukan,” katanya.
Ia berjanji, pembangunan fasilitas air minum di desa tersebut akan dilaksanakan pada tahun ini.
Tim teknis kemudian menyurvei tiga lokasi pada 2 Oktober: Linur di Dusun Rani, Nuling di Dusun Nganta, dan Wae Mamba di Dusun Lait.
Namun, Herry mengatakan tim menilai debit air di Nganta kecil sehingga pembangunan sumur di sana kemungkinan tidak dilakukan.
Ditanya tentang hasil survei tim teknis, Winsensius berkata, “nanti kami infokan kalau sudah mulai pekerjaannya.”
Ia tidak menjawab pertanyaan lanjutan Floresa mengenai hasil penilaian tim teknis di dusun tersebut.
Editor: Ryan Dagur



