Oleh: Imanuddin
Ketika tanah berguncang, rumah yang selama ini menjadi lambang kemajuan dapat berubah menjadi sumber bahaya. Kerusakan luas akibat gempa di Flores kembali menunjukkan bahwa rumah bukan sekadar tempat tinggal, melainkan garis pertahanan pertama yang menentukan keselamatan sebuah keluarga.
Di wilayah yang hidup berdampingan dengan ancaman gempa, keamanan rumah tidak ditentukan oleh apakah bangunannya disebut “tradisional” atau “modern”. Yang menentukan ialah cara rumah dirancang: seberapa berat materialnya, bagaimana beban disalurkan, sekuat apa rangka dan sambungannya, serta sebaik apa mutu pengerjaannya.
Karena itu, masa depan rumah aman di Flores tidak terletak pada pilihan antara beton dan bahan tradisional. Tantangannya adalah memadukan prinsip teknik tahan gempa, pengetahuan lokal, mutu konstruksi, dan pengelolaan material yang berkelanjutan.
Modernisasi seharusnya memperkuat daya lenting masyarakat, bukan menghapus kecerdasan yang tumbuh dari pengalaman panjang membaca lingkungan.
Kerentanan Tektonik dan Dampak Gempa
Flores berada pada jalur Cincin Api Pasifik dan menjadi bagian dari busur vulkanik Sunda–Banda, di zona peralihan antara penunjaman kerak samudra di barat dan tumbukan kerak benua Australia di timur (Purwandono dkk., 2021).
Kerentanan ini diperkuat oleh kedekatannya dengan Sesar Naik Flores, bagian dari sistem sesar naik busur belakang aktif yang membentang sekitar 800 kilometer di sepanjang Busur Sunda bagian timur (Yang, Singh, dan Tripathi, 2020).
Kajian geofisika menunjukkan bahwa sistem ini mampu menghasilkan gempa dangkal bermagnitudo besar; penelitian pemodelan tsunami juga mencatat 79 gempa bermagnitudo lebih dari 6,0 pada kurun 1900–2022, dan 11 di antaranya membangkitkan tsunami (Wahyudi dkk., 2024). Catatan tersebut mencakup gempa dan tsunami Flores 1992 yang sangat merusak.
Risikonya tidak hanya berasal dari kekuatan guncangan. Karena sebagian struktur sesar berada di bawah laut, gempa besar yang merobek dasar laut juga dapat mengancam permukiman pesisir melalui tsunami.
Riset tentang Sesar Naik Flores menegaskan bahwa struktur lepas pantai ini tetap dapat menimbulkan ancaman tsunami apabila gempa besar memecahkan dasar laut. Kedekatan sumber gempa, kedalaman yang dangkal, serta potensi deformasi vertikal dasar laut menjadikan keselamatan bangunan dan kesiapsiagaan pesisir sebagai kebutuhan yang saling berkaitan.
Gempa bermagnitudo 7,7 pada 15 Agustus 2026 memperlihatkan risiko tersebut secara nyata. Dua bulan setelah guncangan utama, proses pemulihan masih terus berlanjut. Data Pemerintah Provinsi NTT mencatat 102.243 rumah terdampak: 26.959 rusak berat, 23.137 rusak sedang, dan 52.147 rusak ringan. Gempa juga merusak 1.559 fasilitas pendidikan, 329 fasilitas kesehatan, 289 gedung pemerintahan, dan 287 fasilitas keagamaan.
Tekanan terhadap warga juga diperpanjang oleh rangkaian gempa susulan yang berlangsung berbulan-bulan. Hingga 19 Oktober 2026 pukul 05.00 WIB, BMKG mencatat 22.231 gempa susulan sejak gempa utama 15 Agustus, dengan magnitudo antara M0,9 dan M6,2. Sebanyak 39 kejadian bermagnitudo di atas M5 dan 223 kejadian dirasakan masyarakat.
Dua gempa pada 18 Oktober, masing-masing bermagnitudo M5,1 dan M4,1, menunjukkan bahwa meskipun frekuensi harian telah menurun secara signifikan, gempa susulan yang cukup kuat masih dapat terjadi dan dirasakan warga
Pemerintah masih melakukan pendataan, rehabilitasi, dan rekonstruksi, termasuk memulihkan jalan, layanan air bersih, sekolah, dan fasilitas kesehatan serta menyediakan hunian yang lebih aman.
Namun, sejumlah keluarga di kampung-kampung masih bertahan di tenda darurat, sementara keluarga lain menumpang di rumah tetangga atau bangunan yang masih aman.
Laporan Floresa pada 22 Oktober memperlihatkan keadaan itu di tingkat warga. Di Kelurahan Tiwu Kondo, Kecamatan Elar, Manggarai Timur, masyarakat membangun secara swadaya enam rumah darurat bagi keluarga yang rumahnya tidak lagi dapat dihuni. Seorang warga mengaku hampir sebulan tidak menerima bantuan sembako; menurutnya, bantuan pemerintah dan lembaga lain terutama datang pada bulan pertama.
Di wilayah lain, kerusakan saluran irigasi membuat sawah tidak dapat digarap, sementara cuaca panas dan kering mempersempit kesempatan kerja dan penghasilan.
Skala kerusakan, panjangnya rangkaian gempa susulan, dan lambatnya pemulihan memperlihatkan bahwa keruntuhan rumah memicu kerentanan berlapis: keluarga kehilangan tempat berlindung, penghasilan terhenti, kebutuhan dasar bergantung pada bantuan, dan kehidupan ekonomi ikut terganggu.
Dari sini tampak bahwa persoalan rumah tahan gempa tidak dapat disederhanakan menjadi pilihan material. Laporan lapangan menunjukkan bahwa kerusakan berat banyak terjadi pada rumah berdinding bata atau blok beton—yang sehari-hari kerap disebut rumah beton—terutama ketika dinding tidak diikat oleh kolom, balok pengikat, tulangan pada sudut dan bukaan, serta sambungan atap yang memadai.
Bangunan semacam ini berat dan kaku, tetapi dapat retak, terlepas, atau roboh saat menerima gaya lateral. Masalah utamanya bukan beton itu sendiri, melainkan sistem struktur dan mutu pengerjaannya.
Kearifan Lokal di Tengah Modernisasi
Di tengah kelemahan bangunan berat yang tidak dirancang dengan baik, pengalaman berbagai gempa di Indonesia—dari Yogyakarta dan Lombok hingga Cianjur—menunjukkan bahwa sejumlah rumah tradisional dapat bertahan lebih baik karena massanya relatif ringan, bentuknya sederhana, bebannya terdistribusi, dan sambungannya lebih lentur.
Ketahanan ini tetap tidak boleh digeneralisasi: rumah tradisional memerlukan bahan bermutu, perawatan, dan penyesuaian terhadap standar keselamatan masa kini.
Keunggulan tersebut lahir dari proses adaptasi yang panjang. Arsitektur vernakular memanfaatkan bambu, kayu, dan ijuk yang tersedia setempat, sekaligus menerapkan bentuk panggung, rangka yang saling mengikat, dan sambungan yang dapat bergerak tanpa segera patah.
Pilihan itu menjawab risiko gempa, iklim tropis yang lembap, kebutuhan ventilasi, gangguan satwa, ketersediaan sumber daya, serta tata kehidupan sosial dan budaya.
Namun, pengetahuan itu perlahan tersisih ketika rumah beton menjadi penanda kemapanan. Seorang kenalan yang lahir dan besar di Flores bercerita bahwa rumah kampung dahulu banyak dibangun sebagai rumah panggung dari kayu dan bambu dengan atap ijuk, lalu secara bertahap digantikan oleh bangunan beton.
Pergeseran ini bukan semata-mata akibat perubahan selera: kayu semakin mahal dan sulit diperoleh, sedangkan material industri dipandang lebih modern dan kuat. Dengan demikian, pilihan rumah dibentuk sekaligus oleh ekonomi, akses sumber daya, aspirasi sosial, dan persepsi tentang keamanan.
Pergeseran menuju rumah beton menjadi bermasalah ketika citra kekuatan tidak diikuti pengetahuan konstruksi. Beton bertulang dapat sangat aman jika dirancang berdasarkan risiko gempa, memakai mutu bahan yang tepat, memiliki detail tulangan dan sambungan yang benar, serta dikerjakan di bawah pengawasan.
Sebaliknya, beton tanpa persyaratan tersebut menambah massa bangunan dan memperbesar bahaya keruntuhan. Kritik terhadap modernisasi karena itu bukan penolakan terhadap material industri, melainkan terhadap penggunaannya yang terlepas dari konteks, keterampilan, dan standar keselamatan.
Rumah Hibrida sebagai Jalan Tengah
Jalan keluarnya bukan mengembalikan semua rumah secara kaku ke bentuk Mbaru Niang seperti di wilayah Manggarai, Flores bagian barat, melainkan menerjemahkan kecerdasan dasarnya ke dalam kebutuhan masa kini.
Prinsip yang perlu dipertahankan ialah struktur yang utuh dan saling mengikat, material yang relatif ringan, distribusi beban yang baik, sambungan yang mampu merespons gerakan, serta pemanfaatan sumber daya lokal. Bentuk rumah dapat berubah, tetapi kecerdasannya dalam membaca lingkungan tidak boleh hilang.
Prinsip itu dapat diterapkan melalui rumah hibrida yang menggabungkan fondasi dan elemen pengikat modern dengan rangka ringan dari bambu, kayu kelapa, kayu setempat yang legal, atau material lokal lain.
Setiap prototipe perlu diuji, dilengkapi gambar kerja sederhana, memperjelas detail fondasi dan sambungan, mudah dirawat, terjangkau, serta memenuhi standar keselamatan bangunan.
Dengan pendekatan ini, pengetahuan tradisional tidak berhenti sebagai simbol warisan, tetapi bekerja bersama ilmu teknik untuk melindungi kehidupan.
Material Lokal dan Ketahanan Rantai Pasok
Bambu menjadi salah satu pilihan yang menjanjikan karena teknologi pengawetannya terus berkembang. Bahan ini dapat diawetkan, antara lain dengan larutan berbasis boraks dan asam borat, lalu dikeringkan dan dilindungi dari kelembapan tanah serta hujan langsung.
Proses tersebut harus mengikuti prosedur keselamatan dan pengelolaan limbah yang benar. Jika sumbernya dikelola secara berkelanjutan, pemanfaatan bambu dan ijuk lokal juga dapat mengurangi kebutuhan angkutan jarak jauh dan memperkuat ekonomi setempat.
Namun, rancangan teknis hanya akan berjalan jika ditopang rantai pasok yang nyata. Ketersediaan kayu legal, bambu matang, ijuk, fasilitas pengawetan, pengrajin, dan jalur distribusi berbeda antardesa. Berkurangnya hutan dan beralihnya kebun bambu ke komoditas lain juga membuat pasokan lokal rapuh.
Karena itu, rekonstruksi perlu diawali dengan pemetaan kebutuhan material, kapasitas produksi, musim panen, akses jalan, harga, dan risiko eksploitasi berlebihan.
Strateginya perlu dibagi menurut waktu. Dalam jangka pendek, material dari wilayah lain dapat digunakan secara selektif agar rehabilitasi tidak terhenti. Dalam jangka menengah, pemerintah daerah bersama kelompok tani, koperasi, dan lembaga adat dapat membangun kebun bibit, fasilitas pengawetan, serta pusat produksi komponen.
Dalam jangka panjang, pemulihan hutan dan penanaman bambu, aren, nangka, serta jenis multiguna lain perlu ditempatkan dalam tata kelola lahan yang melindungi hak masyarakat dan sesuai dengan kondisi ekologis setempat.
Kebijakan Rekonstruksi dan Kapasitas Masyarakat
Agar solusi teknis dan rantai pasok tersebut berjalan, kebijakan rekonstruksi harus menghubungkan standar keselamatan dengan kebutuhan setiap tempat, bukan menawarkan satu desain untuk semua wilayah. Pemerintah pusat dapat menetapkan standar minimum, sedangkan pemerintah daerah, tenaga teknis, perguruan tinggi, dan lembaga adat menerjemahkannya sesuai bahaya, iklim, budaya, dan material lokal.
Setiap desain perlu diperiksa secara teknis dan diawasi sejak pekerjaan fondasi, pemasangan rangka dan sambungan, hingga dinding dan atap. Bantuan juga sebaiknya membiayai pendampingan desain dan pengawasan konstruksi, bukan hanya paket material.
Kesaksian warga yang lebih banyak mengandalkan bantuan sesama warga dan relawan menegaskan bahwa kecepatan, pemerataan, transparansi, dan akuntabilitas bantuan sama pentingnya dengan mutu bangunan.
Pada saat yang sama, kapasitas masyarakat perlu diperkuat. Tukang lokal memerlukan pelatihan praktis dan sertifikasi bertahap mengenai konstruksi tahan gempa, pengawetan material, serta pemeriksaan mutu. Rumah contoh dapat menjadi tempat belajar bersama sebelum pembangunan diperluas.
Proses perancangan juga harus melibatkan tetua adat, perempuan, penyandang disabilitas, dan kelompok rentan agar rumah aman, mudah digunakan, dan diterima masyarakat.
Dengan demikian, ketahanan gempa tidak lahir dari satu material ajaib, melainkan dari kesatuan desain, mutu bahan, sambungan, keterampilan tukang, pengawasan, regulasi, dan pengelolaan sumber daya.
Masa depan rumah aman di Flores tidak terletak pada pilihan antara tradisi dan modernitas. Ia bergantung pada kemampuan memadukan ilmu teknik dengan pengetahuan lokal: semen dan baja digunakan secara tepat, bambu dan kayu dikelola secara lestari, kapasitas masyarakat diperkuat, dan keselamatan warga dijadikan ukuran utama kemajuan.
Imanuddin berada di Flores sejak gempa 15 Agustus, terlibat dalam INFLORES Project untuk konservasi komodo dan satwa terancam. Proyek ini didanai oleh Global Environment Facility (GEF) dan United Nations Development Programme (UNDP).
Editor: Ryan Dagur


