Oleh: Ryan Dagur
Setelah pada akhir bulan lalu kami menerbitkan serial liputan “Iman di Persimpangan Identitas” tentang pergulatan transpuan Katolik di Maumere, Flores, respons publik datang berlapis-lapis, dan tidak semuanya nyaman untuk dibaca.
Ada yang reflektif, penuh rasa ingin tahu. Tetapi ada pula gelombang komentar yang justru menyerang balik...
"Ini eksploitasi yang dikamuflasekan sebagai PKL," kata Ketua SPM Par Labuan Bajo Pokarius Mahi. "Secara usia mereka adalah anak-anak — bukan usia kerja."
Para kepala sekolah dan koordinator PKL mengakui siswa diperlakukan seperti tenaga kerja, jam kerja sering melebihi kesepakatan, dan BPJS Ketenagakerjaan ditanggung siswa sendiri — bukan industri. Namun ketika diminta menolak praktik itu, jawaban sekolah mengungkap posisi mereka yang sesungguhnya
Dua siswi PKL mengisahkan pengalaman diganggu saat pulang kerja malam. Satu sekolah mengakui siswanya pernah didorong ke kasur oleh staf kapal wisata. Penyelesaiannya: mediasi internal, tanpa proses hukum