Artikel-artikel yang ditulis oleh

Ryan Dagur

36 Artikel

Keputusan Floresa: Koreksi Etik, Bukan Kompromi

Menurunkan artikel yang prosesnya melanggar kesepakatan bukanlah tunduk pada tekanan. Itu adalah tanggung jawab etik. Jika ada bukti tentang “deal” lain, uji, konfirmasi, lalu tulislah—karena itulah kerja jurnalis.

Menjaga Floresa dan Media Alternatif Lainnya Terus Bertahan

Di tengah kuasa yang ingin menentukan cerita dan modal yang dapat membeli perhatian, media alternatif berusaha memastikan mereka yang disingkirkan tetap punya tempat untuk bersuara. Jika Floresa dan media sejenis padam, bukan hanya redaksi yang hilang—warga kehilangan ruang untuk bersuara, kekuasaan kehilangan pengawas, dan ketidakadilan semakin leluasa bekerja.

Alasan Kami Mendedikasikan Penghargaan untuk Warga Tonggurambang

ARMA 2026 bukan hanya pengakuan atas kerja redaksi, tetapi juga pengingat bahwa suara warga Tonggurambang harus terus dibawa ke ruang publik. Dari pengalaman mereka, kami belajar bahwa mengabaikan isu ruang hidup warga adalah kegagalan besar jurnalisme.

Nangahale dan Gereja yang Membiarkan Luka Umatnya

Di pinggir Jalan Trans Flores, warga yang rumahnya diratakan perusahaan milik Gereja menyalakan pelita dan berdoa Rosario. Dari rumah-rumah bambu tanpa listrik, mereka menagih kasih yang terus dikhotbahkan, tetapi absen ketika tanah mereka diperebutkan, martabat mereka diinjak, dan hidup mereka diseret ke meja hijau.

Musik Lokal Melawan Nasib Jadi Ornamen Wisata

Di panggung Pesta Kampung, musik dan layar protes bertemu: Labuan Bajo maju sebagai kota wisata, tetapi warga, air, lingkungan, dan suara lokal masih terus terdorong ke pinggir.

Artikel Terbaru

Ritual Barong Wae: Menjaga Air, Merawat Warisan Leluhur Manggarai

Setelah enam dekade, warga Wae Sano di Manggarai Barat kembali berjalan menuju Wae Kuta. Di mata air itu, mereka merawat ingatan tentang leluhur, Sang Pencipta, dan alam—sekaligus meneguhkan satu pesan: air hanya akan terus mengalir bila dijaga bersama.

“Kami Merasa Dikriminalisasi Gereja”

Seorang warga Nangahale menceritakan pemidanaan istrinya dalam perkara kasus pengancaman terhadap seorang imam Katolik di tengah konflik lahan berkepanjangan antara masyarakat adat dan PT Krisrama, perusahaan milik Keuskupan Maumere.

Merawat Perbedaan dari Ruang Kelas

Refleksi seorang pendidik tentang pentingnya mengenali prasangka, memahami perbedaan, dan membangun kolaborasi lintas iman dari ruang kelas.

Uskup Maumere: Konflik Nangahale Terberat Selama Saya Memimpin 

Atas dasar apa Keuskupan Maumere menguasai tanah Nangahale—dan mengapa sengketa itu berujung pada penggusuran serta laporan polisi terhadap umatnya sendiri? Mgr. Ewaldus Martinus Sedu menjawab konflik yang ia akui sebagai persoalan terberat semenjak 2018 memimpin Keuskupan di wilayah Kabupaten Sikka tersebut.