Nai berdiri di ceperan tembok penahan jalan. Angin siang mengibas rambutnya, tipis dan lelah. Di bawah, kendaraan lalu-lalang tanpa peduli. Ia menatap kosong, seperti sedang menimbang sesuatu yang tak terlihat.
“Yesus Kristus... bantu, bantu...!!!” teriak Tanta Meri dari kejauhan. Teriakan itu menunda kematian Nai siang itu. Ia tetap...