BerandaNARASIHidup Sederhana dengan Karya...

Hidup Sederhana dengan Karya Luar Biasa; Mengenang Pengalaman Bersama Pater Waser

Heribertus BungHans, seorang guru di Labuan Bajo mengisahkan pengalamannya mengenal sosok Pater Waser

Oleh: Heribertus BungHans, guru di SMP Negeri 2 Komodo, tinggal di Nggorang, Labuan Bajo

Kisah tentang Pastor Waser Ernst Anton, SVD, yang dikenal Pater Waser tidak akan ada habisnya. Setidaknya, itulah yang saya alami saat mendapat kabar ia meninggal dunia pada 7 September 2023. Ingatan tentangnya, pengalaman-pengalaman bersamanya kembali muncul.

Biarawan Katolik asal Swis, negeri dengan pegunungan salju terindah di Eropa Barat itu, berkarya di Manggarai, Flores barat sejak tahun 1977.

Saya beruntung, walaupun bukan alumnus SMP dan SMAK St. Klaus Kuwu, lembaga pendidikan ternama yang ia dirikan, tetapi pernah sangat dekat dengan beliau.

Tahun 2004, selepas menyelesaikan kuliah S1 di Universitas Kanjuruhan Malang, saya mengabdi di SMPK Pajung Mala dan SMA St. Klaus Werang – juga sekolah yang ia dirikan – di Kecamatan Sano Nggoang, Kabupaten Manggarai Barat.

Ia menugaskan saya sebagai pembina asrama laki-laki.

Pastor Waser Ernst Anton, SVD, misionaris kelahiran Swiss yang selama 46 tahun mengabdi di Manggarai, Flores barat, Nusa Tenggara Timur meninggal dunia pada Kamis, 7 September 2023.

Mengenali Sosok Pater Waser

Salah satu kebanggaan saya mengabdi di kedua sekolah itu adalah bisa mengenal lebih dalam tentang Pater Waser.

Sebagai pembina asrama, saya memang mendapat privelese, selalu makan bersama beliau apabila ia berkunjung ke Werang. Saya juga mendapat kesempatan untuk menemani aktivititasnya.

Saat makan, kami bercerita, berkelakar dan bercanda ria. Berbeda dengan yang mungkin jadi kesan umum bawah ia orang yang serius dan serba formal, ternyata Pater Waser seorang yang humoris.

Dia juga senang mendengar cerita-cerita kami.

Ia juga makan apa adanya yang disajikan pemasak, entah ikan kering, nasi jagung dan sayuran lokal. Dia makan porsi kecil. Saat ada acara atau pesta kecil-kecilan, barulah ada menu daging ayam kampung.

Yang wajib ada setiap hari memang bir.

Saya banyak bertanya dan dia sering menjawab detail. Ia paling senang mengisahkan situasi perang dunia kedua dan kekejaman rezim Nazi Jerman di bawah pimpinan Adolf Hitler.

Saat itu dia masih remaja sehingga ingatan kisah itu terpatri. Kalau Pater Waser mengisahkan ini, tampak ekspresi sedih dengan tatapannya menerawang jauh.

Berkeliling ke Wilayah Pelosok

Pater Waser seperti berpatroli mengunjungi kami. Ia akan berada di satu tempat paling lama satu Minggu, lalu bergeser ke tempat lain.

Patroli biasanya berawal dari Longko, Wangkung, Kecamatan Ruteng, Kabupaten Manggarai, lalu bergerak ke wilayah Manggarai Barat.

Ia akan singgah sebentar di Lembor, mengecek gudang beras agar didistribusikan ke lokasi proyek yang sedang ia kerjakan.

Setelahnya, ia akan ke Werang, melihat semua sarana prasarana sekolah dan asrama.

Ia juga terkadang pergi ke kampung Naga, Mata Wae . Pater Waser membuka akses jalan agar bisa dilewati kendaraan membuka keterisolasian di kampung ini selama puluhan tahun. Ia membeli kayu jati di Naga untuk pembangunan sekolah dan gereja. Dia juga membangun masjid dan gereja di sana.

Selanjutnya, dia akan ke Labuan Bajo, biasanya akan singgah di SMPK St. Yoseph Freidemetz – Sok Rutung, Kecamatan Komodo.

Di Labuan Bajo, Pater Waser ikut membangun proyek air minum. Dia mengalirkan sumber air dari Kampung Wae Moto menuju bak penampung di Wae Mata. Kini, jalur PDAM Wae Moto sudah rusak akibat longsor dan banjir besar pada 2019.

Patroli berlanjut ke Paroki Wangkung, Boleng. Di situ ia memiliki program khusus merekrut peserta didik kelas V da VI dari berbagai Sekolah Dasar untuk diasramakan.

Program ini memiliki fokus pembinaan karakter dan akademik dengan guru terlatih. Sayangnya, program ini sudah berhenti karena beberapa alasan yang tak bisa disampaikan di sini.

Selanjutnya, Pater Waser ke SMPK Dian Padang, Lando Terang, terus ke Bari – Macang Pacar.

Di Bari, ia memiliki tanah dan villa di pinggir laut dengan pantai berpasir putih. Tempat ini menjadi favorit berlibur. Dia sering mengajak keluarganya dari Swis berlibur di sini.

Bagi masyarakat Bari, Pater Waser sangat berjasa dalam pengadaan air bersih dan pembangunan asrama sekolah.

Setelah segalanya beres di Bari, dia lanjut patroli ke SMPK St. Markus Pateng, Rego. Perjalanan selanjutnya, mengunjungi SMPK Sadar dan SMAK Trinitas Ranggu. Dari situ baru ia pulang lagi ke Wangkung .

Istirahat sejenak di Wangkung, dia kembali berpatroli di wilayah Manggarai seperti SMPK Sinar Ponggeok- Satar Mese, lalu di wilayah Manggarai Timur.

Banyak juga yang dikerjakan Pater Waser di wilayah Manggarai Timur, tetapi saya ketiadaan informasi valid.

Di setiap lokasi kunjungan tersebut, Pater Waser memiliki pekerjaan yang harus diselesaikan.

Ia tidak hanya mengurusi lembaga pendidikan, tetapi juga fasilitas pelayanan untuk masyarakat seperti instalasi air minum dan pembangunan gereja.

Mengapa Berpatroli?

Patroli rutin dilakukan Pater Waser sejak tahun 1977, saat sebagian besar wilayah Manggarai raya [Manggarai, Manggarai Barat dan Manggari Timur] masih terisolasi.

 

Apa dan mengapa Pater Waser berpatroli di pelbagai pelosok Manggarai?

Sejauh yang saya ketahui, salah satu alasannya adalah ketika pada tahun 1990-an pemerintah mulai membangun banyak sekolah negeri dan orang tua senang menyekolahkan anak di Ruteng, maka sekolah-sekolah Katolik tingkat SMP milik Keuskupan Ruteng yang berjaya di tahun 1970-an di pusat paroki mulai ditinggalkan.

Akibatnya, sekolah tersebut ketiadaan siswa, ruang kelas rusak dan kekurangan guru.

Pater Waser turun tangan membenahi, memperbaiki bahkan lebih banyak membangun yang baru untuk fasilitas sarana prasarana seperti asrama, air minum dan rumah guru.

Ia bahkan ikut membantu membiayai gaji guru.

Setelah ada intervensi Pater Waser, lembaga pendidikan tersebut kembali bangkit dan bertahan hingga kini.

Pater Waser yang Perhatian

Suatu ketika, pada sore hari yang cerah, mobil Daihatsu Taft andalan Pater Waser yang dikemudikan Pak Donatus Amat masuk di gerbang SMPK Pajung Mala, Werang.

Saat itu, saya sedang kerja bakti bersama anak asrama, Tanpa basa-basi, Pater Waser berujar, “Mari Pak Heribertus, bersama saya melihat pekerjaan tukang.”

Kami pun mengelilingi lokasi proyek. Tibalah di bagian WC. Dia memegang kloset yang baru dipasang. Diraba dan diguncang-guncang, kloset itu tidak goyang sama sekali.

Pater Waser marah dan memanggil kepala tukang. “Ini kloset mengapa tidak bergoyang, mengapa dipasang mati?” ujar Pater dengan nada keras .

Saya pun bingung. Tukang diam membisu.

“Ini harus dibongkar. Kloset WC untuk anak asrama yang digunakan banyak orang harus dipasang hidup. Saat tersumbat, klosetnya tinggal diangkat, tanpa harus dibongkar semua,” jelas Pater Waser dengan kesal.

Saya pun baru mengerti. Dari situ dia berlanjut ke lokasi lain dengan penuh marah, efek kesalahan pemasangan kloset. Segala kesalahan kecil pun dia marahi, termasuk terkait kebersihan di kamar mandi anak asrama. Saya pun diam membisu.

Saat makan malam tiba, saya masih kaku karena Pater Waser diam.

“Pak Heribertus, mengapa diam? Ia tiba-tiba bertanya.

Saya pun polos menjawab, “Saya takut karena Pater masih marah.”

Mendengar jawaban itu, Pater Waser tertawa terbahak-bahak. Kami semua kaget.

“Saya sudah tidak marah. Ini sudah malam hari, kita lepas semua beban di siang hari,” ujarnya sambil tertawa.

Makan malam kami pun kembali ceria.

Tersentuh

Januari 2005, saya lulus tes sebagai Aparatur Negeri Sipil di Manggarai Barat. Aturan bekerja di lembaga milik Pater Waser tidak membolehkan guru negeri.

Usai lulus itu, kami bertemu di Ruteng. Ia memberi tahu sudah mendengar bahwa saya lulus tes.

“Sebelum ke Labuan Bajo, tolong ke Werang karena hari ini anak sekolah masuk asrama,” pesannya saat itu.

Dalam hati, saya berkata, “Inilah cara Pater Waser berpisah dengan saya. Saya pun menjalani perintahnya, pamit dengan anak asrama di Werang.”

Pertemuan terakhir saya dengan Pater Waser terjadi sekitar tahun 2010 di Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Manggarai Barat. Dia bertemu kepala dinas untuk sebuah urusan sekolah miliknya.

Heribertus BungHans. (Dokumentasi pribadi)

Saat itu, di lantai dua kantor tersebut, dia dikerumuni banyak pegawai dan guru-guru yang sedang mengurus administrasi. Saya pun mendekat, berjabat tangan dengan erat .

“Suaramu saya masih ingat. Ini Pak Heribertus,” ujarnya, yang spontan membuat saya merasa begitu bangga. Ia ternyata masih mengenal saya.

Saya merasa bangga pernah dekat dengan seorang pastor yang sangat sederhana, tetapi luar biasa dalam karya nyata.

Selamat jalan Pater Waser. Karya-karyamu terpatri di sanubari masyarakat Manggarai Raya.

Artikel Terkini