Sulit Antar Pasien Kritis ke Rumah Sakit, Warga Pulau Komodo Desak Pemerintah Segera Perbaiki ‘Ambulans Laut’ yang Rusak 

Kepala Dinas Kesehatan Manggarai Barat menyebut kendala anggaran membuat mereka belum bisa meningkatkan kapasitas mesin speedboat yang biasa warga pakai sebagai ambulans untuk sampai ke Labuan Bajo

Floresa.co – Warga Pulau Komodo yang berada di dalam kawasan taman nasional mendesak Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat segera memperbaiki speedboat yang rusak setelah mereka kesulitan mengantar pasien yang kritis ke rumah sakit. 

Desakan itu muncul setelah pada 21 Februari mereka kesulitan mengantar seorang bayi yang sakit ke RSUD Komodo di Merombok, pinggiran Labuan Bajo.

Ardiansyah Purnama, salah satu warga berkata, bayi tersebut dirujuk ke rumah sakit setelah sempat dirawat di Puskesmas Komodo.

Saat hendak diantar ke rumah sakit, kata dia, warga baru mengetahui bahwa speedboat atau “ambulans laut” itu rusak pada bagian mesin, kendati baru berusia satu tahun.

Lantaran terdesak, katanya, bayi tersebut akhirnya diantar menggunakan speedboat milik PT Palma Hijau Cemerlang, perusahaan yang sejak 2024 menjalin kerja sama dengan Balai Taman Nasional Komodo untuk program konservasi di Pulau Padar.

Sebelumnya, tambahnya, pasien-pasien yang dirujuk ke RSUD Komodo diantar menggunakan kapal motor milik warga dengan jarak tempuh empat hingga lima jam.

“Dalam situasi darurat, waktu adalah faktor penentu keselamatan. Perjalanan laut yang memakan waktu berjam-jam tentu sangat berisiko bagi pasien dalam kondisi kritis,” katanya. 

Ia menjelaskan, bayi itu menderita pneumonia berat, disertai distress napas dan gastroenteritis akut. Ketiganya masing-masing merujuk pada infeksi pada paru-paru, kondisi gawat darurat akibat peradangan paru dan peradangan pada lambung serta usus.

Purnama berkata, pihak puskesmas telah menyampaikan kerusakan speedboat tersebut ke Dinas Kesehatan, namun “hingga saat ini, belum ada tindak lanjut yang nyata.”

Kendati tak merinci, ia menyebut jumlah pasien gawat darurat yang dirujuk dari Puskesmas Komodo selalu meningkat, membuat ketersedian ambulans laut sangat dibutuhkan.

“Kondisi ini semakin memprihatinkan terutama bagi ibu hamil yang hendak melahirkan dan membutuhkan penanganan cepat di fasilitas kesehatan yang lebih memadai di Labuan Bajo,” katanya.

Purnama berharap Dinas Kesehatan Manggarai Barat dapat menanggapi persoalan ini dengan serius dan segera mengambil langkah konkret. 

“Perbaikan ambulans laut atau penyediaan alternatif transportasi medis yang layak harus menjadi prioritas demi menjamin keselamatan masyarakat Komodo,” katanya.

“Sudah seharusnya persoalan ini mendapat perhatian dan tindakan cepat demi melindungi hak dasar masyarakat Komodo atas pelayanan kesehatan yang layak dan responsif,” katanya.

Floresa meminta tanggapan, Kepala Puskesmas Desa Komodo, Makmum tentang kondisi speedboat itu melalui WhatsApp pada 23 Februari.

Namun, ia tidak merespons, kendati pesan yang dikirim ke ponselnya bercentang dua, tanda telah sampai kepadanya. 

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Manggarai Barat, Adrianus Ojo  mengklaim ambulans tersebut masih berfungsi dengan baik. 

“Saat ini, ambulans tersebut hanya digunakan oleh petugas puskesmas dalam rangka pelayanan ke spot wisata, seperti Loh Liang (Pulau Komodo) dan Pink Beach (Pulau Padar),” katanya kepada Floresa pada 23 Februari.

Kendati demikian, Adrianus mengakui bahwa “pelayanan rujukan pasien belum bisa dimaksimalkan karena perlu meningkatkan kapasitas mesin ambulans tersebut.” 

Ia berkata, pemerintah belum bisa meningkatkan kapasitas mesin speedboat itu karena terkendala anggaran.

“Semoga tahun ini anggaran kita memungkinkan untuk upgrade kapasitas mesin sehingga bisa mengatasi kondisi lautan yang sering tidak menentu,” katanya.

Populasi warga Pulau Komodo saat ini sekitar 2.000 jiwa. Mereka mendiami salah satu pulau berpenduduk di dalam kawasan Taman Nasional Komodo itu, habitat bagi kadal raksasa dan satwa purba Varanus komodoensis.

Kendati menjadi salah satu spot kunjungan favorit wisatawan dari berbagai negara, yang memberi pemasukan miliaran ke kas negara saban tahun, mereka mengalami berbagai keterbatasan fasilitas pelayanan publik, termasuk untuk kesehatan.

Pulau ini ditempuh selama empat jam pelayaran dari Labuan Bajo dengan perahu bermotor. Dengan speedboat, waktu tempuh bisa dipangkas menjadi dua jam.

Editor: Herry Kabut

Dukung kami untuk terus melayani kepentingan publik, sambil tetap mempertahankan independensi. Klik di sini untuk salurkan dukungan!
Atau pindai kode QR di samping

BACA JUGA