BBM Langka di Kota Pariwisata Super-Premium Labuan Bajo; Warga Berhari-hari Antre di SPBU, Kapal Wisata Tak Bisa Berlayar

Pertamina klaim cuaca ekstrem jadi pemicu telatnya pasokan, kini berusaha menambah kapal pengangkut BBM

Floresa.coSaldi Sasando telah dua hari antre di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Prundi, Labuan Bajo saat ditemui Floresa pada 18 Agustus petang.

Ia mengaku berada di SPBU sejak 16 Agustus siang, hingga bis kayunya berada di bagian depan antrean.

“Sejak hari Sabtu solar tidak masuk. Kami tidak tahu apa alasannya, kami hanya menunggu,” lanjut bapak tiga anak itu. 

Pantauan Floresa, antrean di SPBU itu sepanjang 1,2 kilometer, membentang dari Kantor Dinas Pendidikan Manggarai Barat hingga Masjid Nurul Imam Sernaru yang berada di samping SPBU.

Ada 172 mobil dengan beragam jenis menanti BBM subsidi jenis Solar dan Pertalite.

Selama antre, Saldi mengaku menunggu hingga 22.00 Wita, akhir dari pelayanan di SPBU itu.

Ia balik ke rumahnya di Gang Pengadilan, sebelum datang lagi pada pagi hari.

Saldi mengaku selalu menanyakan kepada petugas kepastian datangnya BBM, yang berulang kali dijawab: “tunggu saja.”

Ia merupakan sopir yang melayani trayek penumpang rute Labuan Bajo-Paku di Kecamatan Sano Nggoang. 

“Karena BBM tidak ada terpaksa tidak jalan,” katanya.

Di Labuan Bajo terdapat 5 SPBU, namun yang menjual Solar subsidi hanya di SPBU Prundi dan di SPBU Merombok, sekitar 7 kilometer ke arah timur di jalur Trans Flores. Antrean terjadi juga di SPBU Merombok.

“SPBU lain hanya sediakan Pertamina Dex,” merujuk pada jenis BBM non-subsidi yang harganya lebih dari dua kali lipat dari solar.

“Saya tidak sanggup membelinya. Mending pilih antre saja,” katanya sambil berharap tanker minyak segera datang. 

Ia mengaku antrean demikian kerap terjadi selama dua tahun terakhir, “namun, kali ini yang paling parah.”

Saldi Sasando, sopir yang melayani trayek penumpang rute Labuan Bajo-Paku di Kecamatan Sano Nggoang sudah mengantre di SPBU Prundi Sernaru sejak 16 Agustus siang. (Dokumentasi Floresa)

Baron, seorang sopir bus pariwisata juga sudah antre sejak 16 Agustus sekitar pukul 10.00 Wita.. 

Ia mengaku sempat mendapat kabar solar tiba pada 17 Agustus.

Namun, setelah menunggu hingga malam, tak ada kabar lanjutan.

“Saya kecewa, ini sudah lama tunggu. Tidak jelas juga kapan (Solar) sampai,” kata Baron. 

Ia mengaku sejak mengantre busnya terpaksa menghentikan layanan bagi wisatawan. 

Pada 17 Agustus ia “seharusnya melayani tamu full day (sepanjang hari), tetapi karena kendala BBM jadinya geser ke bus lain.”  

Kapal Wisata Tak Jadi Berlayar

Richardus Papo Ari, seorang pemandu wisata mengungkapkan keresahannya lewat sebuah video yang beredar luas di media sosial.

“Banyak tamu kami yang komplain dan kemungkinan tidak jadi jalan karena tidak adanya BBM buat kapal-kapal,” katanya.

Menurut Richardus, fenomena ini bukan kali pertama terjadi di Labuan Bajo.

“Tahun lalu juga demikian dan (terjadi) saat musim ramai,” katanya.

Ia menambahkan, kapal-kapal yang saat ini masih berlayar mendapat BBM dengan harga yang “tidak masuk akal,” tanpa merinci harga belinya.

Pemandu wisata dari agen wisata Indonesia Juara Trip itu menduga, jangan sampai fenomena kelangkaan BBM terjadi karena adanya penimbunan.

Dihubungi Floresa pada 18 Agustus, ia mengaku banyak tamu yang membatalkan perjalanan. 

“Ada yang kembalikan uang, sebagian full refund (dikembalikan penuh) bagi yang tidak jadi jalan,” katanya. 

Ia menyebut contoh Kapal Speedboat 16 dan 17 Wailuli yang membatalkan perjalanan dan terpaksa full refund kepada wisatawan.

Sementara Kapal Mosalaki yang melayani trip dua hari satu malam (two day dan one night) mengembalikan setengah dana wisatawan karena BBM hanya cukup untuk trip dua hari. 

Anggota DPRD Provinsi NTT, Rusding mengingatkan Pertamina dan para pemangku kepentingan agar memastikan ketersediaan BBM di Labuan Bajo tetap terjaga.

“Hal ini sangat menghambat pariwisata Labuan Bajo,” kata Rusding. 

Rusding sempat mengecek ketersediaan BBM bagi kapal-kapal wisata di Pelabuhan Marina Labuan Bajo.

“Hari-hari ini pelaku pariwisata kesulitan mendapatkan BBM bahkan (mencarinya) ke lintas kabupaten,” katanya. 

Apa Respons Pertamina? 

Ahad Rahedi, juru bicara Pertamina Patra Niaga yang melayani wilayah Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara mengklaim, pemicu kelangkaan ini adalah cuaca ekstrem yang berdampak pada mobilisasi kapal suplai ke Fuel Terminal BBM Reo.

Reo berada di bagian utara Kabupaten Manggarai dan menjadi pemasok BBM untuk wilayah Flores bagian barat. Jaraknya 188 kilometer dari Labuah Bajo dengan waktu tempuh rata-rata lima setengah jam.

“Suplai BBM ke SPBU beroperasi 24 jam menjadi komitmen Pertamina Patra Niaga untuk mengamankan distribusi BBM di wilayah Labuan Bajo dan sekitarnya,” kata Ahad dalam keterangan tertulis yang diperoleh Floresa pada 18 Agustus. 

Ia berkata, pasokan distribusi BBM ke Labuan Bajo yang semula dilakukan secara reguler dari Fuel Terminal Reo kini ditambah melalui dua titik alih suplai, yakni Fuel Terminal BBM Maumere dan Fuel Terminal BBM Ende.

“Sebagai bagian dari optimalisasi distribusi, sales area NTT Pertamina Patra Niaga mengerahkan armada tambahan dari kedua terminal tersebut,” kata Ahad. 

Dari Fuel Terminal Maumere, kata dia, telah beroperasi tiga unit mobil tangki berkapasitas 16.000 liter dengan total pasokan 48.000 liter produk pertamina dex. 

Sementara dari Fuel Terminal Ende, enam unit mobil tangki dengan kapasitas yang sama dikerahkan, membawa total 96.000 liter produk biosolar.

“Kami juga memprioritaskan pengiriman ke SPBU serta pengisian bagi konsumen kendaraan,” katanya. 

Ia menambahkan, pengisian untuk konsumen non-kendaraan “kami lakukan pengaturan mencegah potensi tindakan spekulatif.: 

Ahad menambahkan, pada 19 Agustus kapal tanker dijadwalkan melakukan bongkar muat di Fuel Terminal BBM Reo dengan membawa 250.000 liter Pertamina Dex dan 800.000 liter Biosolar untuk menambah stok BBM di wilayah tersebut. 

Ia melaporkan, rata-rata konsumsi penggunaan BBM SPBU wilayah Labuan Bajo untuk produk Pertalite 6.090 liter, Pertamax 7.020 liter, Biosolar 2.220 liter, Pertamina Dex 5.940 liter. 

“Dengan tambahan pasokan ini, didukung dua titik alih suplai dan optimalisasi distribusi yang kami lakukan, kami mengamankan distribusi BBM tercukupi,” pungkasnya.

Antrean panjang di SPBU Wardun, Pasar Baru Labuan Bajo pada 19 Agustus 2025. (Dokumentasi Floresa)

Merusak Citra Pariwisata

Saldi Sasando yang hingga 19 Agustus masih bertahan di SPBU Sernaru berharap pihak Pertamina tidak hanya janji.

“Harapannya ke depan semoga tidak antre begini lagi, karena pemakaian BBM di Labuan Bajo banyak, mana untuk kapal-kapal,” katanya.

Sementara Richardus Papo Ari berkata, situasi ini menyedihkan.

“Katanya Labuan Bajo kota pariwisata super-premium, tapi kalau kasus begini (kelangkaan BBM) masih belum bisa diselesaikan, sangat mengganggu dan merusak citra pariwisata,” katanya.

“Memalukan dan kita pun bingung kasih alasan apa ke tamu,” tambahnya.

Anggota DPRD NTT Rusding juga berkata, kelangkaan BBM ini menjadi preseden buruk bagi pariwisata Labuan bajo. 

“Wisatawan yang datang ke Labuan Bajo tentu sudah menyiapkan jadwal,” ungkapnya.  

Ketiadaan BBM, kata dia, merugikan mereka dan merusak citra pariwisata secara keseluruhan.

Editor: Ryan Dagur

Dukung kami untuk terus melayani kepentingan publik, sambil tetap mempertahankan independensi. Klik di sini untuk salurkan dukungan!
Atau pindai kode QR di samping

BACA JUGA