Sekolah Tak Punya Jaringan Internet, Siswa di Pulau Solor Ikut Ujian di Pekuburan

Ada pula pelajar yang menumpang ujian di rumah warga

Floresa.co – Siswa Sekolah Dasar Katolik (SDK) Lamawohong di Pulau Solor mengikuti ujian berbasis daring di pekuburan lantaran tak punya jaringan internet di sekolah mereka.

Peristiwa pada 29 September itu terjadi kala enam siswa kelas V sekolah di Kecamatan Solor Barat, Kabupaten Flores Timur itu harus mengerjakan Asesmen Nasional Berbasis Komputer (ANBK).

ANBK yang diluncurkan pada 2021 berlangsung sekali setiap tahun dan hanya diikuti oleh siswa kelas V SD. 

Hasil ANBK, selain tiga program lainnya, merupakan indikator mutu di satuan pendidikan tertentu, bukan mengevaluasi capaian siswa secara individu. 

Kepala SDK Lamawohong, David Laben Tukan berkata, pengerjaan soal di makam telah berlangsung sejak dua tahun silam. 

Terpaut sekitar 500 meter dari sekolah, pekuburan umum  itu “menjadi alternatif terdekat bagi siswa peserta ANBK” karena bisa mengakses jaringan internet.

Selain itu, makam menjadi satu-satunya pilihan paling masuk akal lantaran “kami tak punya dana transportasi, makan dan minum bagi siswa dan guru pendamping.”

Pilihan tersebut diambil setelah satu tahun sebelumnya mereka menumpang di suatu SD yang terpaut empat kilometer, saat ANBK mulai terlaksana di Flores Timur. 

Meski begitu, sinyal internet di makam juga tak selamanya mulus. Dengan waktu pengerjaan 1,5 jam, para siswa “harus berkejaran dengan waktu di tengah sinyal yang kembang-kempis.”

“Tak jarang siswa menjawab sekenanya. Yang penting selesai,” kata David pada 30 September.

Menurut David, kondisi tersebut memicu SDK Lamawohong mendapat nilai merah dalam dua tahun berturut-turut.

Dalam Rapor Pendidikan, merah mengindikasikan bahwa satuan pendidikan tertentu memiliki banyak kekurangan untuk mencapai standar yang ditetapkan pemerintah. 

Spektrum Rapor Pendidikan yang dicetuskan Kementerian Pendidikan terdiri dari tiga warna. Selain merah, dua lainnya adalah kuning (perlu pembenahan) dan hijau (keberhasilan inspiratif). 

David menyatakan hasil ANBK SDK itu pada dua tahun sebelumnya “berdampak pada ketiadaan pencairan Dana BOS Afirmasi.”

Permendikbud Nomor 24 Tahun 2020 tentang Petunjuk Teknis Bantuan Operasional Sekolah Afirmasi dan Bantuan Operasional Sekolah Kinerja mengatur dana tersebut dialokasikan guna meningkatkan kualitas pendidikan di sekolah di daerah tertinggal, terdepan dan terluar (3T).

Protes Kecil-kecilan yang Perlu Diperhatikan

Pengalaman para pelajar SD Lamawohong juga dihadapi siswa setidaknya di tiga SD lain dalam kecamatan yang sama.

Ketiganya adalah SDK Kalelu, SD Inpres Tanaedan dan SD Negeri Lamaole.

Kepala SDK Kalelu, Andreas Jawan membenarkan tak ada jaringan internet di sekolahnya.Tahun lalu mereka menumpang mengerjakan soal-soal ANBK di SD Inpres Nusadani, sekitar lima kilometer dari sekolah itu.

Selain menghabiskan waktu, jarak yang mesti ditempuh dengan berjalan kaki membuat siswa letih sebelum mengikuti ujian, katanya.

Itulah mengapa tahun ini “kami membawa pelajar berjalan kaki dari sekolah ke rumah warga sekitar.” 

Di rumah yang berjarak sekitar satu kilometer dari sekolah itu mereka menumpang mengikuti ujian.

Seperti juga pekuburan yang menjadi pilihan SDK Lamawohong, sinyal internet di rumah warga juga tak selamanya lancar.

David juga mengakui kekurangan guru di sekolahnya yang menambah persoalan pada hari pelaksanaan ANBK. 

Seorang guru olahraga terpaksa  merangkap menjadi operator di sekolah tersebut dan harus mendampingi siswa kelas V mengikuti ANBK yang berakibat pada penelantaran murid yang pada jam tersebut semestinya mengikuti pelajaran olahraga.

“Orang tua siswa pernah komplain,” kata David, “karena tidak ada guru olahraga.”

Kata mereka seperti dikisahkan kembali oleh David: “Anak kami datang ke sekolah untuk olahraga, gurunya malah pergi ke tempat lain.”

Honor seorang guru dengan pekerjaan rangkap itu, kata David, “paling tinggi hanya Rp500 ribu.” Upah bersumber dari dana BOS dan dana komite.

Meski terdengar seperti protes kecil-kecilan, “tetapi pemerintah selayaknya memperhatikan keresahan kami, para guru dan orang tua murid.”

“Jangan anaktirikan kami hanya karena kami sekolah swasta,” kata David.

Editor: Ryan Dagur

Dukung kami untuk terus melayani kepentingan publik, sambil tetap mempertahankan independensi. Klik di sini untuk salurkan dukungan!
Atau pindai kode QR di samping

BACA JUGA