Floresa.co – Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono menemukan beberapa fasilitas di Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) di Kabupaten Manggarai Barat belum berkualitas.
Ia menyampaikan hal tersebut saat mengunjungi Kampung Warloka, Desa Persiapan Warloka Pesisir, Kecamatan Komodo pada 26 Februari.
“Ada beberapa yang saya minta diperbaiki,” katanya tanpa merinci fasilitas yang dimaksud.
“Kalau bapak-ibu melihatnya sudah bagus gitu. Kalau saya belum, masih ada yang kurang karena saya ingin ini semua menjadi milik bapak-ibu,” tambahnya.
Ia mengklaim telah meminta Direktorat Jenderal (Dirjen) Perikanan Tangkap – lembaga yang menangani proyek itu – untuk memperbaiki fasilitas tersebut.
Pantauan Floresa, setidaknya ada 15 gedung yang telah dibangun, di antaranya gudang beku portable, pos jaga, kantor pengelola, pabrik es portable, pasar ikan, kios perbekalan, toilet umum, shelter cool box, shelter perbaikan jaring, shelter pendaratan ikan, bengkel nelayan, kios kuliner, balai nelayan, docking kapal dan bangunan untuk genset.
Ukuran bangunan-bangunan tersebut bervariasi, namun rata-rata luasnya 42 meter persegi. Pasar ikan yang paling luas, 108 meter persegi.
Beberapa gedung seperti gudang beku, pabrik es dan pasar ikan dibangun di lokasi yang semula menjadi pasar.
Fasilitas lain yang telah dibangun adalah tangga pendaratan dan tambatan perahu.
Sementara itu, fasilitas yang sedang dibangun adalah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum Nelayan.

Mayang, salah seorang nelayan di kampung itu berkata, tambatan perahu yang dibangun masih pendek, hal yang membuat perahu nelayan tidak bisa sandar ketika air laut sedang surut.
Panjang tambatan perahu itu, kata dia, hanya sekitar 50 atau 100 meter dari bibir pantai.
Seharusnya, kata Mayang, panjang tambatan perahu yang ideal sepanjang 300 atau 400 meter.
Merespons keluhan itu, Trenggono mengklaim tambatan perahu itu masih bisa diperbaiki.
Saat meninjaunya, sebuah perahu berhasil sandar karena air laut sedang pasang.
“Tapi tunggu dulu lah, liat aja dulu. Ini jalan dulu. Belum dioperasikan. Nanti (kalau) sudah dioperasikan, kita evaluasi. Kan ada Pak Bupati (Edistasius Endi) juga,” katanya.
Kunjungan itu merupakan yang kedua setelah pada 3 Juni 2025, Trenggono juga ke Warloka meninjau perencanaan pembangunan KNMP.
Saat kunjungan pertama, kata Trenggono, ia melihat ada kapal yang mengangkut kotak-kotak berisi es.
Sekarang, katanya, ada slurry ice, merujuk pada campuran air, garam, dan partikel es mikro yang membentuk cairan semi-padat.
“Ini adalah es yang bersumber dari air laut. Kalau bapak-bapak melaut, ikan langsung dimasukan ke dalam cool box-nya,” katanya.
Trenggono mengklaim, ikan yang disimpan di cool box akan tetap segar dan kelihatan masih hidup, meskipun telah tiga hari disimpan.
Akan Dikelola KDMP
Trenggono menyebut, fasilitas-fasilitas itu akan dikelola oleh Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), yang anggotanya merupakan para nelayan.
“Semuanya menjadi milik bapak-ibu. Harapannya dikelola dengan baik oleh koperasi,” katanya, “supaya (kalau) terjadi kerusakan dan lain sebagainya ada yang memperbaiki.”
Ia mengklaim koperasi tersebut bisa sukses apabila seluruh warga desa mendukungnya.
Selain belasan gedung itu, Trenggono mengklaim lembaganya akan memberi bantuan sepuluh unit kapal berukuran lima Gross Tonnage kepada nelayan.
Ia juga mengklaim akan memberikan bantuan mesin untuk nelayan yang mesin kapalnya rusak.
“Mudah-mudahan, ini membuat semangat bapak-bapak semua ketika melaut,” katanya.
Trenggono meminta nelayan di desa itu untuk tidak perlu khawatir soal harga ikan karena “ada penampung dan pembeli yang akan diundang oleh Dirjen Perikanan Tangkap.”
“Karena ikannya ditangkap dengan kondisi es yang bersumber dari laut, makanya fresh, maka harganya pun akan selalu bagus,” katanya.
Ia menambahkan, “apabila ada kesulitan pemasaran, maka kami akan mendatangkan uptaker atau penyerap.”
“Jadi uptaker-nya sudah ngantri banyak. Karena dengan dibangunnya seluruh fasilitas ini diyakini hasil tangkapan nelayan itu dalam kondisi yang baik,” katanya.
Trenggono juga meminta warga untuk menjaga bangunan itu dengan baik.
Ia berjanji akan berkoordinasi secara langsung dengan bupati untuk mengetahui desa-desa selanjutnya di Manggarai Barat yang akan dijadikan sebagai desa nelayan.
“Desa-desa di pulau juga mesti diperhatikan. Kita perbaiki sarana-prasarananya agar produktivitas nelayannya lebih meningkat,” katanya.
Trenggono berkata, tujuan pembangunan KNMP adalah agar komoditi yang ditangkap nelayan berkualitas.

Mayang mengaku senang dengan kehadiran program KNMP di desanya.
Selama ini, ia hanya bisa menjual ikan ke Pasar Wae Kesambi di Labuan Bajo, yang ditempuh dengan waktu 30 hingga 40 menit.
Dengan adanya tempat penampungan dan gudang beku, ia berharap hasil tangkapannya bisa dijual dengan harga tinggi.
Selama ini, ia mengaku harga hasil tangkapannya murah.
“Misalnya, ikan kakap merah, satu kilo seharga Rp60 ribu. Semoga nanti dijual di sini (KNMP) dengan harga yang lebih baik,” katanya.
Mayang berkata, para nelayan di desa itu mencari ikan hingga ke Pulau Komodo di mana mereka biasanya menangkap kakap merah.
“Kalau cuaca bagus, bisa sampai empat baskom,” katanya.
Sementara saat cuaca buruk, katanya, “cuman dapat satu atau dua baskom.”
Ia mengaku belum bergabung dengan KDMP itu karena belum ada musyawarah terkait pembentukannya.
Bupati Edistasius Endi mengklaim telah meminta Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan, Fatinci Reynilda dan pengurus KDMP untuk mengelola fasilitas-fasilitas itu dengan baik.
Ia berkata, para pengurus akan membuat surat pernyataan “apabila dalam perjalanan tidak dikelola dengan baik, maka akan diberhentikan.”
“Kita akan membuat musyawarah untuk memilih pengurus baru,” katanya.
KNMP merupakan program khusus Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), dengan target 100 lokasi yang dibangun pada 2025, sementara yang lainnya dilanjutkan hingga 2027.
Staf Khusus Menteri Kelautan dan Perikanan, Doni Ismanto Darwin menyatakan, Presiden Prabowo meminta untuk membangun 1.100 KNMP sampai 2027.
KKP menyiapkan anggaran Rp2,2 triliun untuk pembangunan 100 KNMP di seluruh Indonesia pada 2025 yang salah satunya adalah KNMP Warloka.
Staf Ahli Menteri Bidang Ekonomi, Sosial dan Budaya KKP, Triyan Yunanda menyebut pemerintah memperkirakan anggaran pembangunan satu KNMP yang dibutuhkan mencapai Rp22 miliar.
Editor: Herry Kabut




