Floresa.co– Sejumlah warga dari berbagai komunitas di Ruteng, Kabupaten Manggarai menggelar acara nonton bareng dan diskusi video dokumenter yang mengangkat kisah perjuangan hak-hak penyandang disabilitas.
Kegiatan bertajuk “Nada-nada Minor: Kisah Perjuangan Hak Kawan Disabilitas” itu berlangsung di Rumah Baca Aksara pada 14 Maret.
Diskusi menghadirkan Christoforus Chandra Segau, seorang penyandang disabilitas fisik.
Kisah tentang Chandra diangkat dalam dua seri video dokumenter produksi Leprastichting atau Netherlands Leprosy Relief (NLR), lembaga non-pemerintah berbasis di Belanda yang fokus menangani penyakit kusta dan mengadvokasi ruang inklusif disabilitas.
Narasumber lain adalah Ferdinandus Wardoyo, perwakilan Komunitas Tuli Ruteng; Reineldis Alviana “Syair” Jaimun, Juru Bahasa Isyarat; Ronald Susilo, pemerhati disabilitas mental; dan Heri Pedo, Kepala Bidang Rehabilitasi Sosial Dinas Sosial Kabupaten Manggarai.
Diskusi dipandu oleh Jeril Jego dari Rumah Baca Aksara.
Seri pertama video dokumenter tersebut menggambarkan sosok Chandra, pemuda asal Ruteng yang mengalami Cerebral palsy, gangguan saraf permanen yang memengaruhi kemampuan motorik, koordinasi otot, tonus otot, postur tubuh dan keseimbangan.
Kendati menghadapi keterbatasan, sejak usia remaja Chandra berjuang memenuhi kebutuhan ekonominya secara mandiri dengan menjadi wirausaha kios atau warung sembako.
Sedangkan seri kedua berjudul “Meniti Jalan Sang Pengusaha Disabilitas Muda Jawara” mengangkat testimoni beberapa pihak, termasuk ibu kandung dan sahabatnya dari Komunitas Seni Saeh Go Lino.
“Awalnya saya coba melamar di perusahaan tetapi ditolak,” kata Chandra dalam video tersebut.
Ia juga pernah bekerja di salah satu toko buku, namun mundur setelah setahun karena merasa tak nyaman dengan perlakuan teman-temannya.
Pada 2022, ia difasilitasi oleh Yayasan Ayo Indonesia yang berbasis di Ruteng mengikuti program NLR bertajuk Kelompok Usaha dan Bisnis Inklusif.
Ia lalu mendapatkan bantuan modal usaha, juga fasilitas tabungan koperasi dengan program khusus inklusif di Koperasi Kredit Florette.
Semua Orang Punya Hak yang Sama
“Saya berharap teman-teman jangan terlalu malu. Yang penting adalah tetap percaya diri dan berani mencoba,” kata Chandra pada sesi diskusi usai nobar.
Ia berpesan kepada para peserta agar tidak merasa minder dalam mengejar mimpi dan cita-cita mereka meskipun menghadapi berbagai tantangan.
Ia juga menceritakan perjalanan kariernya di dunia seni peran yang dimulai sejak 2014
“Saya harus berproses, belajar, dan terus bergerak dari satu tempat ke tempat lain,” katanya.
“Saya terus berusaha melakukan yang terbaik dari setiap kesempatan yang diberikan,” katanya.
Ia bersyukur atas berbagai pengalaman yang telah dilalui dan berharap masyarakat di Manggarai dapat saling mendukung serta tidak saling merendahkan satu sama lain.
Ferdinandus Wardoyo dari Komunitas Tuli Ruteng berkata, kaum disabilitas seharusnya memiliki hak yang sama dengan warga lainnya, termasuk untuk mengakses pekerjaan yang layak.
“Kita perlu memberikan kesempatan dan membantu mengembangkan keterampilan kaum disabilitas. Bisa saja disabilitas memiliki kemampuan yang tidak kita sadari,” kata Ferdi, sapaannya.
Lulusan SLB Karya Murni Ruteng yang pernah menjadi admin perusahaan asuransi di Jakarta itu menjelaskan, tidak semua orang harus bekerja di depan komputer.
“Ada banyak jenis pekerjaan lain yang bisa dilakukan, misalnya di bidang kebersihan atau pekerjaan lainnya, sesuai dengan kemampuan masing-masing,” katanya.Reineldis Alviana “Syair” Jaimun, seorang Juru Bahasa Isyarat (JBI) mengatakan, salah satu upaya menjamin hak-hak disabilitas, terutama tuli, adalah dengan menyediakan panduan bahasa isyarat dalam berbagai kegiatan publik.
“Apa pun bentuk forumnya, sebaiknya selalu ada JBI. Mengapa? Karena teman-teman tuli sangat membutuhkan akses komunikasi itu,” katanya.
Menurut Syair, tanpa kehadiran JBI informasi yang disampaikan dalam suatu kegiatan tidak selalu dapat dipahami secara utuh oleh penyandang disabilitas tuli.
“Misalnya jika hanya ada layar atau penjelasan biasa di depan, pemahaman mereka tidak selalu sampai seperti yang kita harapkan,” katanya.
Ia menilai dalam banyak kesempatan pembicara sering menggunakan bahasa yang terlalu teknis atau istilah yang sulit dipahami.
“Ketika kita menggunakan istilah tertentu, misalnya ‘medium’ atau istilah lain, teman-teman tuli mungkin tidak langsung memahami maksudnya,” katanya.
Ia berkata selama dua hingga tiga tahun berinteraksi dengan komunitas tuli, hampir di setiap kegiatan mereka membutuhkan kehadiran JBI.
“Meskipun terkadang waktu persiapannya sangat terbatas, akses tersebut tetap penting untuk disediakan,” katanya.
Dokter Ronald Susilo menjelaskan, secara sederhana disabilitas berarti seseorang yang memiliki kemampuan berbeda dari orang lain.
Dalam dunia medis, katanya, disabilitas dibagi menjadi empat kelompok utama, yakni disabilitas intelektual, fisik, sensorik dan mental.
Ia berkata disabilitas intelektual menggambarkan kondisi seseorang yang memiliki kemampuan intelektual berbeda, sehingga dalam proses belajar dan memahami sesuatu mereka membutuhkan waktu yang lebih lama.
“Kedua adalah disabilitas fisik yang terjadi karena kondisi fisik seseorang berbeda dari orang pada umumnya, sehingga mereka membutuhkan alat bantu atau dukungan tertentu. Misalnya, beberapa orang membutuhkan kursi roda untuk bergerak,” katanya.
Sementara disabilitas sensorik berkaitan dengan panca indra, seperti keterbatasan penglihatan, pendengaran, atau gangguan sensorik lainnya.
Disabilitas mental, katanya, memiliki banyak jenis,
“tetapi salah satu yang sering kita temui adalah orang dengan gangguan jiwa atau ODGJ).”
Ronald yang selama 16 tahun terakhir bergelut dalam penanganan disabilitas mental, termasuk di Panti Rehabilitasi Gangguan Jiwa Renceng Mose Ruteng menjelaskan, pembagian kategori tersebut bukan bertujuan memberi label kepada seseorang, tetapi agar penanganan dan terapi dapat dilakukan secara lebih tepat.
“Hal yang ingin saya sampaikan adalah bahwa pembahasan tentang disabilitas memang membutuhkan kepedulian dan passion. Tidak ada satu pihak pun yang bisa bekerja sendiri,” katanya.
Persoalan disabilitas, kata dia, membutuhkan kerja sama berbagai pihak.
“Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri dan komunitas juga tidak bisa bekerja sendiri,” katanya.
Ia juga berkata disabilitas hanyalah sebuah istilah, sementara pada dasarnya semua manusia memiliki martabat yang sama.
“Hal yang sebenarnya bisa kita lakukan adalah menciptakan lingkungan yang inklusif, sehingga teman-teman disabilitas bisa berpartisipasi bersama dalam kehidupan sosial,” katanya.
Ia berkata, di bidang kesehatan, banyak kaum disabilitas yang kesulitan mengakses layanan kesehatan, bahkan masih ada yang belum memiliki BPJS.
“Lalu siapa yang bertanggung jawab? Jawabannya adalah kita semua memiliki peran masing-masing,” katanya.
Ia berharap diskusi tersebut dapat mendorong masyarakat untuk mulai memikirkan langkah konkret dalam mendukung penyandang disabilitas.
Heri Pedo dari Dinas Sosial mengatakan ketika pertama kali menggeluti bidang rehabilitasi sosial, salah satu hal yang ia tanyakan adalah data penyandang disabilitas.
“Karena dari sisi pemerintah saat itu anggaran untuk penyandang disabilitas masih sangat terbatas. Karena itu kami mencoba membangun kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk dengan teman-teman komunitas dan organisasi,” katanya.
Heri berkata sejak 2022 pemerintah mulai melakukan pendataan penyandang disabilitas di Kecamatan Satar Mese Utara.
“Pendataan kemudian dilakukan secara bertahap hingga tahun 2025 dan akhirnya mencakup seluruh wilayah Kabupaten Manggarai, dengan kecamatan terakhir di Reok Barat,” katanya.
Ia mengklaim, metode pendataan yang digunakan bahkan kemudian direplikasi oleh Kabupaten Manggarai Timur dan Manggarai Barat.
“Hasil dari pendataan tersebut menunjukkan bahwa saat ini terdapat sekitar 3.911 penyandang disabilitas di Kabupaten Manggarai,” katanya.
Ia berkata ada tiga pendekatan utama yang dilakukan pemerintah dalam penanganan penyandang disabilitas, yakni pemenuhan kebutuhan dasar, akses dan alat bantu mobilitas serta pemberdayaan.
“Masih banyak penyandang disabilitas, terutama di kampung-kampung, yang mengalami kesulitan memenuhi kebutuhan dasar seperti makanan,” katanya.
Ia berkata, pemberdayaan merupakan pendekatan terakhir yang dilakukan setelah kebutuhan dasar dan akses sudah terpenuhi.
“Bentuknya bisa berupa pelatihan keterampilan maupun bantuan alat usaha,” katanya.
Ia mencontohkan beberapa beberapa penyandang disabilitas asal Manggarai yang mengikuti pelatihan di Kupang pada 2025, yang kemudian menerima bantuan alat kerja seperti kompresor untuk usaha bengkel.
Ia berharap ke depan semakin banyak komunitas yang membuka ruang diskusi dan kegiatan bersama penyandang disabilitas.
“Karena sebenarnya yang mereka butuhkan bukan hanya bantuan materi, tetapi juga ruang untuk berinteraksi dan merasa diterima di tengah masyarakat,” katanya.
Saat ini, kata dia, Kabupaten Manggarai sudah masuk dalam kategori kabupaten inklusif, di mana penyandang disabilitas mulai dilibatkan dalam berbagai forum, baik di tingkat desa, kecamatan maupun kabupaten.

Tanggapan Peserta
Geril Ngalong, Koordinator Rumah Baca Aksara mengatakan nobar dan diskusi itu mengangkat tema “Nada-Nada Minor” “karena selama ini kami melihat banyak kerja-kerja yang berkaitan dengan isu disabilitas justru lebih banyak dilakukan oleh lembaga-lembaga swasta atau oleh inisiatif individu dari kawan-kawan disabilitas sendiri.”
Ia berkata, kendati pemerintah telah melakukan berbagai upaya terkait isu tersebut hal yang perlu dilihat seharusnya bukan hanya jumlah program yang dilakukan, tetapi juga dampaknya bagi penyandang disabilitas.
“Kita perlu melihat seberapa besar dampak dari program-program tersebut. Misalnya, berapa banyak penyandang disabilitas yang bekerja di dinas atau lembaga pemerintahan, dan apakah fasilitas publik yang ada saat ini sudah cukup ramah serta dapat diakses oleh penyandang disabilitas,” katanya.
Ia mengaku baru mengetahui informasi bahwa Kabupaten Manggarai bergelar kabupaten inklusif.
“Ini tentu hal yang baik, tetapi kita juga perlu mengetahui apa indikator atau tolok ukur yang digunakan sehingga sebuah daerah disebut inklusif,” katanya.
Marsela Feriani, peserta diskusi lainnya membagikan pengalaman pribadinya ketika berinteraksi dan belajar bersama para penyandang disabilitas.
Pada 2024, Marsela mengikuti seleksi beasiswa pendidikan yang juga menyediakan ruang khusus bagi penyandang disabilitas.
Ia mengisahkan, salah satu pengalaman yang paling membekas dalam interaksi itu adalah ketika bertemu dengan seorang peserta yang mengalami disabilitas mental.
“Usianya sekitar 20-an tahun dan latar belakang pendidikannya Bahasa Inggris. Ia berasal dari Papua dan setelah menyelesaikan studinya, ia mendirikan komunitas kecil untuk mengajar Bahasa Inggris kepada anak-anak di sekitar tempat tinggalnya,” katanya.
Pengalaman tersebut, kata dia, membuatnya banyak belajar tentang semangat dan daya juang kaum disabilitas.
“Dari mereka saya belajar tentang cara belajar, daya juang dan semangat untuk mencapai tujuan,” katanya.
Pengalaman tersebut, kata dia, mengajarkan bahwa siapapun bisa menjadi sumber belajar untuk mencapai tujuan.
“Kita tidak perlu ragu belajar dari siapapun, termasuk dari teman-teman disabilitas. Bahkan tidak ada salahnya meminta mereka membimbing kita dalam hal-hal yang mereka kuasai,” katanya.
Nobar dan diskusi tersebut diikuti puluhan anak muda dari berbagai komunitas, di antaranya Komunitas Tuli Ruteng, SLB Karya Murni Ruteng, Klub Buku Petra, Forum Anak Kabupaten Manggarai dan OMK Stasi Watu Kaur.
Selain itu beberapa siswa SMPK St. Fransiskus Xaverius Ruteng dan mahasiswa Unika St. Paulus Ruteng.
Editor: Anno Susabun




