Tablo Kaum Muda di Ruteng Soroti Figur Bunda Maria dan Relevansinya dengan Posisi Sosial Perempuan

Kegiatan ini melibatkan kaum disabilitas, anak-anak yang putus sekolah, pelajar, hingga kelompok pekerja

Floresa.coSuasana hening bercampur haru menyelimuti pementasan kisah sengsara Yesus di halaman Gereja Paroki Ekaristi Kudus Ka Redong, Ruteng, Kabupaten Manggarai.

Diikuti ratusan umat Katolik yang memadati halaman gereja, pentas Tablo Jalan Salib itu digelar Orang Muda Katolik (OMK) pada Jumat, 27 Maret.

Pentas itu memvisualisasikan kisah sengsara Yesus melalui akting, dialog, serta penghayatan mendalam para pemeran. 

Sejak adegan pada stasi pertama ketika Yesus dijatuhi hukuman mati, memanggul salib, hingga adegan jatuh ketiga kali, ribuan umat tampak larut dalam keheningan dan perhatian penuh haru.

Puncak emosi terjadi pada perhentian kedua belas, saat adegan Yesus wafat di salib. 

Tangis pecah, terutama dari para ibu, ketika dialog antara Yesus dan Bunda Maria dilantunkan dengan penuh penghayatan.

“Ibu, aku sakit,” kata tokoh Yesus yang diperankan Ignasius Dwiantoro Aga. 

Barbara “Tantiana” Aka yang memerankan Maria menjawab “Nak, aku tak punya air, sekarang aku hanya memiliki air mata. Bisakah Engkau membaca semua keinginan langit Golgota ini, tentang beku air mataku yang sepi senyap, juga tentang dukaku yang tak kunjung surut?” 

“Nak, siapakah yang paham tentang apa yang kurasakan saat ini? Tak seorang pun, Nak, bahkan di bukit ini pun tak ada. Di sini aku terbakar, terbakar hingga menunggu sebutir air dari langit yang jatuh menghujam pasir,” katanya.

Percakapan keduanya terus berlanjut dengan keluhan Yesus yang haus dan meminta Ibunya memberi minum.

“Nak, aku hanya punya air mata. Bolehkah aku membuka kelopak mataku lalu membiarkan Engkau mandi sesaat saja di hangat mataku?” kata Maria.

“Nak, di hadapan kesunyian ini aku berdiri menggenggam kepahitan hati. Jangan siksa mereka yang mengadili-Mu, tetapi buatlah mereka mengerti bahwa hanya dalam cinta mereka dapat memahami Engkau.”

Semakin lama percakapan itu berisi ungkapan Yesus yang kesakitan dan penghiburan Maria yang menganggap derita itu juga merupakan kesakitannya sebagai ibu. 

“Nak, di Golgota ini tak ada air. Angin pun tak lagi terdengar untuk menyejukkan luka-Mu. Bertahanlah, Nak… aku menyayangi-Mu dalam rasa yang lara,” katanya.

Akhirnya di tengah tangis haru Maria, Yesus berkata: “Eli… Eli… lama sabakhtani”, bahasa Aram atau Ibrani kuno yang berarti:  “Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” 

“Ibu, pengampunan adalah keberanian untuk melepaskan. Aku telah mengampuni mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat,” kata Yesus.

Pengalaman Batin Perempuan

Valeria Rahmat, sutradara tablo mengatakan, pementasan tersebut tidak mengusung satu tema khusus, tetapi banyak menyoroti posisi perempuan melalui figur Bunda Maria.

“Dalam sejumlah adegan, emosi dan perasaan Maria ditampilkan secara dominan karena kisahnya sarat dengan pengalaman batin seorang ibu,” katanya.

Valeria berkata salah satu bagian yang paling menarik adalah pada perhentian ketujuh, ketika Yesus berjalan sendiri tanpa pendamping.

Dalam adegan itu, Ia digambarkan benar-benar sendirian, tanpa kehadiran siapa pun yang menemani.

“Kami ingin menunjukkan bahwa umat Katolik kerap terlalu fokus pada ritus dan tata perayaan, tetapi melupakan sesama yang hidup dalam kesendirian, terutama kelompok marginal seperti para janda dan mereka yang terpinggirkan,” katanya.

Ia menuturkan, persiapan pementasan tahun ini dimulai sejak awal Maret, di mana para pelakon berlatih serius, terutama karena sebagian besar tidak memiliki latar belakang pengetahuan dan pengalaman teater atau seni peran.

“Oleh karena itu, proses menyamakan persepsi menjadi tantangan tersendiri. Kami tidak hanya melihat 14 perhentian sebagai kisah Kitab Suci, tetapi juga mencoba memaknainya dalam konteks kehidupan orang muda saat ini,” ujarnya.

Untuk mengatasi tantangan tersebut, kata dia, para pelakon banyak berdiskusi serta mengikuti kegiatan katekese Kitab Suci dan rekoleksi.

“Dalam rekoleksi, kami melakukan pembasuhan kaki sebagai bentuk refleksi. Proses ini membantu kami untuk saling peduli dan memperhatikan satu sama lain, sehingga terbangun kedekatan di antara kami,” katanya.

Ia berkata peserta kegiatan berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari pelajar, pekerja, hingga mereka yang putus sekolah karena berbagai alasan. 

“Keterlibatan teman-teman disabilitas saat ini masih terbatas pada kepanitiaan, namun tetap menjadi bagian penting dalam pelaksanaan kegiatan,” katanya.

Terkait respons umat, Valeria mengaku puas karena sebagian besar, khususnya kaum perempuan, terharu karena membayangkan perasaan seorang ibu terhadap anaknya, sebagaimana yang dialami Bunda Maria.

“Saya sangat emosional saat menyaksikan pementasan tersebut, terlebih karena momen itu merupakan penampilan terakhir setelah melalui proses panjang bersama para peserta,” katanya.

Di luar pementasan tablo, Valeria yang aktif dalam kolektif kaum muda Rumah Baca Aksara mengaku kerap mengangkat isu-isu perempuan dalam karya-karya pribadinya, seperti monolog dan adaptasi. 

“Hal itu dipengaruhi oleh pengalaman personal serta refleksi terhadap berbagai persoalan yang dihadapi perempuan, baik dalam konteks budaya maupun pandangan Gereja,” katanya.

Ia berharap umat tidak hanya memahami kisah Jalan Salib sebagai bagian dari tradisi, tetapi juga mampu merefleksikannya dalam kehidupan sehari-hari.

“Kita hidup di tengah berbagai persoalan dan tuntutan. Karena itu, Gereja diharapkan tidak hanya menjadi tempat menjalankan ritus, tetapi juga menjadi jawaban bagi kehidupan umat, terutama bagi orang kecil dan mereka yang terpinggirkan,” ujarnya.

Ke depan, ia berharap pementasan serupa dapat melibatkan lebih banyak pihak, termasuk membangun kolaborasi dengan komunitas lintas agama dan kelompok disabilitas.

“Kami ingin kegiatan ini semakin inklusif, sehingga dapat dinikmati oleh semua kalangan, termasuk teman-teman difabel, misalnya dengan menghadirkan juru bahasa isyarat,” ujarnya.

Adegan penyaliban Yesus dalam tablo Jalan Salib yang digelar kaum muda di Ruteng, Kabupaten Manggarai pada 27 Maret 2026. (Dokumentasi Floresa)

Kesan Pemeran Maria dan Yesus

Tantiana yang memerankan Bunda Maria mengaku tidak mampu menahan emosi sejak awal hingga akhir pementasan. 

“Saya terus menangis sejak lagu pembuka dinyanyikan. Kesedihan makin terasa saat Yesus disiksa, dihadapkan pada Pilatus dan Herodes, hingga perjumpaan dengan Bunda Maria,” katanya.

Tantiana berkata pada perhentian ke-12, perasaan tersebut mencapai puncaknya. Bahkan setelah adegan selesai, rasa sedih itu masih sangat melekat.

“Saya benar-benar merasakan penderitaan seorang ibu yang melihat anaknya disiksa dan disalibkan. Hingga setelah pementasan selesai, bahkan saat sesi foto, saya masih menangis dan terbawa suasana,” ujarnya.

Ia berkata, makna yang diambilnya dari peran tersebut, khususnya dalam masa Prapaskah, adalah pentingnya penghargaan terhadap martabat sesama manusia.

“Sering kali kita memandang orang lain lebih rendah, padahal di hadapan Tuhan semua manusia adalah sama. Tuhan menciptakan kita setara, sehingga kita pun harus saling menghargai,” katanya.

 Sementara Ignasius yang memerankan tokoh Yesus mengaku merasa sangat senang setelah tampil dalam pementasan tablo tersebut. 

“Saya merasa bahwa penampilan hari ini merupakan yang terbaik dibandingkan dengan proses latihan sebelumnya. Dalam pementasan ini, saya berusaha memainkan peran secara total,” katanya.

“Ada satu momen yang sangat menyentuh bagi saya saat pementasan, yaitu ketika adegan Yesus jatuh untuk kedua kalinya. Pada saat itu, saya melihat ke arah umat dan merasakan kesendirian yang sangat dalam,” lanjutnya.

Ia membayangkan bahwa meskipun Yesus memiliki banyak pengikut, dalam penderitaan-Nya tidak ada seorang pun yang benar-benar menolong-Nya.

“Momen itu membuat saya sangat tersentuh, bahkan hampir menangis. Kepercayaan untuk memerankan Yesus menjadi pengalaman yang sangat berharga bagi saya,” ujarnya.

Selama proses latihan, kata Ignasius, terdapat berbagai tantangan, terutama dalam menghayati sosok Yesus sebagai manusia biasa.

“Saya mencoba mendalami peran tersebut dengan menonton referensi dari film, sekaligus berusaha keluar dari zona nyaman untuk menghayati karakter Yesus sesuai pemahaman saya,” katanya.

Ia berkata makna Paskah yang ia tangkap dari pengalaman tersebut adalah tentang pengorbanan.

“Yesus datang ke dunia dan rela mengorbankan diri-Nya bagi banyak orang. Dari situ, saya belajar bahwa dalam hidup, kita juga perlu memiliki kerelaan untuk berkorban bagi sesama,” ujarnya.

 Ia berharap pementasan tablo terus dipertahankan di tahun-tahun berikutnya sehingga semakin banyak orang yang tersentuh dan mampu memaknai Paskah secara lebih mendalam, serta terdorong untuk berbuat baik kepada sesama.

“Saya juga berharap semakin banyak orang muda yang terlibat dalam kegiatan Gereja,” katanya.

Avelino Triwansi Ika, salah satu umat yang mengikuti tablo itu menilai pementasan para pelakon membuatnya “merasakan adanya ruang permenungan yang lebih dalam mengenai makna salib dan kisah sengsara Yesus.”

Ia berkata, visualisasi dalam bentuk tablo membantu umat untuk lebih memahami kisah-kisah dalam Kitab Suci. 

“Melalui pementasan tersebut, umat tidak hanya mendengar, tetapi juga dapat merasakan dan merenungkan maknanya secara lebih mendalam,” katanya.

Ia juga melihat keterlibatan orang muda dalam kegiatan ini sebagai sesuatu yang sangat positif. 

“Kegiatan ini menjadi ruang bagi orang muda untuk menyalurkan kreativitas sekaligus mengembangkan diri. Bagi mereka yang memiliki potensi, tetapi belum memiliki wadah, tablo ini menjadi tempat untuk berekspresi dan bertumbuh,” ujarnya.

Ia berkata, keterlibatan kaum muda dalam kegiatan ituturut membentuk karakter, memperkuat iman dan membangun semangat kebersamaan.

“Dengan  kegiatan seperti ini, orang muda tetap merasa memiliki Gereja sebagai ruang hidup dan pertumbuhan,” katanya.

Ke depan, ia berharap kegiatan serupa terus dilanjutkan dan dikembangkan, termasuk melalui kolaborasi yang lebih luas dengan umat di paroki.

“Harapannya, semakin banyak orang muda yang terlibat dan semakin banyak kegiatan yang mampu membangun karakter, iman dan kreativitas mereka,” kata Avelino.

Editor: Anno Susabun

Dukung Kami

Ada cerita yang terlalu berisiko untuk diberitakan, korban yang terlalu lemah untuk didengar, dan mereka yang terlalu berkuasa untuk disentuh.
Floresa memilih memberi perhatian pada semua itu. Kami tidak bergantung pada iklan korporasi atau kepentingan politik. Independensi kami dibiayai oleh pembaca yang percaya bahwa kebenaran harus diungkap tanpa kompromi.
Dukung kami untuk terus bertahan. Caranya bisa cek di sini

BACA JUGA