Floresa.co – Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur mengeluarkan imbauan terkait pencegahan penularan virus African Swine Fever atau ASF, buntut puluhan ternak babi milik warga mati pada dua bulan pertama tahun ini.
Dalam sebuah poster yang disebarkan melalui media sosial, Dinas Peternakan menyebut “tidak ada obat” untuk babi yang sudah terserang ASF.
Dinas mencatat, hingga Februari 2026, 78 ekor babi warga mati karena virus tersebut.
Dinas menyebut, tanda-tanda klinis pada babi yang sudah terserang virus antara lain demam dengan suhu badan lebih dari 40 derajat Celcius, kulit telinga, hidung dan perut berwarna merah atau ungu, muntah dan diare berdarah serta nafsu makan yang hilang.
Kematian pada babi yang sudah terserang dapat terjadi pada dua hingga sepuluh hari.
Terkait cara penularannya, kata dinas, dapat terjadi melalui kontak langsung dengan babi yang sudah sakit, lewat daging babi mentah, lalat dan kutu serta pakan hingga pakaian peternak yang tidak steril.
Dinas menyatakan, penanganan ASF, virus mematikan dengan angka kematian mencapai 100 persen, dapat dilakukan dengan pencegahan biosecurity ketat, di antaranya dengan tidak memberi sisa makanan kepada ternak babi dan melakukan karantina ternak baru selama 30 hari.
Pencegahan juga dapat dilakukan dengan membersihkan kandang secara rutin menggunakan desinfektan dan membatasi pengunjung ke kandang.

Merespons imbauan Pemda, Damianus Parus, warga Golo Borong, Desa Satar Lahing, Kecamatan Rana Mese berkata, pemerintah sebaiknya lebih aktif turun ke masyarakat untuk “sosialisasi rutin karena ini sumber ekonomi masyarakat.”
Ia berkata, virus ASF sudah menyerang ternak babinya sejak 2016.
“Hampir semua babi mati. Awalnya kami tidak tahu itu penyakit apa,” katanya kepada Floresa.
Sejak itu, kata Damianus, warga di kampungnya mulai berhenti memelihara babi.
“Kami takut babi mati begitu saja,” katanya.
“Dulu babi banyak sekali, sampai orang luar kaget lihat babi lewat di tengah kampung. Orang bilang ini kampung babi,” lanjutnya.
Ia berkata, ASF menular sangat cepat kala itu karena cara pemeliharaan yang masih sederhana, tidak dikandangkan dan hanya diikat di belakang rumah atau dilepas bebas.
“Sekarang hanya beberapa orang saja yang masih pelihara,” katanya.
Damianus berharap imbauan Pemda ke depannya tidak hanya terkait pencegahan tetapi juga disertai penemuan obat bagi babi yang sudah terserang virus.
Yosefina, warga lainnya, mengaku pernah memelihara tiga ekor babi.
Setelah dua di antaranya tiba-tiba mati, ia buru-buru menjual satu lainnya “karena takut mati juga.”
“Sejak itu saya tidak berani piara lagi,” katanya.
Padahal, kata dia, beternak babi menjadi sumber penghasilan warga.
“Dulu pakan juga tersedia dari kebun. Kami berhenti karena penyakit saja,” tambahnya.
Kepala Bidang Kesehatan Hewan Dinas Peternakan, Kristo Hemo berkata, selama 2025, kasus kematian terbanyak akibat virus ASF terjadi di Kecamatan Borong, Kota Komba, Kota Komba Utara dan Rana Mese.
“Hingga Maret 2026, kasus terkonfirmasi ada di Kelurahan Watu Nggene, Kecamatan Kota Komba,” katanya.
Kristo menyebut, total kematian babi pada 2025 mencapai 840 ekor berdasarkan hasil uji laboratorium Balai Besar Veteriner milik Kementerian Pertanian yang berbasis di Denpasar.
Selain ASF, kata dia, sebelumnya juga ditemukan penyakit lain seperti hog cholera yang sama-sama mudah menular pada babi.
“Sejauh ini yang kami tangani penyebabnya ASF, berdasarkan hasil pemeriksaan sampel di laboratorium BBVet Denpasar,” katanya.
Ia berkata, upaya penanganan dilakukan melalui pembagian desinfektan dan vaksinasi, kendati jumlahnya masih terbatas.
“Ada 500 dosis vaksin bantuan provinsi untuk Kecamatan Borong, Rana Mese, Kota Komba, dan Kota Komba Utara,” katanya.
Sejak akhir 2025, kata dia, Dinas Peternakan telah membagikan 600 liter desinfektan ke 12 kecamatan, serta melakukan sosialisasi melalui tatap muka dan media sosial.
“Wilayah yang sudah dapat vaksin dan desinfektan sejauh ini belum ada laporan kematian. Kasus 2026 justru dari desa yang belum dapat bantuan,” katanya.
Editor: Anno Susabun



