Floresa.co – Kepala Dinas atau Kadis Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P2KBP3A) Kabupaten Manggarai Timur, Pranata Kristiani Agas menyebut kasus bunuh diri yang terus meningkat di daerah tersebut berkaitan dengan kondisi kesehatan mental seseorang dan membutuhkan penanganan lintas sektor.
“Kalau hanya mengandalkan satu dinas saja, saya pikir agak susah. Ini butuh kepekaan semua pihak untuk bisa mengidentifikasi individu yang memiliki kerentanan mental,” katanya kepada Floresa pada 24 April.
Ani berkata, kasus bunuh diri tidak bisa dilihat sebagai peristiwa yang terjadi secara tiba-tiba, tetapi “ini proses yang sudah lama.”
Dalam banyak kasus, kata dia, orang yang mengalami masalah mental tidak selalu terlihat dari luar.
“Rata-rata orang yang bunuh diri ini terlihat baik-baik saja,” katanya.
Selama ini, kata Ani, dinasnya fokus pada upaya pencegahan melalui pendampingan pada kelompok anak dan perempuan.
“Selain pendampingan terhadap keluarga, kami adakan kegiatan di sekolah-sekolah,” katanya.
Ia berkata, program pendampingan keluarga merupakan kegiatan rutin setiap tahun dengan sasarannya adalah masyarakat umum.
Dalam kegiatan tersebut, kata dia, dinasnya mendorong keluarga dan masyarakat agar lebih terbuka dalam mencari bantuan bila ada tanda-tanda masalah psikologis melalui pendampingan siklus hidup seperti Bina Keluarga Balita, Bina Keluarga Remaja, dan Bina Keluarga Lansia.
Ia menyebut kualitas ketahanan keluarga di Manggarai Timur diukur melalui Indeks Bangga Kencana, yaitu alat ukur kualitas keluarga berdasarkan dimensi ketentraman, kemandirian dan kebahagiaan.
“Itu sudah masuk tahap berkembang,” katanya.
Ani berkata, penanganan teknis kesehatan jiwa merupakan tanggung jawab Dinas Kesehatan.
Ia mengklaim dinasnya telah berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan terkait intervensi hasil pemeriksaan kesehatan jiwa yang dilakukan di seluruh fasilitas kesehatan untuk menentukan langkah pendampingan lebih lanjut.
“Data hasil pemeriksaan kesehatan gratis tahun 2025 menunjukkan sekitar ratusan anak terindikasi memiliki masalah kesehatan jiwa. Data ini sedang kami minta untuk dilakukan asesmen lebih lanjut,” katanya.
Pernyataan Ani merespons peningkatan kasus bunuh diri di Manggarai Timur di mana dalam dua bulan terakhir terjadi empat kasus.
Pada 22 April siang, seorang pria berusia 28 tahun ditemukan meninggal usai menggantung diri di sebuah pondok di Kampung Rua, Desa Ngampang Mas, Kecamatan Borong.
Dalam keterangan yang diperoleh Floresa, Kasat Reskrim Polres Manggarai Timur, Iptu Ahmad Zacky Shodri berkata, kejadian bermula saat ayah korban, LP mengajak korban pergi memanen padi di sawah milik tetangga mereka, IA. Namun, korban meminta agar LP berangkat lebih dulu.
Sebelum ke sawah, kata dia, LP sempat singgah di pondok mereka untuk memberi makan ternak.
Setelah itu, LP menggembok pintu pondok itu dan melanjutkan perjalanan ke sawah milik IA.
“Setibanya di sana, ternyata korban sudah berada di sawah tersebut,” kata Zacky.
Menjelang waktu istirahat makan siang, korban makan lebih dulu dan berpamitan untuk kembali ke pondok mereka yang berjarak sekitar 300 meter dari sawah tersebut.
Sekitar pukul 12.00 Wita, para pekerja berhenti untuk makan siang. Namun, LP tidak menemukan korban.
Karena itu, ia menanyakan keberadaan korban kepada beberapa orang yang ikut bekerja di sawah tersebut.
“IA menjawab bahwa korban sudah makan lebih dulu dan telah pulang duluan ke pondok,” kata Zacky.
Pada pukul 12.30, selesai makan siang, LP berangkat menuju pondoknya dengan membawa sisa makanan untuk diberikan kepada ternak.
Setibanya di sana, ia terkejut karena mendapati gembok sudah terbuka.
LP kemudian mencoba membuka pintu dengan cara mendorongnya, namun pintu tersebut terkunci dari dalam dan ia berpikir bahwa korban berada di dalamnya.
“Selanjutnya, ayah korban mengganti pakaian di luar pondok, lalu memanggil korban sebanyak dua kali, tetapi tidak mendapat jawaban,” kata Zacky.
Karena curiga, LP mengintip melalui celah pintu dan melihat korban tergantung di dalam pondok menggunakan tali nilon.
Melihat kejadian itu, ia segera mendobrak pintu, mengangkat tubuh korban dan memutuskan tali.
“Namun, korban tidak dapat diselamatkan,” kata Zacky.
Karena itu, LP berlari menuju sawah milik IA untuk memberitahukan kejadian tersebut kepada orang-orang di sana
Zacky berkata, polisi mendatangi pondok tersebut pada pukul 16.45, namun tidak sempat mengolah tempat kejadian perkara karena korban sudah disemayamkan di rumahnya.
Hasil pemeriksaan petugas medis dari Puskesmas Lebi dan Puskesmas Borong yang dipimpin oleh dr. Gisella D.L.Susur menunjukkan bahwa korban meninggal karena lingkaran tali menghambat pernapasan.
“Dengan adanya hasil visum et repertum, pihak keluarga menyampaikan telah menerima kematian korban sebagai takdir dan jalan hidupnya. Pihak keluarga juga menolak untuk dilakukan autopsi serta menyatakan tidak akan menuntut untuk diproses secara hukum,” kata Zacky.
Pada 20 April, seorang pria yang berusia 23 tahun ditemukan meninggal karena menggantung diri di dalam kamar rumahnya di Kampung Rewung, Dusun Tenda Poa, Desa Tanggo Molas, Kecamatan Lamba Leda Timur.
Hasil pemeriksaan medis menunjukkan terdapat bekas lilitan tali yang melingkari leher korban.
Pada 14 April, Kepala Pos Polisi Mano, Bripka Alexandrea Riberu ditemukan meninggal karena bunuh diri.
Jenazah pria 38 tahun itu ditemukan tergeletak di lantai sebuah bangunan asrama yang tidak berpenghuni, di sebelah timur Pos Polisi Mano, Kelurahan Mandosawu, Kecamatan Lamba Leda Selatan.
Saat ditemukan, seutas tali nilon masih melilit lehernya. Sejumlah barang juga ditemukan di sekitar, di antaranya satu botol plastik berisi alkohol, gelas kecil, telepon genggam, sepasang sandal, serta barang pribadi lainnya.
Pada 25 Februari malam, seorang siswa ditemukan meninggal karena menggantung diri di dapur sebuah asrama putra dan putri di Kampung Benteng Dima, Kelurahan Mandosawu, Kecamatan Lamba Leda Selatan.
Pria 17 tahun asal Kampung Dahang, Desa Gurung Turi, Kecamatan Lamba Leda Timur itu diduga menggantung diri sejak pukul 21.00 dan baru ditemukan pada pukul 21.29 oleh rekan asramanya.
Berdasarkan hasil pemeriksaan petugas Puskesmas Mano, tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan pada jenazah siswa SMAN I Poco Ranaka itu.
Hasil Deteksi Kesehatan Jiwa
Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Manggarai Timur, Lidia Sanggut berkata, instansinya telah mendeteksi kesehatan jiwa 15.565 siswa di 29 puskesmas pada 2024 dan 2025.
Deteksi tersebut, kata dia, dilakukan di berbagai jenjang pendidikan, mulai dari sekolah dasar hingga sekolah menengah.
“Dari jumlah itu, 427 siswa terindikasi mengalami gangguan mental,” katanya.
Dalam waktu dekat, kata Lidia, instansinya akan menggelar workshop atau lokakarya di lima zona penanganan masalah kesehatan jiwa yang melibatkan orang muda dari sejumlah paroki.
Workshop itu, kata dia, akan dimulai dari zona pertama yang mencakup beberapa paroki seperti Waelengga, Waerana, Kisol (Kecamatan Kota Komba) serta Borong dan Nangalanang (Kecamatan Borong), dengan pesertanya merupakan Orang Muda Katolik di masing-masing paroki tersebut.
“Kegiatan tersebut akan menghadirkan psikolog klinis sebagai narasumber utama untuk membahas faktor pemicu masalah kesehatan mental, termasuk kasus bunuh diri,” katanya.
Editor: Herry Kabut




