Floresa.co – Pintu-pintu gedung Pasar Rakyat Rana Loba di Manggarai Timur tertutup rapat pada 29 Juni sore, tanda gedung itu tak lagi digunakan.
Pantauan Floresa, para pedagang justru menjajakan dagangan di depannya: penjual ayam potong di bagian utara, penjual sayur dan buah memenuhi sisanya hingga ujung selatan.
Gedung yang terletak di Kelurahan Rana Loba, Kecamatan Borong ini dibangun pada 2018 dan diresmikan setahun berikutnya. Pembangunannya menggunakan Dana Alokasi Khusus (DAK) Kementerian Perdagangan senilai Rp1,3 miliar.
Pasar itu berada di selatan lapangan Pasar Borong, sekitar 100 meter dari muara dan hanya berjarak 5 meter dari jalan menuju Dermaga Borong.
Kondisinya kini: sampah berserakan di bagian belakang dan samping gedung, sementara sisi selatan yang berbatasan dengan lapangan hanya dilindungi pagar bambu reyot.
Seorang pedagang yang ditemui di lokasi — enggan disebut namanya — mengaku sudah malas berjualan di dalam gedung karena kondisinya kurang kondusif.
“Tidak ada angin, panas,” katanya.
Ia bercerita, para pedagang sempat pindah ke dalam gedung, tapi hawa panas membuat sayur-sayuran cepat layu hingga dagangan tak laku.
“Akhirnya mereka pindah lagi ke atas, di stan-stan itu,” katanya, merujuk pada lapak di pinggir jalan yang lebih dekat ke jalan umum dan ramai pembeli.
Ironisnya, kata dia, perbaikan yang dilakukan pemerintah tahun lalu justru memperparah masalah, merujuk pada penambahan pintu, sehingga ruangan menjadi makin panas.
Menurutnya, gedung itu sebenarnya lebih cocok untuk menyimpan sembako ketimbang sayur dan buah yang mudah layu, “tapi mesti pakai kipas angin sendiri lagi.”
Sejumlah rekannya bahkan sudah memiliki tempat masing-masing di dalam gedung, tapi tidak mau menempatinya.
“Kalau kami dipaksa pindah ke gedung itu, kami mogok, stop [berjualan],” katanya, menirukan sikap mereka.

Sempat Aktif Dua Tahun, Lalu Ditinggalkan
Kepala Dinas Koperasi, UKM, Perdagangan, dan Perindustrian (Koperindag) Manggarai Timur, Conrad Herdiman Djalang, berkata, desain bangunan itu mengikuti prototipe baku Kementerian Perdagangan yang berlaku nasional untuk seluruh pasar berskema DAK.
Karena itu, kata dia, tanggung jawab desain sepenuhnya ada di tangan kementerian.
Ia menjelaskan, pasar ini sempat dimanfaatkan pedagang sejak diresmikan 2019 hingga 2021, sebelum akhirnya ditinggalkan karena suhu di dalam gedung dinilai terlalu panas, persis seperti keluhan pedagang.
Untuk mengatasi itu, pemerintah daerah merehabilitasi gedung pada 2025 menggunakan Dana Alokasi Umum (DAU), mencakup penambahan pintu, peninggian pijakan tempat pedagang (LOS), dan penambahan fasilitas gantungan barang dagangan.
Pekerjaan itu telah rampung 100 persen, namun uji coba pemanfaatannya belum bisa dilakukan.
Alasannya, kata Conrad kepada Floresa pada 1 Juli: “Fokus utama pemerintah saat ini adalah menyelesaikan perbaikan atap yang rusak, merampungkan instalasi air bersih, serta melakukan pembenahan minor lainnya.”

Setelah seluruh perbaikan itu rampung, pedagang akan diarahkan kembali menempati gedung — target yang menurut Conrad baru bisa terwujud awal 2027, hampir satu dekade sejak gedung ini pertama kali diresmikan.
Soal kebijakan bagi pedagang, Conrad mengatakan pemerintah tidak menerapkan sanksi maupun insentif khusus. Nilai retribusi disesuaikan proporsional dengan tempat pedagang berjualan.
“Saat berjualan di dalam gedung, tarif dihitung berdasarkan fasilitas LOS, sementara untuk kondisi saat ini di luar gedung, tarif dihitung berdasarkan tarif pelataran,” katanya.
Editor: Ryan Dagur



