Ingkar Janji Nabit Menata Pasar Puni, Gedung Rp5 Miliar Itu Masih Ditinggalkan Pedagang

Pemerintah berjanji menjadikan kondisi terkini sebagai bahan evaluasi, namun tak memastikan kapan penataan yang seharusnya berakhir awal tahun lalu benar-benar terwujud.

Floresa.co – Ketika memulai periode kedua kepemimpinannya bersama Wakil Bupati Fabianus Abu, Bupati Manggarai Herybertus GL Nabit memasukkan penataan Pasar Rakyat Puni sebagai salah satu program quick win dalam seratus hari pertama.

Dengan demikian penataan pasar itu seharusnya selesai antara pada 31 Mei 2025, terhitung sejak pelantikannya pada 20 Februari 2025.

Andai janji itu terealisasi, maka hasilnya bisa terlihat: pasar ditata, pedagang diarahkan masuk, dan aktivitas jual-beli kembali hidup di dalam gedung.

Setahun lebih sejak janji itu diingkari, suasana Pasar Puni belum banyak berubah. Pada pagi hingga menjelang siang, ketika pasar semestinya riuh oleh tawar-menawar, bagian dalam gedung justru lengang.

Di dalam gedung itu, meja-meja lapak berderet rapi. Nomor-nomor stan masih tampak. Struktur baja berdiri kokoh, atap menjulang, dan pembatas besi membagi ruang dagang. 

Pantauan Floresa, aktivitas jual-beli justru berpindah ke area depan. Penjual ikan menutup sebagian akses masuk dan menggelar dagangan di trotoar. Di sisi pintu masuk, beberapa pedagang membangun lapak tambahan.

Bagi pedagang, keputusan bertahan di luar gedung punya tujuan: lebih muda bertemu pembeli.

“Kalau di sini, pembeli bisa langsung melihat jualan saya,” kata seorang pedagang kepada Floresa pada 29 Juli, sembari meminta tak menulis namanya.

Ia bercerita, sekitar tiga bulan lalu para pedagang sempat mencoba kembali berjualan di dalam gedung. Namun, pembeli tidak banyak datang, dagangan tidak laku, sehingga satu per satu kembali keluar.

Kondisi di dalam gedung memperlihatkan ironi lain. Sampah berserakan di sejumlah lapak. Motor diparkir di dalam. Bagian belakang dan samping gedung ditumbuhi rumput liar, sementara area lapangan pasar dimanfaatkan warga untuk mengikat hewan.

Kondisi gedung Pasar Puni Ruteng yang kini sepi pedagang dengan lantai yang berdebu dan sampah berserakan. (Dokumentasi Floresa)

Di tengah sepinya pembeli, pedagang tetap menghadapi kewajiban membayar retribusi seratus ribu setiap triwulan.

Seorang pembeli berinisial AJ, warga sekitar Pasar Puni, memberi alasan mengapa jarang berbelanja di sana: barang kebutuh yang dijual terbatas, “mengharuskan saya berbelanja di tempat lain.”

AJ memilih berbelanja di Pasar Inpres, sekitar satu  kilometer ke arah utara dari Pasar Puni.

Janji Penataan dan Rencana yang Belum Menjawab Sepi

Pasar Puni, yang terletak di Jalan Wolter Monginsidi, Kelurahan Pau, Kecamatan Langke Rembong itu dibangun pada 2019 dan diresmikan pada 30 Agustus tahun yang sama.

Pembangunannya menggunakan Dana Alokasi Khusus Kementerian Perdagangan senilai Rp5 miliar.

Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Manggarai, Frumencius Linus Tojo Kurniawan mengakui bahwa penataan pasar itu bagian dari program quick win bupati.

Ia berkata, mereka sudah sempat “meminta sebagian pedagang di Pasar Inpres yang berjualan di trotoar dan tidak di dalam pasar untuk memanfaatkan ruang di Pasar Puni.”

Namun, seiring waktu, “banyak pedagang meninggalkan lokasi itu karena sepi pembeli.”

Ia menyebut Pasar Puni sebenarnya telah difungsikan sejak diresmikan dan kondisi terakhir akan “menjadi bahan evaluasi pemerintah.”

Ia mengakui pengunjung masih lebih tertarik berbelanja di Pasar Inpres karena pilihan barang lebih lengkap.

Frumencius juga menyebut ada faktor lain yang membuat sebagian pedagang enggan menempati Pasar Puni, termasuk lokasi pasar yang disebut sebagai bekas kuburan.

Lokasi di dekat Pasar Puni dikenal sebagai lokasi kuburan massal korban pembunuhan pada 1965 di Manggarai, ketika pemerintah melakukan pembantaian terhadap mereka yang dituding sebagai simpatisan Partai Komunis Indonesia.

Karena itu, Frumencius berkata, dinasnya berencana mengajukan permohonan pada tahun untuk melengkapi fasilitas pasar sekaligus menggelar ritual adat.

“Ketika pembangunan Pasar Puni sudah lengkap, kami akan lakukan analisis lalu lintas supaya satu arah dan tidak macet. Kami juga akan memindahkan pedagang ikan dan daging dari Pasar Inpres ke Pasar Puni,” katanya.

Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Manggarai, Frumencius Linus Tojo Kurniawan. (Dokumentasi Floresa)

Untuk menarik kembali pedagang, ia juga berencana menyiapkan kebijakan pembebasan retribusi sementara atau tax holiday.

“Ketika banyak pedagang berjualan di sana, baru kita lakukan pungutan,” ujarnya.

Bangunan Lama Terisi, Gedung Baru Sepi

Masalah tata kelola Pasar Puni terkonfirmasi dari penurunan realisasi retribusi ke kas daerah.

Menurut Kepala Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kabupaten Manggarai, Kanisius Nasak, pada 2024, dari 35 kios (32 kios terpakai dan 3 kios tidak terpakai) dan 169 los yang tersedia, realisasi pendapatan tercatat Rp22.725.000. 

Pada 2025, dengan kondisis serupa, realisasi pendapatan turun drastis menjadi Rp14.727.000.

Kanisius berkata, rendahnya minat pembeli juga dipengaruhi perubahan pola jual-beli. Kini, sebagian pedagang menggunakan kendaraan pribadi untuk mendatangi pembeli secara langsung.

“Tanpa harus ke pasar, pedagang yang datang langsung ke rumah,” ujarnya.

Kepala Badan Pendapatan Daerah Kabupaten Manggarai, Kanisius Nasak. (Dokumentasi Floresa)

Bagi pedagang yang telah mencoba bertahan, kesunyian pasar itu sudah cukup menjelaskan alasan mereka memilih pergi.

Salah satu pedagang berkata kepada Floresa, kondisi yang sepi membuat sebagian kemudian meninggalkan pekerjaan tersebut dan pindah ke tempat lain.

“Ada yang merantau, ada yang pindah ke Pasar Inpres,” katanya. 

Editor: Ryan Dagur

Dukung Kami

Ada cerita yang terlalu berisiko untuk diberitakan, korban yang terlalu lemah untuk didengar, dan mereka yang terlalu berkuasa untuk disentuh.
Floresa memilih memberi perhatian pada semua itu. Kami tidak bergantung pada iklan korporasi atau kepentingan politik. Independensi kami dibiayai oleh pembaca yang percaya bahwa kebenaran harus diungkap tanpa kompromi.
Dukung kami untuk terus bertahan. Caranya bisa cek di sini

BACA JUGA