Floresa.co – Warga di Kabupaten Manggarai Timur menggotong peti jenazah menyeberangi sungai karena jalan yang rusak parah dan tidak ada jembatan.
Warga Dusun Munda, Desa Gunung Baru, Kecamatan Kota Komba Utara menggotong jenazah Fransiska Ambu tersebut pada 6 September melewati Sungai Wae Mokel yang lebarnya 50 meter.
Fransiska meninggal di rumah keluarganya di Desa Rana Mbata, Kecamatan Kota Komba pada 5 September setelah sempat dirawat di RSUD Borong.
Vinsensius Joman, warga Dusun Munda berkata, sehari usai Fransiska meninggal, keluarganya meminta mereka menjemput peti jenazah di Rana Mbata.
“Desa Rana Mbata yang hanya sekitar lima kilometer dari Dusun Munda jalannya rusak dan belum ada jembatan. Warga harus menyeberangi Sungai Wae Mokel,” katanya kepada Floresa.
Ia menjelaskan, warga sudah berulang kali menyuarakan keluhan terkait kondisi infrastruktur dasar seperti jalan dan jembatan, tetapi tidak pernah ditanggapi oleh Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur.
Padahal, kata dia, jalur itu sangat penting karena menghubungkan Kecamatan Kota Komba dan Kota Komba Utara.
“Bupati Andreas Agas pernah menjanjikan akan membangun jembatan di Sungai Wae Mokel saat peresmian Puskesmas Afirmasi Waelengga – ibu kota Kecamatan Kota Komba – pada 2019,” katanya.
Agas, kata dia, menyampaikan janji itu di hadapan Sekretaris Daerah, anggota DPR dan masyarakat.
Namun, hingga kini “setitik aspal pun belum ada.”
“Padahal, kami punya hasil bumi yang seharusnya bisa dijual dengan harga layak. Karena sarana transportasi terbatas, kami terpaksa menjual ke tengkulak,” kata Vinsen.
Ia berkata, akses jalan buruk juga membuat mereka sulit mengurus berbagai keperluan di pusat Kecamatan Kota Komba Utara di Rana Mbeling.
Saat musim hujan, keadaan menjadi jauh lebih sulit dan berbahaya karena arus sungai semakin deras.
Hal itu, kata Vinsen, juga berdampak terhadap anak-anak sekolah yang belajar di Mbata, Mukun dan Borong.
“Mereka sangat kesulitan saat harus membawa uang sekolah maupun beras,” katanya.
Elvis Jehama, salah satu anggota DPRD dari daerah pemilihan 5 yang mencakup Kecamatan Kota Komba dan Kota Komba Utara berkata, penggotongan jenazah itu yang fotonya ramai di media sosial “bukan sekadar gambaran duka, tetapi simbol matinya keadilan fiskal di negeri ini.”
“Peringatan keras ini bukan untuk menakutkan, tetapi untuk menyadarkan bahwa pembangunan bukan milik segelintir orang di kantor, tetapi hak seluruh masyarakat Manggarai Timur,” katanya kepada Floresa pada 11 September.
Elvis berkata, untuk merespons keluhan warga, DPRD mengadakan Rapat Dengar Pendapat dengan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR), Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (PPO) serta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) pada 11 September.
Dalam rapat tersebut, DPRD mendesak Dinas PUPR segera memasukkan Jembatan Wae Mokel ke dalam rencana kerja pemerintah daerah, sekaligus memperbaiki infrastruktur lain yang diperlukan.
“Pemerintah Pusat, Provinsi, sampai Kabupaten Manggarai Timur seharusnya bergerak cepat dan tepat menyalurkan anggaran. Jangan hanya menunggu, apalagi membiarkan rakyat menanggung derita,” katanya.
Selain itu, “kami menegaskan, hentikan main-main dengan pembangunan. Ada 83 proyek Dinas PPO yang harus segera dituntaskan.”
Ditanyai terkait langkahnya jika rencana proyek Jembatan Wae Mokel tak akan diprioritaskan, Elvis berjanji menanyakannya kepada pimpinan DPRD.
Bersama rekan-rekannya dari daerah pemilihan 5, kata dia, “kami berkomitmen mengawal pemerintah dalam setiap pembahasan anggaran.”
Vinsensius Joman berharap Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur benar-benar mendengar keluhan warga, baik untuk pembangunan jembatan Wae Mokel maupun perbaikan infrastruktur di Desa Gunung Baru.
“Sudah beberapa kali warga harus menggotong peti jenazah. Pernah satu kali dari Dusun Munda ke Desa Lembur, dan sebelumnya dari Desa Rana Mbata ke Desa Lait, Kecamatan Kota Komba,” katanya.
Editor: Anno Susabun



