Jurnalis Perempuan di Indonesia Masih Minim, Rentan terhadap Kekerasan

Berbicara dalam diskusi bagian dari Pesta Media AJI Jakarta 2026, para jurnalis melihat dampak situasi ini bagi peliputan isu yang menuntut pentingnya perspektif perempuan, seperti terkait perubahan iklim

Floresa.co – Jurnalis perempuan di Indonesia masih menjadi minoritas, dengan jumlah baru sekitar seperlima dari total jurnalis.

Ketimpangan ini dinilai berdampak serius pada upaya media menghadirkan liputan krisis iklim yang sensitif terhadap pengalaman perempuan dan kelompok rentan.

Ketua Umum Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia berkata, jumlah jurnalis perempuan di Indonesia hingga 2025 masih berkisar 21,5 persen dari total jurnalis.

Data tersebut tercatat dalam laporan Potret Jurnalis Indonesia 2025 yang disusun AJI, dan menunjukkan bahwa komposisi jurnalis perempuan belum mengalami peningkatan signifikan dibanding satu dekade sebelumnya.

“Angka ini mencerminkan ketimpangan struktural yang masih kuat di industri media. Jurnalis perempuan bukan hanya minoritas, tetapi juga menghadapi hambatan sistemik dalam pekerjaan,” ujar Nany saat berbicara dalam talkshow “Lensa Terpinggirkan: Suara Jurnalis Perempuan dalam Krisis Iklim dan Kelompok Rentan” yang digelar dalam rangka Pesta Media AJI Jakarta 2026 pada 11 April.

Diskusi yang berlangsung di Taman Ismail Marzuki, Jakarta itu juga menghadirkan Sapariah Saturi, Managing Editor Mongabay Indonesia dan Evi Mariani, salah satu pendiri Project Multatuli..

Nany menjelaskan, selain minim, jurnalis perempuan juga menghadapi tekanan berlapis yang membuat profesi jurnalis kurang ramah bagi mereka.

Tekanan tersebut meliputi kekerasan berbasis gender, diskriminasi di ruang redaksi, beban kerja ganda, lemahnya perlindungan kerja, hingga serangan digital.

“Diskriminasi ini bersifat sistemik, bukan kasus individual. Kekerasan terhadap jurnalis perempuan masih sering dinormalisasi, sementara mekanisme perlindungan di ruang redaksi juga lemah,” kata Nany.

Berdasarkan catatan AJI, sepanjang 2025 terdapat 91 kasus kekerasan terhadap jurnalis di Indonesia, dengan sekitar 11 kasus menimpa jurnalis perempuan.

Masalah minimnya jumlah jurnalis perempuan juga berimbas pada proses rekrutmen, khususnya di media yang fokus pada isu lingkungan.

Sapariah Saturi berkata, pihaknya masih menghadapi kesulitan dalam merekrut jurnalis perempuan untuk memperkuat liputan krisis iklim.

Padahal, jumlah jurnalis perempuan punya peran signifikan dalam peliputan dengan kedalaman dan keberagaman perspektif mengingat perempuan kerap menjadi kelompok yang paling terdampak krisis iklim, seperti di wilayah pesisir, kawasan rawan bencana, dan daerah dengan akses sumber daya terbatas.

“Perempuan sering lebih terbuka menceritakan pengalaman kepada jurnalis perempuan, sehingga cerita yang muncul jauh lebih utuh,” ujar Sapariah.

Ia menambahkan, data internal Mongabay juga menunjukkan bahwa kehadiran jurnalis perempuan kerap membuka akses ke narasumber perempuan yang selama ini sulit dijangkau oleh jurnalis laki-laki, terutama dalam konteks dampak sosial krisis iklim.

Pandangan serupa disampaikan Evi Mariani, menenkankan bahwa kehadiran jurnalis perempuan di ruang-ruang liputan tidak boleh dipahami sebagai pemenuhan kuota semata, melainkan sebagai kebutuhan untuk memperkaya cara pandang media.

“Ketika jurnalis perempuan yang memiliki kesadaran gender hadir, mereka membawa pengalaman dan pengetahuan yang sebelumnya tidak pernah terdengar atau terlihat dalam liputan,” kata Evi.

Evi mencontohkan, sejumlah isu seperti kesehatan mental ibu pasca melahirkan, kerja-kerja perawatan, hingga dampak krisis iklim terhadap kehidupan domestik perempuan kerap luput dari pemberitaan karena minimnya jurnalis perempuan di ruang redaksi.

Para pembicara sepakat, peningkatan jumlah jurnalis perempuan dan perbaikan kondisi kerja mereka menjadi prasyarat penting untuk menghasilkan liputan krisis iklim yang lebih adil, inklusif, dan berorientasi pada kelompok paling terdampak.

Editor: Ryan Dagur

Dukung Kami

Ada cerita yang terlalu berisiko untuk diberitakan, korban yang terlalu lemah untuk didengar, dan mereka yang terlalu berkuasa untuk disentuh.
Floresa memilih memberi perhatian pada semua itu. Kami tidak bergantung pada iklan korporasi atau kepentingan politik. Independensi kami dibiayai oleh pembaca yang percaya bahwa kebenaran harus diungkap tanpa kompromi.
Dukung kami untuk terus bertahan. Caranya bisa cek di sini

BACA JUGA