Floresa.co – Pemerintah akhirnya membangun ruang kelas di salah satu SD Negeri di Kabupaten Manggarai Barat usai viralnya sebuah video yang menampilkan beberapa murid belajar di bawah pohon.
Berbicara kepada Floresa pada 3 Agustus, Kepala SD Negeri Tando, Fransiskus Jenala berkata, empat ruang kelas tersebut mulai dikerjakan pada awal bulan lalu dan progresnya telah mencapai 30 persen.
Proyek tersebut, kata dia, dikerjakan oleh pihak ketiga, kendati tak merinci nama kontraktornya. Ia mengaku tidak mengetahui anggaran proyek tersebut dan jangka waktu pengerjaannya karena “tak punya papan informasi.”
Ia berharap, pembangunan ruang kelas tersebut bisa selesai sebelum musim hujan.
Pembangunan ruangan kelas di sekolah yang berada di Desa Robo, Kecamatan Welak itu terjadi usai beredarnya sebuah video yang dibagikan melalui akun Facebook Karlos Melo pada 9 April.
Video itu menampilkan seorang guru perempuan yang sedang mengajar 15 siswa kelas III di bawah sebuah pohon.
Marta, guru perempuan yang berbicara dalam video tersebut menjelaskan sekolahnya kekurangan ruangan kelas sejak lama. Ia sempat menunjukkan ruangan Kelas II yang berdinding seng dan berlantai tanah. Marta tercatat telah mengajar di SD Negeri Tando sejak sekolah itu berdiri pada 2014.
Selain kekurangan ruang kelas, sekolah tersebut juga belum memiliki toilet dan belum tersambung dengan instalasi air bersih.
Merespons video tersebut, tim dari Balai Penjamin Mutu Pendidikan Provinsi NTT dan dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) yang didampingi Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Manggarai Barat, Yohanes Hani mengunjungi sekolah tersebut pada 12 April.
Kala itu, Yohanes berjanji akan membangun empat ruang kelas dan satu toilet dengan dana yang bersumber dari dari Kemendikdasmen.
Sebulan usai menjanjikan hal tersebut, Yohanes dilantik oleh Bupati Edistasius Endi menjadi Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah. Posisinya digantikan oleh Agustinus Gias, yang sebelumnya merupakan Staf Ahli Bidang Kemasyarakatan dan SDM.
Floresa meminta tanggapan Gias terkait anggaran dan kontraktor yang mengerjakan proyek tersebut. Namun, ia tidak merespons pesan WhatsApp pada 4 Agustus, kendati telah membacanya.
Karlos Melo, warga Desa Robo mengapresiasi pembangunan empat ruang kelas tersebut.
Namun, ia mengingatkan bahwa, masih banyak kebutuhan layanan dasar di desanya yang belum dipenuhi.
“Jalan ke sekolah itu masih jalan tanah, yang membuat anak-anak dan guru kesulitan saat musim hujan,” katanya.
Karena itu, ia berharap, pemerintah juga memperhatikan jalan tersebut.
Editor: Herry Kabut



