Pesan Menjaga Persatuan Lewat Teater ‘Harmoni?’ dari Pelajar di Reo, Manggarai 

Pementasan teater bertajuk “Harmoni? dalam rangka peringatan Hari Sumpah Pemuda

Floresa.co – Cahaya biru menyoroti panggung sederhana, sementara lagu “Kulihat Ibu Pertiwi” mengalun lembut memenuhi pelataran SMAS St. Gregorius Reo.

Sorotan lampu itu fokus pada seorang pemeran teater yang duduk di lantai dengan wajah muram. 

Dari arah belakang, pemeran utama berjalan pelan lalu bertanya, “Ada apa?”

“Lihat anak-anakku,” jawab pemeran yang sedang duduk itu dengan suara bergetar, “mereka semua menderita karena perbedaan. Mereka saling menyakiti.”

Dialog itu menjadi adegan pembuka dalam pementasan teater “Harmoni?” karya Teater Senja SMAS St. Gregorius Reo.

Pementasannya pada 28 Oktober adalah dalam rangka peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-97.

Selama satu jam pementasan, para pemeran membawakan kisah-kisah yang begitu dekat dengan kehidupan mereka sendiri.

Seorang gadis ditertawai karena keterbatasan fisik, seorang pelajar dihina karena miskin, hingga seorang perempuan merasa tak diberi ruang hanya karena jenis kelaminnya.

“Jangan gubris mereka,” kata tokoh utama dalam satu adegan. “Setiap orang punya keunikannya masing-masing. Mengapa perbedaan harus dijadikan sekat?”

Menjelang akhir pertunjukan, pemeran utama mengucapkan kembali teks Sumpah Pemuda dengan nada menggugat: “Apakah kita benar-benar bersatu?”

Lampu-lampu kemudian meredup. Seorang pemeran berjalan tertatih menuju bendera Merah Putih yang berkibar di depan panggung. 

Ia memegangnya erat, lalu mencium dengan khidmat. Suasana hening. 

Penonton terdiam, seolah diingatkan kembali bahwa persatuan bukan sekadar kata, melainkan perjuangan yang harus terus dirawat.

Sutradara Anriana Kalulu Sengga Langga berkata teater “Harmoni?” lahir dari keresahan terhadap sikap anak muda yang kerap membeda-bedakan sesama.

“Kami ingin menghadirkan teater ini sebagai ruang pendidikan karakter. Lewat pementasan, anak-anak belajar menghormati perbedaan, menolak diskriminasi dan menumbuhkan empati,” katanya.

Usai menonton pementasan itu, Vinsensiana Rungku, siswi kelas XII mengaku makin “menyadari bahwa perbedaan itu ciptaan Tuhan.” 

“Perbedaan bukan untuk ditolak, tapi untuk dikelola dengan baik,” katanya.

“Kalau anak muda bisa melihat perbedaan sebagai kekayaan, bukan ancaman, kita tidak akan mudah terpecah,” tambahnya

Sementara Tiara Inar, siswi kelas XII terharu bisa memerankan tokoh utama dalam pementasan itu.

“Lewat teater ini saya belajar bahwa kita harus memahami satu sama lain, karena dari situlah harmoni lahir,” katanya.

Tiara berkata, bermain teater bukan hanya soal menghafal naskah, tetapi tentang menyentuh sisi kemanusiaan dan menumbuhkan empati.

Oktavianus Pipin Andriano Tamung, Koordinator Teater Senja berkata kegiatan seperti ini membantu siswa menghayati nilai kebangsaan secara lebih membumi.

“Persatuan tidak cukup diajarkan lewat teori, tapi harus dialami,” katanya.

Febri Nagut merupakan salah satu pengajar di SMAS St. Gregorius Reo

Editor: Ryan Dagur

Dukung kami untuk terus melayani kepentingan publik, sambil tetap mempertahankan independensi. Klik di sini untuk salurkan dukungan!
Atau pindai kode QR di samping

BACA JUGA