Floresa.co – Di tengah iklim yang semakin menekan kerja jurnalisme independen di Indonesia, Floresa, media independen berbasis di Flores, Nusa Tenggara Timur, masuk dalam long list ajang penghargaan jurnalisme internasional One World Media Awards 2026.
Floresa terdaftar sebagai kandidat dalam kategori Press Freedom Award bersama jaringan jurnalisme investigasi internasional Forbidden Stories, yang berbasis di Perancis dan dikenal karena melanjutkan liputan jurnalis yang dibungkam, diintimidasi, atau dibunuh di berbagai belahan dunia.
One World Media Awards, yang dimulai sejak 1988, merupakan penghargaan tahunan yang diberikan kepada karya jurnalistik dan film dokumenter terbaik dari kawasan Global South.
Ajang ini bertujuan merayakan jurnalisme yang memberi suara bagi komunitas lokal, mengungkap ketidakadilan, serta mengawasi kekuasaan—sering kali dalam situasi berisiko tinggi.
Masuk Long List dari Ratusan Entri Dunia
Menurut One World Media, yang berbasis di London, Inggris, pada tahun ini panitia menerima 534 entri dari lebih 140 negara, yang tercakup dalam 14 kategori.
Press Freedom Award merupakan kategori yang secara khusus mengakui liputan yang membela kebebasan pers, menghadirkan informasi kritis, dan memberi ruang bagi suara masyarakat yang terpinggirkan.
Selain Floresa, media asal Indonesia lain yang juga masuk dalam long list kategori ini adalah Project Multatuli, media independen berbasis di Jakarta.
Delapan lainnya berasal dari berbagai negara, antara lain Addis Standard (Ethiopia), Arabi Facts Hub, Ayin Network, Contracorriente, Foundation for Investigative Journalism and Social Justice (Nigeria), SIRAJ (Syrian Investigative Reporting for Accountability Journalism), dan The Afghan Times.
Seleksi akan berlanjut hingga tahap shortlist, yang akan diumumkan pada 6 Mei 2026, dengan tiga finalis di setiap kategori.
Para pemenang akan diumumkan dalam seremoni resmi One World Media Awards di London pada 17 Juni 2026.
“Dengan kualitas karya yang begitu tinggi, mempersempit pilihan di setiap kategori menjadi lebih sulit dari sebelumnya,” tulis One World Media dalam pengumuman resminya.
Investigasi Geotermal Flores dan Kebebasan Pers
Nominasi Floresa merujuk pada kolaborasi investigasi bersama Forbidden Stories dalam seri liputan berjudul Island: Behind Indonesia’s Geothermal Strategy.
Seri ini menyoroti ekspansi proyek energi geotermal di Pulau Flores dan dampaknya terhadap komunitas adat, ruang hidup warga, serta kebebasan pers.
Liputan tersebut tidak hanya mengungkap konsekuensi sosial dan lingkungan dari proyek yang diklaim sebagai “energi hijau”, tetapi juga menyorot tekanan terhadap jurnalis yang meliput isu tersebut—mulai dari intimidasi, kekerasan fisik, hingga kampanye disinformasi yang menargetkan media independen seperti Floresa.
Seri ini merupakan bagian dari proyek investigasi global #GreenCrimes dari Forbidden Stories, yang didedikasikan untuk mengungkap kejahatan lingkungan dan praktik “ekstraktivisme hijau” di berbagai negara.
Dua artikel hasil investigasi tersebut juga dipublikasikan ulang oleh Tempo English, memperluas jangkauan liputan ke audiens internasional.
Pengakuan di Tengah Tekanan
Pemimpin Redaksi Floresa, Herry Kabut, menyebut pencapaian ini sebagai kabar baik di tengah meningkatnya tekanan terhadap kerja-kerja jurnalistik di Indonesia, terutama bagi media independen di daerah.
“Floresa dan Forbidden Stories memang masih berada pada tahap long list. Namun, bisa menjadi bagian dari sepuluh kandidat dari ratusan entri di seluruh dunia sudah merupakan pencapaian yang patut disyukuri,” kata Herry.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Forbidden Stories yang menghubungi Floresa pada awal 2025 untuk menggarap liputan kolaboratif tersebut.
“Kami banyak belajar selama proses kolaborasi yang berlangsung berbulan-bulan. Bahkan setelah publikasi, Forbidden Stories terus berkomunikasi dengan kami, termasuk terkait potensi tekanan yang mungkin muncul,” ujar Herry.
Menurutnya, capaian ini bukan semata soal penghargaan, melainkan soal perluasan ruang diskusi publik.
“Yang lebih penting adalah isu proyek geotermal di Flores mendapat perhatian di level internasional. Proyek-proyek ini melibatkan pendanaan lintas negara. Dunia perlu tahu bahwa di tingkat tapak, proyek yang diklaim hijau ini tetap membawa dampak serius bagi masyarakat adat dan warga lokal,” katanya.
Dari Pinggiran ke Panggung Global
Pemimpin Umum Floresa, Ryan Dagur, mengatakan bahwa ini merupakan ajang penghargaan internasional pertama yang diikuti Floresa sejak media ini berdiri pada 2014.
Sebelumnya, Floresa telah menerima sejumlah penghargaan nasional, antara lain Udin Award dari Aliansi Jurnalis Independen (2023), MAW Talk Award (2024), AMSI Awards (2024).
“Pengakuan seperti ini kami maknai sebagai dukungan terhadap cara kerja jurnalisme independen yang selama bertahun-tahun kami pertahankan,” kata Ryan.
Ia menegaskan bahwa Floresa tetap setia pada mandat dasar jurnalisme melayani kepentingan publik, meski pekerjaan ini kerap berbenturan dengan kepentingan kekuasaan, termasuk di wilayah yang relasi sosialnya sangat dekat dengan tim redaksi.
“Dengan fokus liputan di NTT—wilayah yang kerap luput dari perhatian media nasional—kami percaya media daerah memiliki peran sangat penting untuk mengangkat persoalan masyarakat di pinggiran agar diketahui publik dan menjadi perhatian pemegang kekuasaan,” ujarnya.
Editor: Anno Susabun



