Floresa.co – Pagi 6 Oktober 2026, belasan warga Desa Wae Sano berkumpul di Pastoran Paroki St. Mikael Nunang, Kabupaten Manggarai Barat.
Kain adat songke membalut tubuh mereka, dipadukan dengan kemeja putih dan topi adat. Di atas tikar di ruang tamu tempat tinggal pastor paroki itu, kapur, siri, pinang, nasi, dan empat butir telur ayam telah tertata—bekal menuju Wae Kuta, mata air yang selama puluhan tahun tidak lagi didatangi dalam ritual bersama.
Sebelum berangkat, warga bersama Pastor Paroki, Romo Valerianus Paulus Jempau menggelar “wuat wa’i titi nggat” – ritual singkat untuk mempersiapkan perjalanan menuju mata wae atau mata air.
Herman Hemat, 74 tahun, tetua adat di Kampung Nunang, salah satu kampung di Desa Wae Sano, memimpin ritual. Seusainya, rombongan–termasuk sejumlah perempuan–menyusuri jalan sekitar 400 meter menuju Wae Kuta di sisi selatan pastoran.
Di mata wae itu, mereka menggelar Barong Wae, ritus masyarakat Manggarai, yang mendiami bagian barat Pulau Flores, untuk menghormati air, leluhur, dan penjaga mata air.
Wae Kuta bernaung di bawah rumpun bambu. Guguran daun menghambat aliran air menuju bak penampung. Sebagian warga membersihkannya; yang lain menata telur, nasi, rokok, lilin, bir, siri, pinang, kapur, serta seekor ayam kampung untuk ritual.
Lokasi Wae Kuta berada sekitar 200 meter dari Danau Sano Nggoang, danau vulkanik seluas 5.500 hektare. Permukiman, kebun, hutan, dan sumber air mengitari cekungannya; Kampung Nunang menjadi salah satu pintu masuk kawasan.
Desa Wae Sano berjarak sekitar 52 kilometer dari Labuan Bajo atau sekitar 22 kilometer dari pertigaan jalan Trans-Flores rute Ruteng–Labuan Bajo. Jalan yang berlubang di berbagai titik membuat perjalanan memakan waktu hingga dua jam dengan sepeda motor dan empat jam dengan mobil.
Empat Arah Penghormatan
Di Wae Kuta, Herman membagi bahan ritual menjadi empat persembahan: untuk awang’n eta (langit), tana’n wa (bumi), empo (leluhur atau nenek moyang), dan ata lami mata wae (penjaga mata air).
Kepada langit, ia memohon hujan agar mata air tetap tersedia bagi seluruh makhluk hidup.
“Kalau langit tidak mencurahkan hujan, tidak mungkin ada air di bumi,” kata Herman kepada Floresa seusai ritual.
Hujan, katanya, harus disambut bumi yang mampu menyerap dan menyimpannya.
“Apakah bumi siap menerima hujan yang dicurahkan dari langit?” tanyanya.
Karena itu, permohonan juga ditujukan kepada tanah agar air hujan tersimpan dan melahirkan mata air baru.
“Langit dan bumi ini tidak boleh dipisahkan, tetapi harus betul-betul dijaga, makanya para leluhur sering bilang ‘tana’n wa, awang’n eta,’” katanya. Ia menggambarkan langit sebagai ayah dan bumi sebagai ibu.
“Karena itu, dalam upacara Barong Wae, kalau ada doa untuk bumi, harus ada untuk langit. Tidak mungkin kita hanya menghormati ibu, lalu ayah tidak pernah kita hormati,” tambahnya.

Doa berikutnya ditujukan kepada ata lami mata wae, makhluk tak kasatmata yang dipercaya menjaga mata air agar terus mengalir. Dalam keyakinan leluhur, kata dia, manusia berbagi bumi dengan makhluk demikian. Hanya orang-orang tertentu yang dipercaya dapat melihat sosok menyerupai manusia itu.
“Orang di sini menyebut makhluk-makhluk seperti itu sebagai Darat dan Jing. Darat bentuknya seperti manusia; yang laki-laki sangat tampan dan yang perempuan sangat cantik,” katanya.
“Sementara Jing bentuknya hampir menyerupai manusia, tetapi wajahnya sangat bengis,” tambahnya.
Darat dan Jing itulah yang, menurut Herman, diyakini para leluhur setia menjaga mata air, sehingga mereka perlu diberi sesajian sebagai tanda penghormatan.
Persembahan juga diberikan kepada empo, agar leluhur merestui ritual dan turut memohon perlindungan Sang Pencipta atas mata air.
Bagi Herman, keempat arah penghormatan itu menegaskan arti Barong Wae: menjaga sumber air berarti menjaga kehidupan.
Empat Arah Penghormatan dalam Barong Wae
Dalam Barong Wae, penghormatan diarahkan ke langit, bumi, leluhur, dan penjaga mata air.
Awang’n eta
LangitPermohonan agar hujan turun dan menyediakan air bagi seluruh makhluk hidup.
Tana’n wa
BumiPermohonan agar tanah mampu menyerap, menyimpan, dan melahirkan mata air.
Empo
LeluhurPermohonan restu dan perlindungan Sang Pencipta atas mata air.
Ata lami mata wae
Penjaga mata airPenghormatan kepada sosok yang dipercaya menjaga aliran air.
Menjaga sumber air berarti menjaga kehidupan.
Makna itu terasa dekat bagi Yosefina Haul, perempuan yang ikut dalam ritual Barong Wae. Baginya, ritual itu adalah kesempatan memohon perlindungan leluhur agar air Wae Kuta yang dimasak dan dikonsumsi warga tidak mendatangkan penyakit.
Ia mengikuti ritual karena, menurutnya, perempuanlah yang paling dekat dengan urusan air dalam kehidupan sehari-hari.
“Kalau air tidak ada, ibu-ibu tentu stres, seperti kehilangan sesuatu, karena kita sudah tidak bisa hidup,” kata Yosefina, 53 tahun.
“Karena itu, bagaimanapun caranya kami harus dapat air, meski harus menimba air di tempat yang jauh. Kami lakukan itu demi anak dan keluarga,” tambahnya.
Lusia Lanus menyuarakan kegelisahan serupa: “Kalau tidak ada air, kita tidak bisa hidup.”
“Kalau tersedak, kita minum air, kalau mau memasak nasi dan sayur, kita mencari air,” kata perempuan 58 tahun itu.
“Dengan acara Barong Wae ini, kita mengharapkan bahwa setelah mengonsumsi air ini, tidak terjadi apa-apa pada diri kita,” tambahnya.

Barong Wae dalam Kehidupan Orang Manggarai
Bentuk Barong Wae berbeda-beda di berbagai kampung di Manggarai Raya—mencakup Manggarai Barat, Manggarai dan Manggarai Timur—sesuai sejarah, tata adat, dan kesepakatan setempat.
Namun, benang merahnya sama: warga berkumpul, tetua adat melantunkan tuturan ritual, rombongan mendatangi mata air, dan persembahan disiapkan sebagai ungkapan syukur dan permohonan agar sumber air tetap lestari.
Ritual ini kerap menjadi bagian dari rangkaian Penti, perayaan syukur atas hasil panen dan pergantian musim kehidupan kampung. Dalam rangkaian itu, penjaga mata air diundang untuk hadir dalam perayaan bersama.
Sifatnya komunal; tetua adat memimpin doa, sedangkan warga—termasuk kaum muda—menyiapkan perlengkapan dan membersihkan wilayah sekitar mata wae.
Penelitian etnografis Erna Mena Niman, dkk dalam Paradigma: Jurnal Kajian Budaya (2023) mencatat bahwa Barong Wae memuat pengetahuan, etika, nilai, dan norma mengenai pelestarian lingkungan air. Unsur tersebut terdapat pada simbol, lokasi ritual, dan keterlibatan masyarakat adat.
Heribertus Solosumantro dan Aventinus Darmawan Hadut dalam prosiding National Conference on Indonesian Philosophy and Theology (2024) mencatat pandangan masyarakat tradisional Manggarai mengenai air sebagai berkat yang diberikan melalui penjaga mata air. Kajian itu menempatkan Barong Wae sebagai upacara penghormatan kepada penjaga air dalam sistem kepercayaan mengenai Wujud Tertinggi.
Kajian Erna Mena Niman mengenai Penti dalam Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (2022) mengungkap hubungan antara lokasi ritual dan pandangan kosmologis masyarakat Manggarai terhadap alam. Pandangan itu mencakup norma, etika, dan larangan yang mengatur hubungan sosial serta penggunaan ruang.
Enam Dekade Tanpa Barong Wae
Di Wae Sano, Barong Wae tahun ini menjadi bagian dari Festival Bumi Sano Nggoang yang berlangsung pada 3-7 Oktober.
Festival bertema “Merawat Kearifan Lokal; Budaya, Ekonomi dan Ekologi untuk Keutuhan Ciptaan,” itu diinisiasi oleh umat Paroki St. Mikael Nunang. Paroki di bawah Keuskupan Labuan Bajo ini, dengan jumlah umat 2.689 jiwa memperingati ulang tahun ke-60.
Perayaan tersebut, kata Herman, sekaligus menjadi ruang untuk menggali kembali kearifan lokal dan meneruskannya kepada anak-anak serta kaum muda.
“Festival Bumi Sano Nggoang menjadi momen bagi warga untuk menggelar kembali ritual adat yang telah lama ditinggalkan,” katanya.

Bagi Herman, peristiwa itu membuka kembali ingatan masa kecil. Ia terakhir menyaksikan Barong Wae dan ritual adat lain sekitar enam dekade silam, “sekitar tahun 60-an.”
Ia mengaitkan hilangnya ritual demikian dengan sejarah kehadiran Gereja Katolik di Nunang yang ditetapkan sebagai pusat paroki pada 1966. Pastor Erwin Schmutz, SVD, misionaris dari Jerman merupakan pastor paroki pertama.
Herman mengatakan sebagian umat ketika itu menganggap bahwa “iman itu sama dengan budaya.” Karena itu, setelah dibaptis menjadi Katolik, mereka pun meninggalkan ritual-ritual adat karena takut dianggap “menyembah berhala.”
“Padahal, pemahamannya tidak seperti itu. Adat dan kebiasaan itulah yang disebut budaya, sementara iman adalah tentang kepercayaan,” katanya.
Menurutnya, perubahan itu terjadi murni karena kesalahan pemahaman, bukan karena tekanan. Ia masih duduk di kelas enam sekolah dasar ketika perubahan tersebut berlangsung.
Sejak masa itu, warga meninggalkan ritual Barong Wae serta sejumlah ritual lain, mulai dari membuka kebun hingga penti weki peso beo, acara syukur pascapanen.
Beberapa orang tua masih menjalankan sebagian ritual secara pribadi, katanya. Namun, Barong Wae tidak dapat dilakukan sendiri karena menuntut keterlibatan seluruh kampung.
Karena itulah, ketika ritual kembali digelar, Herman merasa seolah sedang memulihkan ikatan yang lama terputus: “Saya meminta maaf kepada leluhur karena selama ini kami tidak melakukannya.”
Ia mengaku, mempelajari ritual-ritual adat dari ayahnya, yang pernah menjadi kepala kampung sekaligus salah satu tetua adat.
“Saya sering memperhatikan apa yang mereka lakukan. Sebagian acara-acara itu saya belajar dari situ saja,” katanya.
Herman pun mengaitkan absennya Barong Wae selama enam dekade dengan berkurangnya debit air dan hilangnya sejumlah sumber air – sebuah keyakinan yang berpadu dengan pengamatannya atas perubahan lanskap Wae Sano.
Ia menyebut Wae Rangkang, Wae Toto Ninu, dan Wae Tiku Mukang Betong telah mengering.
“Dulu sumber-sumber air ini debitnya cukup besar. Sekarang hanya beberapa mata air saja yang masih seperti dulu; yang lain sudah hilang atau kering,” katanya.

Kini, menurut Herman, hanya Wae Kuta dan Wae Kembe yang bertahan.
Wae Kuta masih mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari 50 keluarga di Nunang, SDI Nunang, dan SMP Negeri 6 Sano Nggoang.
Adapun Wae Kembe, karena debitnya kecil, hanya mencukupi kebutuhan pastoran.
Herman menduga mata air mengering karena fenomena alam, bukan penebangan pohon.
“Namun, saya juga yakin karena tidak pernah dilakukan Barong Wae lagi,” katanya.
Kondisi Mata Air Wae Sano
Dua mata air masih bertahan, tiga lainnya telah mengering.
2 bertahan · 3 mengering
Masih bertahan
Wae Kuta
Memenuhi kebutuhan sehari-hari 50 keluarga di Nunang, ditambah dua sekolah:
Wae Kembe
Debitnya kecil dan hanya mencukupi kebutuhan pastoran.
Telah mengering
- Wae Rangkang
- Wae Toto Ninu
- Wae Tiku Mukang Betong
Upaya perlindungan
- Penghijauan di sekitar mata air.
- Larangan penebangan dan penggarapan lahan di kawasan penyangga.
- Menjaga hutan dari kegiatan yang dapat merusak sumber air.
Agama dan Budaya Tidak Bertentangan
Bagi Pastor Paroki St. Mikael Nunang, Romo Valerianus Paulus Jempau, kebangkitan ritual itu tidak bertentangan dengan iman Katolik.
Agama, katanya, lahir dari iman manusia kepada Allah; adat-istiadat pun tumbuh dari cara suatu masyarakat memaknai kehidupan.
Sejak Konsili Vatikan II pada 1962-1965, Gereja Katolik membuka diri terhadap kebajikan dan kearifan lokal dalam budaya, sehingga berkembangkan konsep teologi kontekstual.
Dalam teologi itu, katanya, ajaran iman dipahami dengan memperhatikan realitas sosial, budaya, sejarah, dan pengalaman umat.
“Sejak itu, agama dan budaya berdampingan, bahkan seperti dua sayap dari satu burung yang sama. Agama Katolik hadir bukan untuk melepaskan budaya,” katanya.
Valerianus berkata, keduanya memiliki tujuan yang sama, yakni menyembah dan memuji, serta bersyukur kepada Allah Sang Pemberi Kehidupan.
Menurutnya, adat-istiadat yang telah menjadi budaya masyarakat setempat tidak bertujuan untuk menyembah nenek moyang, melainkan untuk menghormati mereka.
“Jadi, itu bukan berhala,” katanya.

Pertemuan warga di pastoran sebelum dan sesudah ritual, katanya, mengandung ajakan nai ca anggit, tuka ca leleng— satu hati, satu niat, dan sejiwa— dan bantang cama reje lele, bermusyawarah bersama untuk mencapai kata sepakat.
“Pastoran adalah rumah untuk menenun warna persatuan itu, sekaligus menegaskan bahwa pastoran menjadi tempat untuk merangkul agama dan budaya agar keduanya berjalan bersama, sebab keduanya memiliki nilai iman kepada Allah Sang Pencipta,” jelasnya.
Karena itu, Valerianus memandang Barong Wae sebagai momen untuk mengajarkan bahwa merawat mata air berarti merawat kehidupan.
Air, katanya, adalah pemberian Sang Pencipta yang diwariskan leluhur kepada generasi sekarang. Jika warisan itu rusak, dampaknya tidak hanya dirasakan hari ini, tetapi juga oleh generasi mendatang.
“Jadi, ritual adat ini adalah kesempatan untuk merefleksikan tentang apa yang harus kita lakukan dengan mata air kita agar kita tetap hidup,” katanya.
Di situlah, jelas iman dan tindakan ekologis bertemu: kesadaran bahwa air adalah kebutuhan dasar harus diwujudkan dalam perlindungan nyata terhadap sumbernya.
Merawat mata air, lanjutnya, merupakan ungkapan iman kepada Allah Sang Pencipta.
“Jika mata air dirusakkan, itu merupakan dosa ekologis. Jika itu telah terjadi, pertobatan ekologis harus dilakukan,” katanya.
Ia menambahkan: “Kita merawat air saat ini agar kita tetap hidup. Begitu pun generasi mendatang, mereka masih bisa hidup karena warisan kita paling berharga, yakni mata air.”
Upaya Merawat Mata Air
Upaya merawat mata air bukanlah hal baru bagi Herman. Ketika menjabat sebagai Kepala Desa Wae Sano pada 1988-1999, ia menggalakan program penghijauan di sekitar mata air.
Ia juga melarang penebangan dan penggarapan lahan di kawasan penyangga sumber air.
“Paling kurang 50 meter kiri-kanannya itu tidak boleh digarap. Bagian hulu ke atas sama sekali tidak boleh. Waktu itu warga ikut semua,” katanya.
Kini, Valerianus dan umat melanjutkan komitmen itu dengan menolak kegiatan apa pun yang dinilai dapat merusak mata air, termasuk penebangan hutan dan proyek pertambangan.
“Gereja dan masyarakat adat saling bekerja sama untuk mengedukasi umat atau masyarakat agar memelihara mata air dan tidak tergiur dengan segala eskalasi pembangunan yang menghancurkan hutan sebagai sumber mata air di Paroki Nunang,” katanya.
Kendati selama festival tidak disoroti secara eksplisit, dalam catatan Foresa, wilayah Desa Wae Sano sedang menjadi sasaran proyek geotermal. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menetapkannya pada 2017, yang ditargetkan punya kapasitas listrik 30 megawatt.
Semula, proyek itu hendak digarap PT Sarana Multi Infrastruktur, namun belakangan pengerjaannya beralih ke PT Geo Dipa Energy. Keduanya merupakan Badan Usaha Milik Negara di bawah Kementerian Keuangan.
Sejak awal, masyarakat menolak proyek ini karena menilainya mengancam tanah ulayat, sumber mata air, hingga tatanan sosial budaya yang diwariskan leluhur.
Penolakan warga kemudian mendapat dukungan dari berbagai lembaga pendamping dan jaringan solidaritas. Hal itu membuat Bank Dunia yang semula menjadi pendana proyek itu bersama lembaga pemerintah Selandia Baru, New Zealand Foreign Affairs and Trade Aid Programme, mengundurkan diri pada 2023. Pendanaannya kemudian beralih skema ke Pembiayaan Infrastruktur Sektor Panas Bumi oleh Pemerintah Indonesia sendiri.
Proyek ini kini menggantung usai PT PLN tidak memasukkannya dalam daftar Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik tahun 2025-2034 pada Mei tahun lalu.
Bagi Herman, salah satu pokok kekhawatiran mereka adalah terancamnya pasokan air bagi warga jika proyek-proyek yang berdampak langsung pada alam itu dikerjakan.
Apalagi, kata dia, saat pihak perusahaan datang, “mereka hanya memberitahukan pemerintah desa saja, lalu mereka langsung melakukan kegiatan di kampung kami.”
“Itu berarti merendahkan dan tidak menghargai kami,” tambahnya.
Padahal, jelasnya, pihak perusahaan memantau titik-titik eksplorasi di dekat mata air, membuat mereka kian cemas pada dampaknya bagi kehidupan mereka.
“Saya benci sekali dengan mereka karena tidak terbuka menjelaskan dampak-dampak proyek geotermal, tetapi kami diminta memberikan persetujuan terkait proyek itu,” katanya.
Sejumlah sumber di internal panitia festival menyatakan kepada Floresa, mereka tidak membicarakan proyek ini selama kegiatan, karena mempertimbangkan friksi sosial yang masih tetap muncul di tengah warga.

Merawat Warisan Paling Berharga
Kembalinya Barong Wae dalam Festival Bumi Sano Nggoang bukan sekadar mengulang ritus lama.
Pembersihan sumber, tuturan adat, persembahan, doa, dan keterlibatan lintas generasi menjadikannya ikhtiar bersama untuk memulihkan hubungan dengan air.
Di dalamnya, anak-anak dan kaum muda tidak hanya menyaksikan sebuah upacara, tetapi menerima pengetahuan tentang cara kampung menjaga warisan paling mendasar bagi kehidupan.
Di bawah rumpun bambu Wae Kuta, ritual berakhir setelah warga membersihkan mata air, menyampaikan doa, dan menempatkan persembahan. Air yang sempat tertahan oleh guguran daun kembali mengalir menuju bak penampung, hingga ke rumah warga.
Bagi Herman, keberlanjutan aliran itu berkaitan langsung dengan kian meningkatnya kebutuhan warga.
“Kiranya debit sumber air ini terus bertambah, mengingat jumlah manusia yang juga bertambah,” katanya.
Harapannya bersahaja: agar setiap orang mendapat cukup air untuk minum, mandi, memasak, dan menjalani kehidupan—hari ini maupun pada masa mendatang.
Liputan ini didukung oleh Koalisi Media Alternatif melalui fellowship “Kearifan Masyarakat Adat Menjadi Praktik Baik dan Kunci Keberlanjutan di Masa Depan.”
Liputan ini dikerjakan oleh Adriani Miming, Doroteus Hartono, Herry Kabut dan Venansius Darung
Editor: Ryan Dagur



