Tuhan Mati di Nangahale?

Menjauh dari gereja belum tentu berarti meninggalkan Tuhan. Di Nangahale, kekecewaan terhadap institusi membuka pertanyaan yang lebih mendasar: bagaimana iman bertahan ketika perantara yang memperkenalkan Tuhan justru kehilangan kepercayaan?

Oleh: Vano Jemadin

Malam itu, di lopo Nice Palace—tempat kami mahasiswa IFTK Ledalero sebut sebagai rumah segala rindu berlabuh—saya duduk bersama seorang teman selepas makan malam. 

Ditemani secangkir kopi pahit, kami berbincang tentang Nangahale, wilayah yang terus menjadi perhatian publik karena konflik agraria, apalagi usai Floresa merilis serial khusus sejak pertengahan Oktober, “Gembala vs Domba di Nangahale.”

Di tengah percakapan, teman itu melontarkan pertanyaan yang tinggal lebih lama daripada rasa pahit kopi: bagaimana jika seseorang masih ingin percaya kepada Tuhan, tetapi tidak lagi mempercayai institusi yang selama ini memperkenalkan Tuhan kepadanya?

Pertanyaan itu mengingatkan saya pada laporan Floresa tertanggal 3 Mei 2026, “Tetap Beriman, Tak lagi Ke Gereja: Dalamnya Kekesewaan Perempuan Nangahale terhadap Institusi”.

Laporan tersebut mengangkat pengalaman Maria Lensiana Ledu, perempuan adat Nangahale yang mengaku tetap beriman, tetapi kecewa terhadap institusi Gereja dan tidak lagi bersemangat mengikuti kegiatan gerejawi.

Kisahnya tentu tidak mewakili seluruh umat di Nangahale. Namun, ia membuka ruang untuk bertanya: ketika kepercayaan kepada institusi terguncang, bagaimana seseorang menghidupi kembali hubungannya dengan Tuhan?

Tulisan ini tidak hendak memutuskan siapa yang benar dalam konflik Nangahale, menilai legalitas tanah, atau mengurai ulang sejarah sengketanya. Yang ingin saya telusuri ialah luka pada hubungan iman ketika lembaga yang selama ini menjadi bagian dari perjalanan rohani seseorang kehilangan kepercayaan.

Membatasi pembahasan pada pengalaman iman bukan berarti meniadakan persoalan agraria. Justru dari pengalaman konkret itulah pertanyaan tentang Tuhan memperoleh bobotnya.

Ketika Perantara Kehilangan Kepercayaan

Bagi banyak orang Katolik, mengenal Tuhan bukanlah perjalanan yang ditempuh sendirian. Sejak kecil, kita belajar berdoa dalam keluarga, mendengar Kitab Suci melalui pewartaan, merayakan iman dalam sakramen, dan bertumbuh bersama komunitas.

Gereja, sebagai persekutuan sekaligus institusi, menjadi bagian penting dari perjalanan itu. Hubungan dengannya karena itu bukan sekadar hubungan dengan organisasi. Di dalamnya tersimpan kenangan keluarga, persahabatan, pengalaman rohani, dan cara seseorang memahami dirinya sebagai orang beriman.

Kedekatan itulah yang membuat tindakan institusi memiliki akibat rohani. Umat tidak mendengar pewartaan tentang kasih dan keadilan dalam ruang hampa. Mereka membacanya bersama pengalaman sehari-hari: bagaimana para pelayan Gereja bertindak, bagaimana keluhan ditanggapi, dan bagaimana martabat mereka diperlakukan.

Kata-kata dari mimbar tidak selalu dapat dipisahkan dari tindakan orang yang mengucapkannya. Ketika keduanya bertentangan, yang terguncang bukan hanya penilaian terhadap lembaga, melainkan juga rasa percaya pada jalan yang selama ini menuntun mereka kepada Tuhan.

Tuhan tentu tidak identik dengan institusi, pemimpin, atau siapa pun yang berbicara atas nama-Nya. Namun, pembedaan itu tidak serta-merta menyembuhkan kekecewaan. Seseorang dapat mengetahui bahwa Tuhan berbeda dari Gereja, tetapi tetap kesulitan berdoa dengan tenang ketika lembaga yang membantunya mengenal Tuhan menjadi sumber luka.

Keretakan kepercayaan terhadap institusi memang tidak otomatis menghapus iman. Ia dapat, bagaimanapun, mengubah cara seseorang mendekati Tuhan.

Karena itu, jawaban “Tuhan berbeda dari institusi” tidak boleh menjadi jalan pintas untuk membebaskan institusi dari tanggung jawab. Gereja tidak memiliki Tuhan, tetapi memikul tanggung jawab atas cara nama-Nya dihadirkan dalam kehidupan umat.

Otoritas keagamaan bukan jaminan bahwa setiap tindakan layak dipercaya. Kepercayaan tumbuh ketika pewartaan dan perbuatan saling meneguhkan, bukan ketika nama Tuhan dipakai untuk menutup pertanyaan tentang tindakan yang melukai manusia.

Ketika Pewartaan Berhadapan dengan Kesaksian Hidup

Di Nangahale, konflik agraria membuat persoalan ini terasa konkret. Editorial Floresa, “Konflik Agraria Nangahale dan Ujian Moral Gereja,” yang terbit pada 24 Oktober 2026, menempatkan konflik tersebut dalam kerangka tanggung jawab moral Gereja.

Saya tidak hendak mengambil alih kesimpulan laporan itu. Yang ingin saya soroti ialah bahwa konflik yang melibatkan institusi keagamaan dapat menjangkau lebih jauh daripada sengketa tanah dan kewenangan: ia juga menyentuh kepercayaan umat kepada lembaga yang menjadi bagian dari hidup imannya.

Pertanyaannya, dengan demikian, bukan hanya apakah institusi telah memberi penjelasan, melainkan apakah tindakannya dapat dikenali sebagai kesaksian atas nilai yang diwartakan.

Kasih, keadilan, dan keberpihakan kepada mereka yang rentan tidak cukup dinyatakan dalam khotbah atau dokumen resmi. Umat mengujinya melalui pengalaman: apakah suara mereka didengar, apakah keluhan mereka ditanggapi dengan sungguh-sungguh, dan apakah martabat mereka tetap dihormati ketika kepentingan bertabrakan?

Ketika pewartaan dan pengalaman umat berjarak, keretakan kepercayaan tidak selalu tampil sebagai protes terbuka. Ia bisa hadir sebagai diam, keengganan terlibat, atau keputusan menjaga jarak.

Kita tidak boleh buru-buru menyebutnya perlawanan terhadap Gereja. Sebaliknya, menjauh juga tidak otomatis membuktikan kedalaman iman. Sebelum memberi label, kita perlu mendengar pengalaman yang membuat seseorang sampai pada keputusan itu.

Kisah Yesus dalam Markus 3:1–6 membantu menerangi hubungan antara aturan keagamaan dan martabat manusia. Ketika menyembuhkan orang yang mati sebelah tangannya pada hari Sabat, Yesus mempertanyakan pemahaman keagamaan yang menghalangi tindakan menyelamatkan kehidupan.

Kisah ini bukan pembenaran untuk mengabaikan semua aturan, apalagi bukti bahwa setiap kritik terhadap Gereja pasti benar. Ia mengingatkan bahwa aturan dan otoritas harus diuji melalui tujuan yang hendak dilayani: kehidupan dan kebaikan manusia.

Otoritas kehilangan makna ketika pembelaannya justru mengabaikan mereka yang seharusnya dilayani.

Dari sudut ini, Nangahale menghadirkan pertanyaan tentang kesaksian: apakah kabar baik yang diwartakan sungguh terasa sebagai kabar baik bagi mereka yang mengalaminya?

Pertanyaan itu berlaku bagi setiap komunitas keagamaan. Kepercayaan yang retak tidak pulih hanya karena ajaran diulang dengan lebih lantang. Ia membutuhkan pengalaman bahwa ajaran tersebut benar-benar dijalankan.

Apakah Iman Harus Selalu Bergantung pada Institusi?

Jika kepercayaan terhadap institusi retak, apakah hubungan dengan Tuhan ikut berakhir? Menurut saya, kedekatan seseorang dengan lembaga keagamaan tidak dapat menjadi satu-satunya ukuran imannya.

Orang yang tidak lagi hadir dalam kegiatan gerejawi belum tentu berhenti percaya. Ia mungkin sedang kecewa, membutuhkan waktu, atau belum menemukan ruang yang aman untuk mengungkapkan pergulatannya. Di rumah, ia mungkin masih berdoa; dalam kesunyian, ia mungkin masih memelihara harapan.

Namun, mengakui bahwa iman dapat bertahan ketika seseorang mengambil jarak dari institusi bukan berarti meniadakan pentingnya kehidupan menggereja. Dalam tradisi Katolik, iman dihidupi juga melalui persekutuan, sakramen, dan pelayanan.

Komunitas membantu seseorang bertumbuh, menguji pemahamannya, dan belajar mengasihi sesama. Pilihannya karena itu bukan iman pribadi atau Gereja, seolah-olah yang satu hanya dapat hidup dengan menyingkirkan yang lain.

Pertanyaan yang lebih mendesak ialah: bagaimana Gereja dapat tetap menjadi rumah bagi orang beriman yang datang membawa kekecewaan, bukan hanya bagi mereka yang datang dengan kepatuhan?

Doa dalam kesunyian tidak selalu menandakan bahwa luka telah selesai. Seseorang mungkin tetap menyebut nama Tuhan justru karena belum menemukan jawaban. Ia belum tahu bagaimana memulihkan kepercayaan atau kembali terlibat dalam komunitas.

Ketidakpastian itu tidak dengan sendirinya berarti kehilangan iman. Ada masa ketika iman hadir bukan sebagai kepastian yang utuh, melainkan sebagai keinginan sederhana untuk tidak berhenti berharap.

Di sinilah tugas pemulihan kepercayaan menjadi penting. Mengundang umat kembali tidak sama dengan membuat mereka kembali percaya. Kehadiran dapat diminta; kepercayaan tidak dapat diperintahkan. Ia perlu dibangun melalui kesediaan mendengarkan, keberanian mengakui tindakan yang melukai, keterbukaan terhadap kritik, dan perubahan yang dapat dirasakan.

Mendengarkan tidak berarti membenarkan setiap tuduhan tanpa pemeriksaan. Ia berarti memberi pengalaman seseorang tempat dalam percakapan sebelum menjatuhkan penilaian.

Tanggung jawab pastoral, dengan demikian, tidak berhenti pada ajakan untuk kembali ke gereja. Ia juga menuntut pemeriksaan diri: apakah tindakan institusi masih membantu umat mengenal kasih dan keadilan yang diwartakannya? Apakah orang yang berbeda pendapat tetap diberi ruang berbicara? Apakah kritik selalu diperlakukan sebagai ancaman, atau juga diterima sebagai kesempatan mengoreksi diri?

Pertanyaan-pertanyaan ini tidak menyelesaikan sengketa agraria dengan sendirinya. Namun, tanpa kesediaan menghadapinya, ajakan untuk kembali berisiko meminta umat melupakan luka sebelum sumbernya sungguh diperiksa.

Benarkah Tuhan Mati di Nangahale?

Judul “Tuhan Mati di Nangahale?” adalah pertanyaan, bukan vonis. Saya tidak sedang menyatakan bahwa Tuhan benar-benar mati atau iman umat Nangahale telah padam.

Judul itu menunjuk pada sebuah paradoks: ketika seseorang menjauh dari institusi Gereja karena kecewa, apakah kerinduannya kepada Tuhan ikut hilang, atau justru bertahan di tengah luka tersebut?

Mungkin yang retak bukan iman itu sendiri, melainkan kepercayaan kepada perantara yang selama ini dianggap mampu menghadirkan Tuhan. Mungkin pula luka itu mengguncang keduanya sekaligus.

Kita tidak dapat memutuskan jawabannya dari luar, apalagi mengatasnamakan seluruh umat. Yang dapat kita lakukan ialah memberi ruang agar pergulatan itu diungkapkan tanpa segera dihakimi.

Pembedaan ini penting karena orang yang sedang terluka tidak hanya membutuhkan penjelasan bahwa Tuhan tetap baik. Ia juga membutuhkan pengalaman bahwa orang-orang yang berbicara atas nama Tuhan bersedia bertanggung jawab.

Jika pengalaman itu tidak hadir, penjelasan yang benar sekalipun dapat terdengar jauh dari kehidupan yang sedang dijalaninya.

Pikiran saya kembali ke lopo Nice Palace malam itu. Kopi telah habis, percakapan telah usai, tetapi pertanyaan teman saya belum selesai. Barangkali, persoalannya bukan apakah Tuhan telah mati di Nangahale, melainkan bagaimana seseorang mencari-Nya kembali ketika jalan yang dahulu menuntunnya mendekat kini menjadi alasan untuk mengambil jarak.

Pencarian itu tidak selalu lahir dari hilangnya iman. Ia dapat bermula dari kerinduan yang bertahan, sementara kepercayaan kepada perantaranya runtuh.

Pertanyaan ini juga mengajak kita bercermin. Apakah kita terlalu mudah mengukur iman orang lain dari kehadirannya di gereja? Apakah kita menyediakan ruang bagi mereka yang kecewa? Dan apakah kita sungguh bersedia mendengar jawaban mereka, termasuk ketika jawaban itu menggugat cara kita beragama?

Saya percaya bahwa iman tidak seharusnya dipakai untuk membungkam pertanyaan. Ia semestinya memberi ruang untuk mencari makna, mengakui luka, dan tetap berharap.

Maka, mungkin bukan Tuhan yang mati di Nangahale. Yang sedang diuji ialah kredibilitas manusia dan institusi dalam memberi kesaksian tentang-Nya. Ujian itu tidak dijawab dengan menuntut umat membuktikan kesetiaan, melainkan dengan memperlihatkan bahwa kepercayaan mereka layak dijaga.

Sebab, seseorang yang menjauh dari gedung gereja belum tentu menjauh dari Tuhan. Dalam kesunyian yang tidak kita ketahui, ia mungkin masih mencari-Nya.

Pertanyaannya: ketika ia mengetuk kembali, adakah ruang yang sungguh bersedia mendengarkan?

Vano Jemadin adalah mahasiswa Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif Ledalero.

Editor: Ryan Dagur

DUKUNG KAMI

Terima kasih telah membaca artikel kami.

Floresa adalah media independen. Setiap laporan kami lahir dari kerja keras rekan-rekan reporter dan editor yang terus berupaya merawat komitmen agar jurnalisme melayani kepentingan publik.

Kami menggalang dukungan publik, bagian dari cara untuk terus bertahan dan menjaga independensi. Cara salurkan bantuan bisa dicek pada tautan ini: https://floresa.co/dukung-kami

Terima kasih untuk kawan-kawan yang telah mendukung kami. Gabung juga di Grup WhatsApp pembaca kami dengan klik di sini atau di Channel WhatsApp dengan klik di sini.

ARTIKEL PERSPEKTIF LAINNYA

BANYAK DIBACA