Belis dan Perdebatan di Luar Panggung

Pemahaman tentang belis harus berangkat dari dalam, dari pemahaman masyarakat yang menghidupinya, dan dari makna yang mereka jaga dari generasi ke generasi

Oleh: Gregorius Nggadung

Ada sebuah ungkapan lisan yang selalu menggantung di benak saya setiap kali berbicara tentang belis dalam konteks masyarakat di Nusa Tenggara Timur: “Perempuan yang hendak menikah akan dianggap buruk di tengah masyarakat jika melewati tradisi belis.”

Ungkapan itu bukan sekadar pepatah. Lebih dari itu, ia adalah dasar pemahaman dan cara masyarakat dalam memandang martabat, kehormatan dan kedudukan perempuan dalam tatanan sosial. 

Dan, meski zaman terus bergerak, pandangan itu masih hidup, menjalar, bermekaran dan kadang diperdebatkan di ruang-ruang yang jauh dari panggung sesungguhnya.

Belis dan Tradisi yang Dinantikan

Belis bukan sekadar tahapan menuju pernikahan. Belis merepresentasikan dan menarasikan kesungguhan yang menghadirkan dialog panjang antara dua keluarga besar dan dimulai jauh sebelum hari pernikahan tiba. 

Ketika dua orang yang hendak menikah tetap memutuskan untuk mempertahankan hubungannya, maka perbincangan tentang belis pun mulai melaju, pelan dan penuh pertimbangan serta sarat makna.

Ada satu pertanyaan khas yang selalu hadir dalam tradisi ini: sanggup? 

Kesanggupan yang dimaksud adalah bukan semata soal besarnya uang atau banyaknya hewan yang diantarkan, tetapi lebih nyata dan lebih luas.

Kesanggupan itu dalam arti merawat dan menjaga martabat kedua keluarga besar, untuk memastikan bahwa perempuan yang berpindah dari satu keluarga ke keluarga lain tetap menunjukkan jati dirinya dan memiliki ruang untuk dihargai.

Kembali pada ungkapan di awal, belis menempatkan perempuan bukan sebagai objek, melainkan sebagai subjek yang memiliki tempat untuk dihargai. 

Jika ada perempuan yang “melewati” tradisi ini, ungkapan lama itu seakan mengatakan, bahwa ia telah kehilangan pengakuan sosial atas martabatnya.

Pergeseran Makna

Dalam beberapa tahun terakhir, makna belis semakin sering direduksi. 

Hal yang tampak ke permukaan hanyalah lapisan material, jumlah uang, jumlah hewan, tingkat pendidikan perempuan dan status sosial keluarga. 

Dari sanalah muncul asumsi yang terus dipopulerkan, bahwa belis adalah bentuk komodifikasi perempuan, bahwa ia menempatkan perempuan sebagai barang yang diperjualbelikan.

Asumsi itu tidak lahir dari ruang kosong. Ia tumbuh dari pengamatan terhadap praktik belis yang dipandang bergeser dari akarnya. 

Namun, ada paradoks yang jarang disadari. Mereka yang paling keras mempersoalkan belis sering kali justru yang paling jauh dari pemahaman internal masyarakat pelaksananya. 

Situasi ini mengingatkan saya pada sebuah metafora dalam dunia sastra: “penulis mati, pembaca hidup.” Ketika sebuah karya lepas dari tangannya, pembacalah yang memberikan tafsir, kadang sesuai, kadang jauh dari niat penciptanya. 

Demikian pula dengan belis. Ketika tradisi ini “dibaca” oleh mereka yang berada di luar panggungnya, tafsir yang muncul sering kali tidak menyentuh akar dari mana ia tumbuh.

Masyarakat yang menghidupi tradisi belis tetap menjalankannya, bukan karena buta terhadap kritik, melainkan karena mereka memahami sesuatu yang tidak selalu tampak dari luar.

Bagi mereka, belis adalah bahasa dan bahasa itu tidak bisa diterjemahkan hanya dari kamus, melainkan dari mereka yang menghidupinya.

Perdebatan di Luar Panggung

Perdebatan tentang belis tidak sepenuhnya salah karena dalam praktiknya memang kadang muncul beberapa masalah konkret. 

Misalnya, ada keluarga yang jatuh dalam utang demi memenuhi tuntutan belis, ada pernikahan yang tertunda karena nominal yang tidak terjangkau. 

Namun, yang jarang masuk dalam perdebatan adalah konteks yang lebih luas, dari mana tekanan itu sesungguhnya berasal?

Di sinilah, saya melihat sesuatu yang luput dari pandangan banyak pihak, yakni euforia pesta modern, resepsi pernikahan berskala besar dengan segala kelengkapannya.

Hal itu tidak pernah dihitung sebagai bagian dari masalah. 

Padahal, untuk mencapai pesta itu, tahapan belislah yang menjadi titik tumpu. 

Namun, anehnya yang dipersoalkan hanya belis, bukan kemewahan pesta yang mengelilinginya.

Ini adalah kekeliruan yang diwariskan, melihat belis sebagai beban, tanpa melihat siapa dan apa yang sesungguhnya menciptakan beban itu.

Warisan dan Penghargaan

Belis telah tumbuh jauh sebelum perdebatan tentangnya dimulai. 

Kritik dari luar bukan hal yang harus ditolak sepenuhnya. Ia bisa menjadi ide lain yang membantu melihat bagian dari tradisi ini yang perlu dirawat agar menjadi lebih baik. 

Namun, kritik itu hanya bermakna jika ia lahir dari pemahaman yang jujur, bukan dari tafsir yang berhenti pada permukaan.

Belis bukan soal harga. Ia adalah soal penghargaan. 

Selama perbedaan itu belum dipahami, perdebatan tentang belis akan terus berlangsung di luar panggung, jauh dari tempat di mana makna yang sesungguhnya masih hidup dan dijaga.

Gregorius Nggadung adalah alumnus Pascasarjana Universitas Nusa Cendana, Kupang

Editor: Ryan Dagur

DUKUNG KAMI

Terima kasih telah membaca artikel kami.

Floresa adalah media independen. Setiap laporan kami lahir dari kerja keras rekan-rekan reporter dan editor yang terus berupaya merawat komitmen agar jurnalisme melayani kepentingan publik.

Kami menggalang dukungan publik, bagian dari cara untuk terus bertahan dan menjaga independensi.

Cara salurkan bantuan bisa dicek pada tautan ini: https://floresa.co/dukung-kami

Terima kasih untuk kawan-kawan yang telah mendukung kami.

Gabung juga di Grup WhatsApp pembaca kami dengan klik di sini atau di Channel WhatsApp dengan klik di sini.

ARTIKEL PERPEKTIF LAINNYA

TRENDING