Misteri Kematian Vian Ruma, Pemuda Aktivis di Nagekeo; Keluarga dan Masyarakat Desak Polisi Usut Tuntas

Pemuda berusia 30 tahun itu aktif di organisasi Orang Muda Katolik dan Koalisi Kelompok Orang Muda untuk Perubahan Iklim

Floresa.co – Rudolfus Oktafianus Ruma, seorang pemuda yang dikenal sebagai aktivis gereja dan lingkungan di Kabupaten Nagekeo, NTT tewas di sebuah gubuk bambu.

Jasad pemuda yang disapa Vian itu ditemukan terikat tali dengan posisi menggantung di gubuk dekat Pantai Sikusama, Desa Tonggo, Kecamatan Nangaroro pada 5 September.

Namun, kakinya yang masih menempel di lantai gubuk memicu kecurigaan keluarga bahwa ia diduga dibunuh, bukan bunuh diri.

“Jika benar gantung diri, kakinya mestinya berada dalam posisi tergantung dan tidak menyentuh lantai,” kata Rikardus Ndusa, salah satu adik kandung Vian kepada Floresa.

Foto-foto yang beredar di media sosial memperlihatkan kondisi jasad Vian yang sudah membengkak. 

Di lokasi kejadian ditemukan sebuah tas hitam, telepon genggam, serta helm hitam. Di luar gubuk, terparkir sebuah sepeda motor Honda CRF miliknya.

Vian yang berusia 30 tahun dikenal sebagai seorang guru Matematika dan hampir enam tahun mengabdi di SMP Negeri 1 Nangaroro, Kabupaten Nagekeo. Ia juga telah lolos seleksi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja dan masih ditempatkan di sekolah itu.

Di luar pekerjaannya sebagai pendidik, Vian juga aktif dalam kegiatan sosial-keagamaan. 

Ia dipercaya menjadi Ketua Orang Muda Katolik (OMK) di Stasi Ngera, Paroki Hati Kudus Yesus Maunori.

Jemy Piru, juga adik kandungnya, berkata kepada Floresa pada 8 September, Vian sempat meminta izin ke SMP Negeri I Nangaroro pada 2 September untuk menghadiri Mbay Youth Day di Paroki Hati Kudus Yesus Maunori. 

Acara yang diselenggarakan pada 3-7 September itu merupakan pertemuan akbar OMK di Kevikepan Nagekeo, Keuskupan Agung Ende.

“Semua guru dan siswa di Nangaroro mengira almarhum sedang berada di Maunori mengikuti kegiatan OMK,” kata Jemy.

“Sementara itu, pengurus OMK Maunori justru menduga almarhum masih berada di sekolah atau tengah sibuk dengan urusan mengajar,” tambahnya.

Yasintus Korsino Dhedhu, salah satu teman Vian mengaku sempat berpapasan dengan korban di halaman SMP Negeri 1 Nangaroro pada 1 September. 

Kala itu, kata dia, Vian hendak pulang ke kampungnya di Wio, Desa Ngera, Kecamatan Keo Tengah usai mendapat izin dari kepala sekolahnya untuk mengikuti kegiatan Mbay Youth Day.

“Sepertinya sore itu dia pulang kampung dan langsung tidak ada kontak lagi,” katanya kepada Floresa pada 7 September. 

Selain itu, informasi yang diterima Floresa dari seorang muridnya, sebelum menuju lokasi acara pada 2 September, Vian sempat singgah di rumah seorang rekan guru perempuan yang sedang sakit. 

Ia memberi tahu rekannya itu bahwa ia akan melanjutkan perjalanan ke Maunori karena acara Mbay Youth Day dimulai keesokan harinya. Vian mendapat tugas sebagai pemandu atau MC pada acara pembukaan. 

Lokasi penemuan jasadnya di Desa Tonggo berada pada jalur yang seharusnya ia lewati menuju Maunori. 

Rikardus Ndusa berkata, jasad kakaknya ditemukan oleh seorang sopir pikap yang sedang mampir di dekat lokasi kejadian untuk makan. 

Saat turun dari mobil, sopir itu mencium bau busuk, lalu menemukan Vian dalam keadaan tergantung, katanya. 

Rikardus menambahkan, sopir tersebut kemudian berlari mencari bantuan ke kampung terdekat. 

Ia sempat mendatangi rumah Ketua RT setempat. Karena Ketua RT tidak ada, laporan disampaikan melalui seorang ibu di rumah tetangga. Ibu itu langsung menghubungi polisi yang kemudian mendatangi lokasi.

Rikardus berkata, sebelum aparat tiba, sempat beredar foto jenazah almarhum di media sosial. 

“Kami tidak tahu siapa yang pertama kali mengambil foto itu. Seandainya informasi (dari sopir pikap) langsung disampaikan kepada aparat, mungkin penanganannya bisa lebih cepat,” ujarnya.

Jenazah Vian dimakamkan pada 6 September sore.

Rikardus menjelaskan, pihak keluarga menilai kematian Vian tidak bisa langsung dihubungkan dengan “kasus bunuh diri.”  Karena itu, mereka telah menempuh jalur hukum dengan membuat laporan resmi ke polisi.

“Kami mohon kepada aparat keamanan, baik Polsek, Polres, hingga Polda NTT menelusuri kasus ini lebih dalam lagi. Jangan biarkan terlalu lama, supaya kami keluarga bisa mengetahui kebenarannya,” katanya.

Orang Muda Katolik (OMK) Kevikepan Mbay mendukung upaya keluarga dengan membuat petisi daring ​​yang mendesak Polres Nagekeo mengungkap pemicu kematiannya.

Dalam petisi via situs Petisionline.com itu, mereka meminta polisi menangani kasus ini “dengan serius, transparan, dan profesional.”

Selain itu, petisi itu juga mendesak polisi “membuka hasil penyelidikan kepada publik agar tidak menimbulkan spekulasi yang berlarut-larut dan menjamin keadilan bagi keluarga korban dengan menindak tegas siapapun yang terbukti terlibat.”

Hingga 8 September sore, petisi itu telah diteken lebih dari 800 orang.

Advokasi Isu Lingkungan

Selain aktif di lingkungan gereja, Vian juga aktif di organisasi lingkungan, Koalisi Kelompok Orang Muda untuk Perubahan Iklim atau Koalisi KOPI. Ia menjadi salah seorang pengurus Komite Eksekutif Daerah (KED) Nagekeo untuk Koalisi KOPI.

Sejumlah pihak mengaitkan kasus kematian Vian dengan aktivitasnya di Koalisi KOPI.

Namun, Eda Tukan, Ketua Eksekutif Flobamoratas Koalisi KOPI — yang mencakup wilayah NTT — memilih tak segera menyimpulkan hal itu.

“Kami memang sudah berdiskusi dalam lingkar belajar, memperdalam isu-isu ekstraktif, termasuk geotermal. Tapi sebagai organisasi, kami belum pernah melakukan aksi atau pernyataan resmi terkait isu itu,” katanya.

Meski begitu, Eda menegaskan bahwa Koalisi KOPI tetap memandang serius kematian Vian sehingga mendukung langkah keluarga menuntut penyelidikan, termasuk lewat petisi. 

“Kami butuh tahu mengapa teman kami meninggal dengan cara itu. Petisi itu kami dukung dan sebarkan sebagai bentuk solidaritas. Kami juga sedang merencanakan untuk bertemu keluarga sebagai wujud dukungan langsung,” tambahnya.

Yurgen Nubatonis, Pembina Koalisi KOPI Nagekeo berkata kepada Floresa, organisasinya baru saja menyelesaikan pertemuan Jambore Gotong Royong untuk Flobamoratas di Alor pada April 2025 dan pertemuan strategis pada Juni 2025.”

Dalam dua pertemuan ini, kata dia, Koalisi KOPI sepakat mengangkat isu geotermal sebagai salah satu agenda advokasi. 

Vian hadir di pertemuan strategis mewakili KED Nagekeo, dan “memang sangat fokus mendorong isu tersebut,” kata Yurgen. 

Ia juga mengakui peran Vian di lingkungan OMK dalam advokasi isu geotermal.

“Ada aksi besar yang dilakukan OMK Kevikepan Nagekeo pada 5 Juni 2025, tetapi Vian tidak ikut karena saat itu sedang berada di Kupang mengikuti pertemuan strategis Koalisi KOPI,” jelasnya.

Aksi itu melibatkan umat Katolik dari 20 paroki yang tergabung dalam Forum Peduli Lingkungan Hidup Kevikepan Mbay.

Sejauh ini, belum ada proyek geotermal yang dikerjakan di Nagekeo, namun pihak Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral telah sempat melakukan survei di tiga titik.

Penolakan umat di Kevikepan Mbay menindaklanjuti sikap Uskup Agung Ende, Mgr. Paulus Budi Kleden, SVD yang pada Januari tahun ini menyatakan penolakan tegas terhadap semua proyek di wilayahnya.

Yurgen menyatakan masih mendalami kemungkinan adanya kaitan antara kematian Vian dengan isu geotermal, “tetapi kami yakin kematiannya bukan murni bunuh diri.”

“Dari informasi yang kami kumpulkan, tidak ada petunjuk yang mengarah ke sana,” tambah Yurgen.

Floresa menghubungi Kasat Reskrim Polres Nagekeo, Iptu Leonardo Marpaung pada 8 September soal perkembangan penanganan kasus ini.

Namun, ia berkata “belum bisa menjawab” dan mengarahkan untuk menghubungi Kapolres Nagekeo, AKBP Rachmat Muchamad Salihi.

Rachmat belum merespons pertanyaan Floresa hingga laporan ini dipublikasi.

Editor: Herry Kabut

Dukung kami untuk terus melayani kepentingan publik, sambil tetap mempertahankan independensi. Klik di sini untuk salurkan dukungan!
Atau pindai kode QR di samping

BACA JUGA