Floresa.co – Hampir dua bulan setelah jenazah Restina Tija ditemukan di tepi Sungai Wae Mese, Kecamatan Satarmese Barat, keluarganya masih menunggu kejelasan penyelidikan oleh Polres Manggarai.
Mereka menduga ia dibunuh karena ada pisau di dekat lokasi penemuan jasadnya.
Sejumlah kerabat Resti pun mendatangi Polres Manggarai pada 7 November untuk meminta penjelasan perkembangan hasil penyelidikan.
Mereka menemui Kapolres AKBP Hendri Syaputra dan melakukan pertemuan tertutup. Seluruh ponsel mereka dilarang dibawa masuk ruangan.
Pantauan Floresa, setelah satu jam berlalu, mereka keluar dari ruangan.
Kampianus Raru, suami Resti, bersama dua kerabatnya lalu menuju ruang Satreskrim untuk dimintai keterangan.
Kampianus berkata, selama pertemuan, mereka meminta Kapolres agar autopsi terhadap jenazah istrinya secepatnya dilakukan.
“Kami menyampaikan itu karena keluarga sudah menunggu dua bulan hasil penyelidikan dari polisi, tapi belum ada titik terang,” katanya.
Ia menjelaskan, kuburan istrinya kini mulai tergenang air karena belum ditutup dengan semen.
“Kami hanya ingin kepastian dulu hasil autopsi, baru kuburannya kami perbaiki,” katanya.
Selain mendesak autopsi, kata dia, keluarga juga melaporkan temuan baru terkait kasus tersebut.
“Ada orang yang datang ke rumah sepupu saya, Margaretha Manga pada pukul tiga dini hari pada 18 Oktober. Dia mengetuk pintu rumah dengan keras. Kami curiga peristiwa ini ada kaitannya dengan kematian Resti,” katanya.
Kampianus berharap polisi segera memeriksa sejumlah saksi di sekitar rumah mereka.
“Kami ingin tetangga-tetangga juga dimintai keterangan. Siapa tahu mereka tahu sesuatu soal kematian Resti,” katanya.
Kapolres, kata dia, berjanji akan menindaklanjuti permintaan tersebut dalam waktu dekat.
“Ia juga berencana mendatangi langsung rumah kami untuk memastikan proses penyelidikan berjalan lancar,” tambahnya.
Konstantinus Damar, ayah Resti berkata “saya hanya ingin jenazah anak saya cepat diautopsi, supaya kami tahu apa yang sebenarnya terjadi padanya.”
“Kami tidak bisa tenang kalau terus begini,” katanya.
“Saya ingin dia dimakamkan dengan baik setelah semuanya jelas,” tambahnya.
Kapolres Hendri mengklaim, dalam pertemuan itu, ia menyampaikan perkembangan penyelidikan dan membahas rencana jadwal pelaksanaan autopsi.
“Kami sedang berkoordinasi dengan para pihak untuk menentukan hari yang tepat pelaksanaan autopsi,” katanya.
Pihaknya dan keluarga korban, kata dia, saling mendukung agar proses penyelidikan berjalan cepat dan segera mengungkap penyebab kematian Resti.
Jasad Resti ditemukan pada 18 September.
Saat ditemukan, kepalanya terpisah sekitar 1,5 meter dari tubuhnya.
Kampianus yang merantau ke Papua dan kembali ke kampungnya di Desa Buar, Kecamatan Rahong Utara usai mendengar kematian Resti berkata, mereka terakhir kali berkomunikasi pada 27 Agustus melalui panggilan video.
“Dia bersama anak-anak dan tampak sehat, tidak ada tanda-tanda masalah,” katanya.
Sehari kemudian, Kampianus yang merantau sejak 2023 mengirim uang Rp1.050.000 kepada Resti.
Namun sejak saat itu, pesan WhatsApp-nya hanya centang satu.
Polisi memeriksa Kampianus bersama beberapa kerabat pada 24 September.
Penyidik, kata dia, menjelaskan kondisi jasad Resti ketika ditemukan.
“Mereka bilang jasad Resti sudah dalam keadaan membusuk, dengan perut terbelah dan organ tubuh di bagian dalam hilang semua,” katanya.
“Polisi juga sempat memperlihatkan kepada kami sebilah pisau yang ditemukan di lokasi,” lanjutnya.
Kampianus menduga istrinya menjadi korban pembunuhan, apalagi ponsel milik Resti tidak ditemukan di tempat kejadian.
“Saya berharap polisi bisa mengusut tuntas kasus ini,” katanya.
Editor: Ryan Dagur




